Studi Akademik ke Sekolah Tinggi Agama Buddha STAB Kertarajasa

stab-kertarajasa-saa-studi-agama-agama-unida gontor

Studi Akademik ke Sekolah Tinggi Agama Buddha STAB Kertarajasa

Batu–  Suatu kesempatan yang berharga bagi Mahasiswa Fakultas Ushuluddin khususnya Program Studi (Prodi) Ilmu Quran dan Tafsir (IQT) dan Studi Agama-agama (SAA) untuk mengunjungi Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa,  (Rabu, 4/9). STAB ini Bertempat di Daerah Mojorejo, Malang, Jawa Timur Indonesia. Kunjungan ini dilaksanakan dalam rangka Studi Akademik (SA) yang diadakan oleh Mahasiswa IQT dan SAA semester 3 pada Hari Senin sampai dengan Hari Rabu, 2-4 September 2019.

Studi Akademik  ini bertujuan untuk mengetahui lebih dalam tentang Asal-usul dan seluk beluk ajaran Buddha. Ramahnya Bhante, Samanera (Mahasiswa) dan Atasilani (Mahasiswi) dalam penyambutan peserta Studi Akademik, memberi kesan yang sangat istimewa bagi kami.

Acara diawali dengan sambutan dari UNIDA Gontor, Al-Ustadz Sufratman, M.Ag selaku dosen pembimbing.  Beliau menyampaikan salam dari Bapak Pimpinan Pondok Modern Gontor, Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Dekan Fakultas Ushuluddin serta Kaprodi IQT dan SAA. Acara kemudian dilanjutkan dengan dialog yang dibawakan oleh Bhante Yogaseno Herman, S.Pd.B mewakili STAB Kertarajasa.

“Di Buddha tidak ada yang namanya rahasia”. Begitu Bhante Yogaseno memulai ceramahnya. Bhante Yogaseno menekankan pentingnya diskusi ini berjalan dengan kritis dan terbuka. Artinya, Pihak STAB bersedia untuk menyampaikan segala ilmu pengetahuan terkait dengan Buddhisme kepada mahasiswa peserta SA. Bhante Yogaseno memaparkan pertama kali tentang aliran Theravada yang menjadi aliran Buddhisme yang menyebar luas ke arah Asia Selatan termasuk Indonesia. STAB Kertarajasa pun mengikuti aliran Theravada ini. Sebagai aliran yang kaku (ortodoks) Theravada mengikuti perkembangan zaman hingga menjadi lebih fleksibel dari sebelumnya.

Sejarah Singkat Ajaran Buddha

Sesuai dengan penjelasan Bhante Yogaseno, Istilah Buddha adalah sebutan bagi manusia yang telah mencapai tahapan tertinggi. Ia terbagi menjadi tiga jenis; Samma Sambuddha, Pacekkha Buddha, dan Savaka Buddha. Sang Budha juga merupakan figur yang aslinya bernama Siddharta Gautama. Lahir di Kerajaan Kapilawastu, Siddharta merupakan bagian dari keluarga kerajaan  yang akan meneruskan tahta. Sebelum kelahirannya sang bunda bermimpi aneh sebanyak tujuh kali yang memaksanya untuk memanggil para peramal mimpi. Sebagian besar peramal menafsirkan bahwa sang Gautama kelak akan menjadi Buddha, bukan sebagai penerus tahta kerajaan.

Bhante Yogaseno juga menjelaskan, bahwa ketika ia beranjak dewasa, Siddharta berjalan berkeliling. Dalam perjalannya, ia melihat orang tua, orang sakit, dan orang yang meninggal dunia. Fenomena itulah yang membuatnya kemudian memutuskan untuk meninggalkan semua perhiasan dunia. Siddharta kemudian memilih menjadi Buddhadengan pertapa demi mencapai puncak kebahagiaan.

Bhante Yogaseno juga memaparkan tentang praktik Dhamma (patpatti) yang tersusun dari; Dana, Moralitas, Meditasi, dan kebijaksanaan. Acara dialog kemudian diikuti dengan berkeliling sekitar Vihara Dhammadipa Arama dan Pagoda yang terbangun megah di dalam STAB. (Rizvan Falah Kamil)

stab-kertarajasa-saa-studi-agama-agama-unida gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *