Tafsir al-Maraghi: Tafsir al-Qur’an Kontemporer

tafsir kontemporer al-Maraghi

Tafsir al-Maraghi: Tafsir al-Qur’an Kontemporer

Oleh: Tonny Ilham Prayogo, M.Ag

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Judul Buku            : Tafsir al-Maraghi

Pengarang             : Ahmad Musthofa al-Maraghi

Penerbit                 : Darul al-Kutub Beirut, Lebanon

Cetakan                 : Pertama

Tahun                    : 1365 H/1946 M

Hal                        : 4576 hal., 30 Jilid

 

Pengantar

Persoalan umat manusia senantiasa mengalami perkembangan dari masa ke masa secara sangat pesat. Implikasinya kemudian, ada banyak sekali hal-hal yang tidak pernah ada di zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam bermunculan. Isu Pluralisme, eco-theology, modernisasi, dan lain sebagainya sebagaimana misalnya. Di sinilah, ‘kontemporer’ sebagai kata sifat yang mendampingi Tafsir al-Maraghi sangat tepat disandingkan karena al-Maraghi sangat memperhatikan pentingnya ijtihad dalam memaknai ayat. Meskipun demikian, murid dari Muhammad Abduh ini tidak mengaburkan makna harfiah al-Qur’an. Oleh karena itu, sebagai sebuah karya tafsir yang lahir di abad ke-20, Tafsir al-Maraghi sangatlah tepat untuk digunakan sebagai kaca perbandingan guna melihat realitas manusia kekinian berdasarkan realitas objektif kitab-kitab tafsir sebelumnya yang telah ada.[1]

Kontemporari Tafsir al-Maraghi

Secara umum, paling tidak ada empat model penafsiran al-Qur’an yang dikenal. Metode tersebut adalah: tahliliy,ijmaliy, muqarin, dan maudhu’i.[2] Menariknya, Ahmad Musthofa al-Maraghi menuliskan karyanya dengan corak berwarna dan tidak ‘melulu’ bersandarkan satu model demikian saja. Sebagai sebuah Tafsir yang kontemporer, Tafsir al-Maraghi bisa dilihat sebagai Tafsir bi al-ra’y, karena dalam penafsirannya selalu diiringi dengan interpretasi akal atau ijtihad. Di lain sisi, al-Maraghi juga menggunakan keberadaan ayat-ayat lain dan hadist Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wa sallam dalam tafsirnya, sebagaimana Tafsir bi al-ma’tsur biasa dikenali.

Selain itu, tafsir al-Maraghi mengandung corak Tasawuf. Karena di dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an terdapat pengkhususan pembahasan pada tasawuf. Menurut Manna’ Khalil al-Qaththan tafsir corak ini merupakan corak penafsiran yang berlandaskan kepada perilaku ritual para sufi untuk menjernihkan jiwa dan menjauhkan diri dari kemegahan dunia melalui zuhud, khalwat, dan taqassuf (kesederhanaan dan memperbanyak ibadah)[3].

Sehingga al-Maraghi dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an tidak hanya menggunakan satu corak yang spesifik secara mutlak, misalkan bercorak tasawuf saja, bercorak lughawi saja, adabi al-Ijtima’y, falsify saja atau yang lainnya. Secara garis besar corak penafsiran Musthafa al-Maraghi lebih cenderung kepada yang bercorak Adabi Ijtima’y, hal tersebut terlihat jelas karena di dalam tafsirnya al-Maraghi sering menjelaskan masalah yang berlaku dalam masyarakat.

Lihat juga: KH Maimun Zubair dalam Memori: Mengenal al-‘Ulama al-Mujaddiduun

Dalam pengantar kitabnya, al-Maraghi mengungkapkan metode-metode yang digunakan dalam kitab tafsirnya, yakni:

1)      Menyampaikan ayat-ayat di awal pembahasan, memulai dengan satu, dua atau lebih ayat-ayat al-Qur’an yang disusun sedemikian rupa sehingga memberikan pengertian yang menyatu[4].

2)     Menjelaskan ‘kosa kata’ (syarh al-mufrodat), Penjelasan kata-kata secara bahasa, jika memang terdapat kata-kata yang dianggap sulit dipahami oleh para pembaca.

3)     Menjelaskan pengertian ayat secara global (ijmaliy), dengan tujuan memberikan pengertian ayat-ayat di atasnya secara global. Hal ini dengan maksud, para pembaca terlebih dahulu mengetahui ayat-ayat tersebut secara umum sebelum memasuki pengertian tafsir yang menjadi topik utama [5].

4)     Menyertakan pembahasan asbabun-nuzul jika terdapat riwayat shahih dari hadits yang menjadi pegangan para mufassir.

5)     Mengesampingkan istilah-istilah yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, seperti ilmu Shorof, Nahwu, Balaghah, dan lain sebagainya.[6].

Guna memasuki gaya bahasa yang mudah dicerna oleh pembaca, menurut al-Maraghi, setiap orang harus diajak bicara sesuai dengan kemampuan akal mereka[7]. Oleh karena itulah, dalam menyusun kitab tafsir ini, al-Maraghi tetap merujuk kepada pendapat-pendapat mufasir terdahulu sebagai penghargaan atas upaya yang pernah mereka lakukan. Al-Maraghi mencoba menunjukkan kaitan ayat-ayat al-Qur’an dengan pemikiran ilmu pengetahuan lain.[8] Inilah yang juga menjadikan pembahasan tafsir al-Maraghi juga disertai dengan ilmu pengetahuan (sains) yang dapat mendukung pemahaman isi al-Qur’an.

Kesimpulan

Sebagai tafsir al-Qur’an kontemporer, Tafsir al-Maraghi memberikan kemudahan dalam memahami al-Qur’an bagi masyarakat dengan sistematis, gaya bahasa yang mudah dipahami, dan masalah-masalah yang dibahas benar-benar didukung dengan hujjah, bukti-bukti nyata serta berbagai percobaan yang diperlukan. Al-Maraghi menafsirkan al-Qur’an ini sesuai dengan Tartibul mushaf yaitu menafsirkan ayat dari surat al-Fatihah sampai surat an-Nass, dalam penafsiran al-Maraghi menggunakan metode tahlili (analisis),  pendekatan naqli dan aqli, serta memiliki banyak sumber rujukan yang digunakan dalam penafsiran yang lebih cenderung terhadap tafsir lughawi/adabi.

Meskipun demikian, tafsir al-Maraghi muncul karena banyaknya problema yang membuat Musthafa al-Maraghi tergugah untuk memecahkan masalah dengan alternatif yang mudah untuk dipahami. Kontemporari Tafsir al-Qur’an al-Maraghi, lagi-lagi terbuktikan dengan hadirnya kontekstualisasi tafsir berdasarkan situasi yang tengah dihadapi al-Maraghi. Wallahu A’lam bisshawab. 

DOWNLOAD Tafsir al-Maraghi

 

 Referensi

[1] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, (Beirut: Darul al-Kutub), Juz 1, 3

[2] Lihat misalnya, Musaa’id Muslim Aalii Ja’far, Manahij al-Mufassirun, (Daar Marefa: 1980); Fadhl Hasan ‘Abbas, al-Tafsiir wa al-Mufassiruun, (Amman: Dar an-Nafaes, 2015).

[3] Manna’ Khalil al-Qaththan, Mubahits fi Ulum al-Qur’an, terj. Mudzakkir AS., (Jakarta: Litera AntarNusa, 2001), 456

[4] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi..., jilid 1, 16

[5] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi…, jilid 1, 17

[6] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi…, jilid 1, 18

[7] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi…, jilid 1, 19

[8] Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi…, jilid 1, 18

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *