Tauhid dan Ilmu: Relasi dan Implikasi

Seminar-ilmu-dan-tauhid-kampus5-kandangan

Kandangan-Jum’at (29/11) Dewan Mahasiswa (DEMA) Mahasiswi UNIDA Kampus 5 Kandangan, mengadakan seminar terbuka yang bertemakan ‘Tauhid dan Ilmu: Relasi dan Implikasi. Acara yang dilaksanakan di Auditorium utama Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 5 ini mengundang Al-Ustadz Anton Ismunanto, S.Pd.I, M.Pd. sebagai pembicara. Acara yang digelar untuk Mahasiswi Kampus 5 Kandangan ini juga turut dihadiri oleh sejumlah mahasiswi dari STAIN Hassanudin Pare.

Dalam sambutannya, Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz Syamsyul Hadi Untung, M.A., M.Ls menyampaikan, bawa Tauhid, memang sangat urgen dalam pembentukan ilmu pengetahuan yang dikecap oleh mahasiswi. “Apapun Ilmunya jika disandarkan dengan Tauhid maka Insyaallah kalian akan menjadi Ilmuan Muslim Haqiqi” Tegas Bapak Dekan.

Al-Ustadz Anton Ismunanto mengawali diskusinya dengan memaparkan penjabaran terkait “Tauhid as Basic of Life” . Secara umum, alumni Program Kaderisasi Ulama (PKU) Gontor angkatan VII ini menyampaikan bahwasanya atahuis senantiasa menjadi standar keilmuan. Dalam Islam sendiri, Realitas yang paling tinggi terletak pada dzat Allah Yang Maha Esa.

Tingkatan Realitas dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut: Intelektual, Imajinasi, Inderawi, Objektif, Analogis, dan Suprarasional. Dalam Islam, kita meniscayakan adanya relasi antara ilmu-ilmu keislaman, worldview, dan basic belief, semua didasarkan atas Tauhid. Sementara dalam pandangan hidup Barat, mereka mengamini ilmu sekuler, basic belief sekuler, dan worldview yang juga sekulertanpa ada ikatan Tuhan. Berbicara tentang ketauhidan, pun tak lepas dengan kalimat syahadat yang menjadi pondasi dasar dalam rukun islam setiap muslim. Problemnya adalah jika syahadat hanya terlisankan saja tanpa mampu mengafirmasi pandangan hidupnya sebagai seorang Muslim.

BACA JUGA :Religiousitas Sains: Sinergi Ilmu dengan Agama berlandaskan Tauhid (Review Buku)

Al-Ustadz Syamsyul Hadi Untung, M.A., M.Ls., Dekan Fakultas Ushuluddin memberikan cinderamata kepada al-Ustadz Anton Ismunanto, S.Pd.I., M.Pd.

Kader Mu’allimin Yogyakarta ini juga menyinggung tentang hubungan iman dan ilmu bagaikan pohon dan akar. Pohon tidak akan menghasilkan daun dan buah yang baik kecuali dari akar yang baik pula, sebagaimana juga keimanan seseorang juga bedasarkan ilmu yang dimilikinya.

Kedua hal tersebut (iman dan ilmu) tidak bisa dilepaskan kehadirannya dari Akal, yang berfungsi sebagai ‘ikatan’ manusia terhadap Allah Yang Maha Esa. Manusia yang hidup tanpa menggunakan akal bagaikan hewan ternak yang sesat (Kal-an’aam bal hum adhall). Di akhir, beliau menekankan agar kita selalu berpegang teguh terhadap tauhid agar benar-benar menjadi pondasi kehidupan kita. (khoffifa Assakhyyu)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *