Tahta Sitou Timou Tumou Tou: Gereja Katolik Katedral Hati Tersuci Maria

katedral

Tahta Sitou Timou Tumou Tou: Gereja Katolik Katedral Hati Tersuci Maria

Usai berkunjung ke Synagogue Shaar HaShamayim , Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor bertolak menuju Gereja Katolik Katedral Hati Tersuci Maria. (25/08). Pusat komunitas Umat Katolik ini berlokasi di Jalan Sam Ratulangi 55-A, Manado. Kunjungan akademik ini berlangsung mulai pukul 11 siang waktu setempat dengan tema ‘Konsep Ajaran dan Kepercayaan Umat Katolik’. 

Dalam sambutannya, Kaprodi SAA, al-Ustadz Asep Awaludin, M.Ag menyampaikan salam dari Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz Syamsyul Hadi Untung, M.A., M.Ls. Bapak Kaprodi sekaligus menyatakan tujuan kunjungan ini sebagai sebuah dialog akademik. Terutama guna pengetahuan tentang Gereja ini sesuai dengan apa yang telah dipelajari di kelas. Pastur Agus Siramun, Pemuka Agama Katedral menyambut niatan belajar ini dengan hangat.

Pastur Agus Siramun menyampaikan bagaimana ‘Katedral’ sebagai tempat ibadah umat Katolik diderivasi dari  bahasa Yunani ‘Catedra’ yang berarti ‘Tahta’. Mengacu pada tahta keuskupan Agung Paus sebagai Pemimpin tertinggi dalam agama Katolik. Keuskupan bertingkat-tingkat ke bawah kepada Pastur di gereja katolik  tiap-tiap daerah. Di Manado, jumlah umat Katolik  sampai saat ini sudah mencapai 21.000 pengikut.

Sitou Timou Tumou Tou sebagai Filosofi Hubungan antar Umat Beragama di Manado

Secara struktural, pemerintah Manado membentuk Badan Kerjasama antar Umat Beragama (BKAUB) Pada tahun 70-an. BKAUB bertanggungjawab dalam relasi antar umat beragama dari daerah tertinggi sampai terendah, sedangkan  Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang dibentuk pada tahun 1986 bertanggungjawab atas kehidupan dan relasi antar umat beragama sampai daerah tingkat 2 atau kota Manado saja. Berbekal dua organisasi ini,  kota Manado adalah  kota dengan sikap toleransi tertinggi di Indonesia.

Menurut Pastur Agus, toleransi yang tinggi dalam hubungan antar agama itu juga dilandasi secara filosofis dengan kalimat “Sitou Timou Tumou Tou.” Artinya kurang lebih, “orang hidup (dengan tujuan) untuk menghidupi orang lain tanpa batas apapun”. Pastur Agus juga menyampaikan bahwa semua manusia memiliki tujuan yang sama namun ditempuh dengan cara yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut lahir tidak lain karena manusia itu sendirilah yang menciptakan perbedaan itu. Sitou Timou Tumou Tou, jadinya, adalah basis toleransi beragama Umat Kristiani berdasarkan Tahta Singgasana Paus. Dengan sandaran itulah, Umat Katolik Manado ingin menghalangi problem intoleransi umat Manusia.

Acara diakhir dengan penyerahan kenang-kenangan dan photo bersama sivitas akademika Prodi SAA, umat Gereja Katolik Katedral Hati Tersuci Maria, dan IKPM Manado (Farah/Ainun/Riza)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *