Toleransi dalam Prespektif Islam

Forum Kajian Studi Agama Agama mengadakan kajian rutin dengan judul Toleransi dalam Prespektif Islam. Acara ini diadakan pada hari Senin, 19 Maret 2018 di Masjid Jami’ Universitas Darussalam Gontor. Kajian ini disampaikan oleh Arif Wicaksono, Mahasiswa Program Studi Agama Agama semester 8. Walaupun dengan segala kelebihan dan kekurangannya, rutinitas ini terus dipertahankan sebagai sunnah mahasiswa.

Arif Wicaksono menyampaikan toleransi dalam Islam bukan berarti Pruralisme. Secara bahasa toleransi berarti kedermawanan, kerelaan hati. Toleransi menurut pemakalah adalah mengakui pruralitas bukan pruralisme. Muslim boleh toleransi dalam bidang sosial, tapi tidak dalam bidang teologi. Toleransi dalam teologi sama saja dengan musyrik atau menyekutukan Allah SWT. Toleransi sering disalah artikan sebagai pruralisme. Sehingga muncul slogan “Orang yang tidak Pruralis, berarti tidak toleran”. Pemahaman seperti ini adalah menyesatkan.

Barat post-modern sering menggaung-gaunkan slogan pruralisme. Namun, semua itu hanya pada tataran konsep. Misykat karangan Hamid Fahmi Zarkasyi menjelaskan hal ini. Dijelaskan didalamnya, pernah suatu ketika Hamid ditanya, “mengapa kalian yang Indonesia bisa bertetangga dengan non-muslim, sedangkan kami tidak bisa?”. Sekilas dapat kita pahami bahwa konsep pruralisme barat-postmo mengalami kepincangan. Konsepnya seolah telah matang, namun prakteknya tidak seperti itu.

Kasus intoleran tidak hanya terjadi di zaman sekarang saja, namun pernah terjadi di masa lampau. Seperti yang terjadi ketika zamannya Fir’aun, ketika zamannya nabi isa AS, Zaman nabi Muhammad SAW, Portugis terhadap muslim nusantara, wacana Pruralisme dan liberalisme, karena sebenarnya ini adalah contoh intoleran. Kalau memang toleran mereka akan mengakui eklusifnya indonesia.

Arif Wicaksono menyebutkan konsep toleransi dalam Islam menurut Habieb Rizieq, yaitu:

  1. Tidak ada paksaan dalam agama Islam
  2. Tidak boleh ada caci maki terhadap agama lain
  3. Dalam uruasan ibadah “lakumdinukum waliadin” bagi kalian agama kalian dan bagi kami agama kami

Selain itu pemateri menjelaskan sebab-sebab intoleran dapat terjadi, antara lain:

  1. Nafsu ingin berkuasa
  2. Tidak adanya sikap fanatik
  3. Tidak menempatkan sikap fanatik pada tempatnya
  4. Kurangnya ilmu pengetahuan
  5. Gengsi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *