Toleransi sebagai Barometer Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Toleransi Kong Hu Chu

Toleransi sebagai Barometer Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Oleh: Alif Nur Fitriyani

Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama VII

Beragama adalah konsekuensi manusia sebagai makhluk bertuhan yang sangat esensial dalam kesadaran spiritual. Kebebasan beragama di Indonesia, pun senyatanya telah dijamin oleh UUD (Undang-Undang Dasar) 1945 pasal 28 E. Terlepas dari itu, pengalaman religius masyarakat multikultural di Indonesia beberapa kali ditandai dengan konflik dan kekerasan di berbagai daerah. Penolakan pendirian rumah ibadah, penyalahgunaannya, hingga penutupan atau bahkan  perusakkan rumah ibadah tersebut.[1] Fenomena tersebut tentu saja menjadi tantangan yang harus dihadapi Indonesia selaku negara yang bermotto Bhineka Tunggal Ika dari berbagai perspektifnya. Perspektif tersebut terdiri dari keberagaman etnis, agama dan budaya. [2]

Pasalnya, keberagaman agama yang diakui bangsa Indonesia memuat potensi konflik bangsa yang tinggi.[3] Dalam skala kecil, konflik tercermin pada komunikasi yang tidak berjalan dengan semestinya sehingga menyebabkan rasa tersingung, marah, frustasi, kecewa, bingung, dan prasangka. Sementara dalam skala besar, keberagaman berpotensi melahirkan kerusuhan sosial, kekacauan budaya bahkan perseteruan antar etnis dan agama.

Toleransi dan Kerukunan Umat Beragama: Antara Integrasi dan Disintegrasi

Ditengah-tengah pluralitas, agenda yang dirasa sangat urgen adalah menciptakan sebuah hubungan antar agama yang harmonis. Kerukunan, seyogyanya merupakan tujuan pertama dari hubungan harmonis tersebut karena potensi konflik yang diniscayakan ada.[4] Sikap toleransi antar umat beragama harus ditanamkan pada setiap diri manusia terutama bagi remaja dimana penanamannya dimaksudkan mampu mengerti makna sesungguhnya dari kehidupan antar agama. Misalnya, remaja tidak mempersoalkan/memaksakan perbedaan keyakinan kepada pemeluk agama lain, tidak menggangu  pemeluk lain ketika menjalankan ibadah, tidak memaksa penganut agama lain untuk mengikuti kegiatan keagamaan agama lain, membimbing agar tidak mencela pemeluk agama lain serta membina hubungan dan saling bersilaturahmi dengan pemeluk agama lain.

Pada dasarnya, agama memiliki faktor ‘integrasi’ dan ‘disintegrasi’. Faktor integrasi, maknanya, agama mengajarkan persaudaraan atas dasar iman, kebangsaan dan kemanusiaan. Agama tidak hanya mengajarkan kedamaian dan kerukunan di antara manusia dan sesama makhluk, namun juga mengajarkan budi pekerti yang luhur, hidup tertib dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku dalam masyarakat.[5] Faktor disintegrasi, di lain sisi, menunjukkan bagaimana pemahaman ummat beragama mampu berbeda satu dengan yang lainnya. Perbedaan tersebu kemudian melahirkan ragam menimbulkan aliran dan kelompok (madzhab) keagamaan yang tidak jarang betentangan satu sama lain sehingga memicu konflik.[6]

Toleransi Puja Mandala
Toleransi- Kompleks Puja Mandala adalah lima bangunan ibadah yang dibangun berdampingan di Nusa Dua, Bali. Puja Mandala adalah salah satu contoh simbol toleransi umat beragama di Provinsi Bali. Dari drone, kita dapati bangunan tersebut (dari kiri) adah Masjid, Geraja Protestan, Vihara, Gereja Katolik, dan Pura. Sumber: http://bit.ly/pujamandala

BACA JUGA: KAJIAN ISU PLURALISME AGAMA

Ini artinya, keragaman agama ternyata juga menimbulkan dilema tersendiri. Ia memberikan dampak positif untuk pembangunan bangsa dan berpotensi menjadi sumber konflik dikemudian hari.sisi lain. Di situlah kemudian, lagi-lagi, toleransi dan kerukunan diantara pemeluk agama diharapkan sebagai sebuah keniscayaan yang nyata dibutuhkan dalam kehidupan bangsa Indonesia [7] Toleransi yang tinggi terlihat dengan minimnya konflik didalam hubungan antar umat beragama. Tidak hanya itu, toleranasi juga mampu dilihat dari adanya kerjasama yang terjalin diantara mereka. Setiap elemen masyarakat wajib mengerti posisi dan kepentingan masing-masing serta memiliki kesadaran bahwa kepada sesama manusia harus saling menghormati dtanpa mengganggu keyakinan penganut agama yang lain.[8] Kerukunan akan menjadi faktor-faktor pendukung ‘integrasi’ nasional jika ia mampu terus ditingkatkan. Sebaliknya, ia akan menjadi faktor ‘disintegrasi’ jika tidak dapat ditingkatkan dengan baik dan benar.[9]

Kerukunan Umat dalam Konteks Bangsa dan Negara: Tawaran Pandangan Hidup Islam 

Dalam konteks kepentingan bangsa dan negara, kerukunan Ummat beragama merupakan bagian penting dari kerukunan nasional. Kerukunan umat beragama disini adalah sebuah hubungan sesama umat beragama yang dilandasi toleransi, saling pengertian, saling menghormati, menghargai kesetaraan dalam pengalaman ajaran agamanya dan kerjasama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia[10]. Ummat Islam, tentu saja, perlu juga memaknai toleransi tidak hanya sebatas itu, namun lebih jauh dari sudut pandang ajaran Islam atau lebih tepatnya dalam pandangan hidup (worldview) Islam. Toleransi beragama dalam Islam bukanlah untuk saling melebur dalam keyakinan. Toleransi, juga tidak untuk saling bertukar keyakinan diantara kelompok-kelompok agama yang berbeda. Toleransi dalam Islam adalah dalam hal bermuamalah atau kemanusiaan. Di mana ada batas-batasan bersama yang menjadi kesepakatan dan tidak boleh dilanggar. Inilah esensi toleransi dimana masing-masing pihak untuk mengendalikan diri dan menyediakan ruang untuk saling menghormati keunikannya masing-masing tanpa merasa terancam keyakinan maupun hak-haknya.

Toleransi Yahudi
Dialog-Bapak Dekan Fakultas Ushuluddin, al-Ustadz Syamsyul Hadi Untung, M.A., M.Ls, dan Dosen Prodi SAA al-Ustadz Kharis Majid, M.Ag, dalam kunjungan dan dialog mahasiswi Semester VI SAA dalam SPL (Studi Pengayaan Lapangan) ke Sinagog Yahudi bersama Rabbi Jacob

Sebagian kalangan berpendapat bahwa kekerasan yang terjadi dalam agama yang dianut di Indonesia disebabkan karena renggangnya komunikasi antara umat beragama dan faktor sosio-politik[11]  Sedangkan sebagaian yang lain beranggapan bahwa gejala kekerasan agama yang terjadi di Indonesia disebabkan oleh faktor kegagalan pemerintah mengakomodasi nilai-nilai agama dalam masyarakat[12]. Meskipun terjadi berbagai permasalahan terhadap masyarakat bergama di Indonesia, konflik dengan skala kecil maupun besar, Islam tetap menjunjung tinggi toleransi yang dibangun atas dasar agama dan menjaga pergaulan terhadap sesama umat beragama. Dalam membangun kerukunan dibutuhkan langkah-langkah strategis untuk menguatkan pondasi sehingga mampu membentuk suatu toleransi yang kokoh dari peran pemerintah, komunikasi yang intensif, meningkatkan sumber daya manusia umat beragama, tokoh agama ikut berperan aktif dan menggali watak Islam yang toleran dengan iman yang kuat[13].

 

TOLERANSI DALAM KURIKULUM PRODI SAA UNIDA GONTOR BACA: REFLEKSI KATOLIK DI SURABAYA

Oleh karena itu, jika Islam mengajarkan dan menekankan keniscayaan akhlak toleransi dalam pergaulan antar umat beragama, maka tidak mungkin Islam merusak toleransi tersebut atas nama agama. Di sisi lain, dalam pergaulan antar umat beragama, Islam juga sangat ketat menjaga kemurnian akidah dan syariah Islamiyah dari ‘noda-noda’ yang datang dari luar. Artinya, kemurnian akidah dan syariah Islamiyah tersebut tidak boleh dirusak atau ternoda oleh praktik toleransi.[14]. Karena toleransi yang benar adalah disaat setiap masyarakat beragama mampu untuk mengendalikan diri dan menghormati perbedaan dan keunikan masing-masing tanpa terancam keyakinannya atau hak-hak setiap penganut beragama tersebut atas apa yang mereka percaya. (alif nur fitriyani)

Referensi

[1]  Ahmad Syafi’i Mufid, Kasus-Kasus Aktual Kehidupan Keagamaan di Indonesia, 2014

[2] Jirhanuddin, Perbandingan Agama Pengantar Studi Memahami Agama-Agama, 2010).

[3] Ahmad Syahid, Riuh di Beranda Satu: Peta Kerukunan Umat Beragama Di Indonesia, 2003

[4] Lailatuz Zuhriyah, ‘Teologi Konvergensi Dan Kerukunan Antar Umat Beragama, Jurnal Religio, Vol. 4, No, 1, 2014.

[5] Abdurrahman Wahid, ‘Pribumisasi Islam’, dalam Muntaha Azhari dan Abdul Munim Saleh, Islam Indonesia Menatap Masa Depan, 1989.

[6]  Abdurrahman Wahid, Masa Islam dalam Kehidupan Bernegara dan Berbangsa, 1984.

[7] Djohan Effendi, Dialog antar Agama, bisakah melahirkan kerukunan Agama dan Tantangan Zaman, 1985.

[8] Ika Fatmawati Faridah, ‘Toleransi Antar Umat Beragama Masyarakat Perumahan’, Jurnal Komunitas,Vol. 1. No. 5, 2013.

[9]  Siti Makhmudah, ‘Upaya Masyarakat Dlam Membina Kerukunan Umat Beragama Di Kelurahan Bangsal Kecamatan Pesantren Kota Kediri’, Jurnal Studi Agama-Agama El- Wasathiya, Vol. 4, No, 2, Desember 2016.

[10] H. Ali Mukti, Kehidupan Beragama Dalam Proses Pembangunan Bangsa., 1975

[11] Arifin Assegaf, “Konflik antar Iman”, dalam Th. Sumartana et al., Pluralisme, Konflik dan Pendidikan Agama di Indonesia, 2001

[12] A. Schwarz, A Nation in Waiting, 1999

[13] Ngainum Naim, Islam dan Pluralisme Agama, 2014

[14] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, 1992

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *