Studium Generale di Erasmus Huis: Identifikasi atas Tantangan Muslim Indonesia

Prof. Dr. Nico Kaptein-LEiden University
Prof. Dr. Nico Kaptein-Leiden University

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor, Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A. turut hadir sebagai peserta dalam Studium Generale yang diadakan oleh Erasmus Huis, Kedutaan Besar Belanda untuk Indonesia (Rabu, 26/06/2019). Studium General bertajuk The Study of Islam: Indonesian and European Perspective ini mengundang sejumlah tokoh penting sebagai pembicara. Di antaranya adalah Prof. Dr. Nico Kaptein, Professor bidang Islam Asia Tenggara di Leiden University. Senentara pembicara dari Indonesia adalah Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin selaku Staff Khusus Kepresidenan dalam Bidang Isu Keagamaan Internasional, dan Dr. Amelia Fauzia, Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Acara ini berlangsung dari pukul 9 pagi hingga 12 siang dengan berbahasa Inggris.

Di antara subjek penting yang dibincangkan adalah konservatisme dan radikalisme dalam agama. Pertama, Islam, disepakati telah menjadi ‘korban’ secara tidak langsung dari kegiatan radikalisme itu sendiri. Problemnya memang tidak berada di dalam tubuh Islam namun justru muncul  daeri konservatisme dan radikalisme yang sering menyalahgunakan Islam sebagai metode dalam melancarkan gerakan-gerakannya.

Dosen Prodi SAA Fakultas Ushuludin UNIDA Gontor, Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA. bersama Ibu Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Staff Khusus Kepresidenan Bidang Isu Keagamaan Internasional berphoto usai Stadium Generale
Dosen Prodi SAA Fakultas Ushuludin UNIDA Gontor, Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA. bersama Ibu Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin, Staff Khusus Kepresidenan Bidang Isu Keagamaan Internasional berphoto usai Stadium Generale

Kedua, radikalisme dan konservatisme disepakati sebagai sebuah ideologi asing yang memecah-belah persatuan bangsa Indonesia. Sejarah Islamisasi Nusantara melalu metode dakwah yang unik telah memberikan corak kekhasan tersendiri sebagai identitas  masyarakat Muslim Indonesia. Corak tersebut ‘unik’ hadir tanpa menghilangkan esensi-esensi fundamental dalam aspek teologisnya. Prof Nico pun menghimbau kepada hadirin untuk menekankan aspek tradisionalisme Islam yang sudah dan tengah dimiliki oleh mayoritas Muslim Indonesia sebagai model identitas kebangsaan.

Upaya Solutif: Teruslah Bersuara

Di akhir sesi, Dr. Siti Ruhaini Dzuhayatin menekankan pentingnya kita masyarakat umum untuk terus menyuarakan kebenaran. Dalam arti, baik audiens yang hadir di Erasmus Huis atau siapapun perlu untuk terus mengingatkan satu sama lain akan ‘musuh yang sama’ (common enemy) dari Bangsa Indonesia saat ini yaitu radikalisme dan konservatisme. Menurut alumni Monash University ini, hal demikian telah menjadi perhatian Bapak Presiden Ir. Joko Widodo cukup lama dan merupakan pekerjaan rumah bangsa yang sangat besar. Tantangan ini, tentu saja tidak bisa dituntaskan secara maksimal kecuali dengan kontribusi positif dari tiap personil warga Indonesia terutama Muslim dalam menampilkan kondisi keagamaan yang humanis dan toleran. Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia pun,  diharapkan mampu ditunjukkan dalam rupa yang jauh dari kekerasan yang seringkali dikesankan secara keliru oleh media Barat. (RM)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *