Tawarkan Solusi Penistaan Agama di Indonesia, Dosen UNIDA Gontor turut menyemarakkan ISRL 2018

Tawarkan Solusi Penistaan Agama di Indonesia,
Dosen UNIDA Gontor turut menyemarakkan ISRL 2018

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya


Yogya-Isu penistaan agama di Indonesia cukup santer terdengar belakangan ini. Sejak tuduhan kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Kepulauan Seribu pada tahun 2016, berbagai laporan terkait penistaan agama bermunculan. Sejak 2010, isu penistaan agama banyak bermunculan dan berasal dari berbagai pemeluk agama. Mulai dari kasus Pendeta Antonius Rechmon Bawengan pada 2010, penistaan seorang wanita Kristen terhadap agama Hindu pada 2013, ucapan salah seorang tokoh Islam terkait kelahiran Yesus Kristus pada 2017, hingga ucapan politikus muslim yang mengatakan bahwa selain Islam, semua agama di Indonesia tidak sesuai dengan sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Awal 2018 juga ditandai dengan pelaporan dua orang comic terkait tuduhan penistaan agama saat sedang stand up comedy.


Berbagai isu tersebut tentu saja merupakan sebuah ujian dan rintangan bagi kemajemukan dan kerukunan agama di Indonesia. Bila dibiarkan, dugaan dan pelecehan serupa dapat memicu kekerasan komunal antar umat beragama. Adapun yang menjadi salah satu penyebab ketidakharmonisan tersebut adalah adanya kecurigaan dan prasangka yang dilabelkan oleh satu pemeluk agama kepada pemeluk agama lainnya. Kecurigaan dan prasangka inilah yang menyebabkan sulitnya terjalin komunikasi dan interaksi yang sehat antar pemeluk agama di Indonesia. Karenanya, Yuangga Kurnia Yahya, dosen Studi
Agama-Agama UNIDA Gontor menawarkan sebuah solusi.


Solusi ini adalah melihat dan mempelajari agama lain dengan kacamata fenomenologi. Dengan demikian, berbagai labeling dan strereotyping terhadap agama lain dapat dihilangkan sebelum berkomunikasi dan berinteraksi langsung dengan pemeluk agama tersebut. Konsep epoche dan eidetic vision yang merupakan inti dari fenomenologi menjadi kunci dalam menjalin keharmonisan antar umat beragama, khususnya di Indonesia.

Hasil penelitian ini didiseminasikan dalam 2 nd International Symposium on Religious Life 2018
(ISRL 2018). Acara ini merupakan dwi tahunan hasil kerjasama Kemenag RI, Badan Litbang Kemenag

RI, dan Indonesian Consortium for Religious Studies Universitas Gadjah Mada (ICRS UGM). Setelah
sukses diadakan di Jakarta pada 2016, kali ini kota Gudeg Yogyakarta berkesempatan menjadi tuan
rumah acara perkumpulan para peneliti agama ini.


ISRL 2018 tersebut diramaikan 150 peserta dari 15 negara. Tema yang diangkat pada kegiatan
yang diadakan pada 6-9 November 2018 ini adalah “Religion in a Divided, Multicultural World: Moderation, Fragmentation, and Radicalization”. Para peneliti, dosen, dan mahasiswa turut serta meramaikan dalam parallel session. Menurut Muharram Marzuki, Kepala Pusat Litbang Kemenag RI, sedikitnya ada 276 abstrak yang masuk ke panitia. Setelah melalui seleksi yang cukup ketat, hanya 65 makalah yang diberi kesempatan untuk dipresentasikan, termasuk satu dari Dosen UNIDA Gontor. “Kecocokan tema, kebaruan isu, dan ketajaman analisis yang menjadi pertimbangan kami dalam menerima abstrak yang masuk” ujarnya.

Selain parallel session, acara ini juga diisi oleh 15 keynote speaker yang berasal dari berbagai negara. Mulai dari Abdurrahman Mas’ud (Indonesia), Jan Figel (UK), Obiora Ike (Swiss), Yo Nonaka (Jepang), Hisanori Kato (Jepang), Mohyudin Hashmi (Pakistan) hingga Mark Woodward (USA). Semua pembicara membawa isu-isu terkini dan hasil penelitian mereka terkait kehidupan beragama di berbagai pelosok dunia.

Dalam pembukaannya, Menteri Agama Lukma Hakim Saifuddin berpesan bahwa acara ini diadakan dalam rangka bersama-sama mewujudkan kualitas peradaban yang lebih baik. “Acara ini berlangsung tepat satu minggu setelah adanya Pemufakatan Yogyakarta. Hasil pemufakatan tersebut adalah nilai keagamaan dan kebudayaan harus didorong melalui transmisi media-media yang ada agar dapat berjalan beriringan. Bukan dipisahkan, apalagi dibentur-benturkan” ujar Menteri yang menjabat
sejak 9 Juni 2014 ini.

“Para akademisi harus mencari solusi dari berbagai permasalahan antar agama dan budaya. Solusi teoritis dan jalan keluar praktis. Karenanya, diharapkan para peneliti, dosen, dan mahasiswa dapat membangun sense of crisis dalam tulisan-tulisan yang mencerahkan”. Ia mengakhiri dengan membacakan quote “A tolerance without liberalism based on religious values are more suitable in world nowadays”.

Streaming Opening (https://www.youtube.com/watch?v=HPfMiJ7KO7E)
Tulisan paper lengkap dapar diunduh di Jurnal Al-Tahrir Vol.18, No.2, 2018
(http://jurnal.iainponorogo.ac.id/index.php/tahrir/article/view/1378)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *