Tembakan Teror di Christchurch Mosque, New Zealand: Benarkah Teroris Hanya Beragama Islam?

Oleh: Ihda Riezma Farhania/SAA 4

KASUS CHRISTCHURCH MOSQUE DAN KONSEPSI TERORISME

PEMBUNUH-Photo Brenton Tarrant, teroris pelaku penembakan menjadi cover salah satu media di New Zealand dengan judul besar: MONSTER. https://moderndiplomacy.eu/2019/03/22/who-is-brenton-tarrant-insight-on-the-new-zealand-attack/

Brenton Tarrant, pemuda separuh baya berkebangsaan Australia melakukan penembakan massal terhadap jemaah masjid di Christchurch, New Zealand. Pembunuhan yang disiarkan langsung via Facebook itu meneror masyarakat dunia global. Aksi terorisme yang berlangsung pada hari Jumat, 15 Maret 2019 di masjid An Nur, wilayah kota Cristcurch, Selandia Baru ini telah mengejutkan banyak pihak, karena selama ini, Selandia Baru dikenal sebagai wilayah yang tercatat aman dan hampir tidak  ada kejadian  terorisme apapun. Kejadian ini menewaskan 49 orang , melukai  sedikitnya 20 orang dan menyisakan trauma terbesar sepanjang sejarah sejak tahun 1943. Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyebut kejadian ini sebagai sejarah pembantaian terkelam di Selandia Baru.   (Serambi News. Com, 16 Maret 2019)

Menurut sebuah sumber, motif pelaku tidaklah lain dari kebencian terhadap imigran khususnya mereka yang beragama Islam. Selain itu, Teroris juga terindikasi ingin membuktikan  bahwa  mereka adalah warga yang berani dan brutal, sehingga masyarakat yang menyaksikan tragedi tersebut akanmerasa takut untuk memasuki wilayah tersebut, bahkan warga yang tinggal pun merasa terancam. (Wartakota. Com, 16 Maret 2019)

Kejadian ini membantah asumsi bahwa terorisme senantiasa identik dengan agama, terutama Islam. Terorisme memang sejatinya merupakan bentuk perlawanan kaum radikalis yang tidak mengenal agama, ras, ataupun kasta. Meskipun begitu, kita harus menyadari bahwa agama, memang banyak dijadikan sebagai simbol gerakan dalam bidang, ekonomi, sosial, politik, maupun budaya, termasuk gerakan brutal seperti terorisme. Menurut Doktor Najib Azca, Peneliti Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, beliau menyatakan bahwa agama  tidak  pernah terletak dalam  ruang lingkup yang vakum dan terisolir, tetapi agama selalu menjadi unsur  praktik dalam kegiatan bermasyarakat.(BBC News Indonesia, 16 Maret 2019).

Faktanya, terorisme tidak memiliki hubungan apapun dengan agama, namun seringkali agama menjadi korban berdasarkan asas demokrasi.(Abdul Muis, 2013, hal 595). Maka sesungguhnya mengherankan jika manusia pada umumnya beranggapan bahwa kejadian yang ada di sekitar masyarakat identik dan dekat dengan budaya agama yang dianutnya, meskipun faktanya, agama tidak mengajarkan  terorisme tersebut.

Masyarakat berkumpul di depan masjid al Noor setelah kembali dibuka pasca penyerangan. 50 orang terbunuh dan belasan lainnya terluka pada hari Jum’at tanggal 15 Maret . http://time.com/5557530/reopening-al-noor-mosque-christchurch-new-zealand/

ISLAMOPHOBIA DAN TERORISME

Sependek bacaan penulis, Terorisme sejauh ini senantiasa dibesar-besarkan dan dikaitkan dengan budaya agama Islam  radikal jika pelakunya adalah seorang muslim, hingga membangkitkan paham Islamophobia. Islamophobia adalah ketakutan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan Islam. Pandangan ini banyak mewabah di daerah Barat, dan beberapa Negara yang mayoritasnya Non muslim sejak paska Perang Dunia kedua. Sebagai contoh, pelarangan pemakaian Burqa’ atau niqab di Eropa, pemeriksaan ketat di tiap tempat umum dan pemberhentian transportasi, serta sesalu dikait-kaitkan dengan terorisme. Islamophobia menjadikan  Agama Islam  seolah-olah adalah Agama perusak yang harus dijauhi dan  ditinggalkan. (Kenan Malik, 2005).

Tetapi sebaliknya jika pelaku bukan dari seorang muslim, maka penanganannya hanya sebatas hukum di negara tersebut. Hal ini menunjukkan adanya motif tersendiri dalam penyebaran virus  Islamophobia yang agaknya perlu diketahui dan ditegaskan bahwa dengan adanya kejadian penembakan di Selandia Baru bukanlah akibat dari kejahatan teroris agama, melainkan aksi brutal sekelompok kaum radikal yang menginginkan perubahan dengan cara kekerasan hingga pertumpahan darah.

 

SUPPORT-Perdana Menteri New Zealand Jacinda Ardern hadir ke komunitas Muslim New Zealand bersama stafnya dengan menggunakan jilbab sebagai bentuk solidaritas kepada para korban. https://www.newstalk.com/news/jacinda-ardern-leads-two-minute-silence-christchurch-shooting-victims-840104

Tidak hanya menunjukkan bahwa fanatisme dan radikalisme tidak selalu berhubungan dengan urusan agama, penembakan jamaah di kota Christchurct New Zealand juga didukung oleh kesalahpahaman akan nasionalisme identitas yang berujung pada anggapan bahwa seorang asing adalah ancaman. (Jakarta, Suara Merdeka.com, 15 Maret 2019).Yang semestinya dilakukan adalah pemahaman bersama berdasarkan solidaritas sesama masyarakat bahwa negara adalah milik bersama dengan tanggung jawab yang dibangun oleh warganya. Radikalisme, nyatanya terjadi akibat banyaknya kelompok masyarakat yang gagal menerapkan nasionalisme sehingga doktrin ini lahir dengan paham fanatisme yang berlebihan dan tidak semestinya, sehingga dengan mudah doktrin ini menyebar pada generasi muda sebagai paham radikalisme yang anti-imigran. (Anzar Abdullah, 2016)

Lebih lanjut, lembaga pemerintahan juga harus berperan dalam menanggulangi dan mengamati segala aksi nasional yang melibatkan masyarakat.(Debora, Juni, 2018, hal 3). Masyarakat juga dihimbau agar lebih waspada akan penyebaran doktrin radikalisme yang tersebar dari pembicaraan, hasutan, maupun ajaran secara tidak langsung memberi inspirasi untuk melakukan hal brutal yang tidak sesuai dengan ajaran, norma, dan moral yang berlaku. Di tingkatan akademik, masyarakat juga harus lebih banyak mengkaji pengetahuan tentang radikalisme, dan pengaruhnya agar tidak buta akan permasalahan sosial yang tengah ramai dibicarakan, dan memilih sikap yang sesuai untuk menghadapi permasalahan tersebut.

     KESIMPULAN

Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang. Agama Islam senantisa mengajarkan kasih sayang dengan sesama, dan semua makhluk ciptaanya. Sebagaimana yang telah dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah hadist. “Bahwa perumpamaan seorang mu’min dalam kasih sayang seperti jasad, apabila satu bagian merasakan sakit, maka bagian yang lain juga ikut merasakan.”(HR. Bukhari)  Seperti inilah cara Islam mengajarkan kita bagaimana menjalankan silaturahmi antar manusia, bukan saling mencela dan menjatuhnkan, tetapi saling membangun dan merasakan.

 

 

Referensi:

Abdul Muis, ‘Terorisme Atas Nama Agama’, Jurnal Refleksi, Vol.13, No.5, 2013, Jakarta, Universitas Paramadina

Anzar Abdullah, ‘Gerakan Radikalisme Dalam Islam’, Jurnal Ad-Din Vol,10, No 1, 2016 Makassar, Universitas Pejuang Republik Indonesia

BBC News Indonesia, 16 Maret 2019

Debora, Terorisme: Pola Aksi dan Antisipasinya, Jakarta, Juni 2018

Jakarta, Suara Merdeka.com, Terorisme di New Zealand Tunjukkan Bahaya Fanatisme dan Radikalisme Bukan Cuma Soal Agama, 15 Maret 2019

Kenan Malik, ‘Islamophobia Myth’, Prospect Magazine, Februari 2005.

Serambi News. Com, Penembakan Jemaah Shalat Jum’at di Christchurch, Selandia Baru,16 Maret 2019

Wartakota. Com, Mengungkap Motif Terorisme di Selandia Baru, 16 Maret 2019

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *