Tradisi Hari Raya Nyepi di Bali

Tradisi Hari Raya Nyepi di Bali

Oleh: Jehan Khalidin/SAA VI (Putri)

Masyarakat Hindu di Bali termasuk masyarakat yang mempunyai aktivitas upacara keagamaan yang sangat kompleks, salah satu di antaranya adalah upacara Nyepi. Upacara Nyepi dilaksanakan melalui beberapa tahapan suci, setiap tahapan memiliki ritual khusus dan tujuan tertentu, semua itu dirangkai dengan sedemikian rupa demi kelancaran Hari Raya Nyepi itu sendiri.

Hari Raya Nyepi menjadi perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Caka (Tahun Baru Hindu Bali) dirayakan oleh umat Hindu selama enam hari, dimulai sejak tahun 78 Masehi, yang dipercayai menjadikan hari penyucian dewa-dewa yang berada di pusat samudera yang membawa intisari (amerta) air hidup.  Nyepi secara harfiah bermakna “tetap hening” dan jatuh di hari setelah bulan mati pada masa semi ketika siang dan malam rata-rata memiliki durasi yang sama. Tujuan utama Hari Raya Nyepi dalam perspektif kehinduan adalah  permohon  kehadapan  Tuhan  Yang Maha Esa untuk  menyucikan  Bhuana Alit  (alam  manusia)  dan  Bhuana  Agung  (alam semesta).

Ilustrasi Arak-Arak Ogoh-Ogoh sehari sebelum dilaksanakannya Catur Brata Penyepian

Umat Hindu sangat berkepentingan akan pembersihan lingkungan dan dirinya dari segala kekotoran yang kotor dan yang bernoda, supaya benar-benar bersih   lahir   dan   batin   menghadapi   hari   esok   setelah   Hari   Raya   Nyepi (Nottingham, E. K, 1996: 120). Terdapat mitos bahwa setelah perayaan yang meriah dan gegap gempita selama hari 1 dan 2, pulau ini bersembunyi untuk melindungi diri dari roh jahat. Mitos ini berasal dari zaman legenda mengenai roh jahat, dewa-dewa, pahlawan dan penyihir. (Koentjaraningrat, 1987 : 51).

Upacara Tawur Kesanga

Adapun urutan upacara yang wajib dilaksanakan sebelum menyambut hari Nyepi, diantaranya, Melasti  yang  merupakan  tradisi  serangkaian  Nyepi,  dilaksanakan oleh umat Hindu tiga atau dua hari sebelum hari raya Nyepi. Saat hari Melasti umat Hindu berbondong-bondong menuntun Ida Bhatara atau Tuhan ke pantai untuk disucikan sekaligus menyucikan diri dan pakaian. Pantai merupakan sumber kesucian sehingga dengan  upacara Melasti, alam semesta akan suci dan terhindar dari segala kotoran dan hal buruk. Upacara selanjutnya adalah Tawur Kesanga yang dilaksanakan hari sebelum Nyepi, yaitu upacara pecaruan (Pengorbanan) dengan Caru. Caru biasanya menggunakan sesajen lengkap dan biantang seperti ayam, sapi dan bebek. Tahapan selanjutnya adalah Catur Brata Penyepian yang lebih dikenal dengan ibadah Nyepi yang memepunyai arti tidak boleh melakukan empat hal yang terdiri dari amati lelungan (tiada berapi-api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan), Pada hari ini suasana seperti mati, tidak ada kesibukan perkara seperti biasa karena ummat Hindu di Bali  tidak diperkenankan bekerja, ataupun berpergian. Begitupun mereka diwajibkan berpuasa dan berdiam diri di rumah dengan mematikan seluruh akses keduniawiaan seperti TV, Internet dan jaringan seluler.

Saling Menghormati: Seorang Muslim Bali bertemu dengan Pecalang (Polisi Adat Hindu Bali) di jalan sebelum menjalankan Shalat Gerhana di Mushala terdekat ketika Siang Hari Catur Brata Penyepian, 9 Maret 2016. Sumber: http://m.dailymoslem.com/news/indahnya-toleransi-di-bali-masyarakat-muslim-tetap-tertib-jalankan-shalat-gerhana-sementara-umat-hindu-rayakan-nyepi

Sore hari sebelum Nyepi penduduk Bali mengarak Ogoh-ogoh raksasa. Ogoh-ogoh berasal dari kata ogah-ogah yang berarti ‘bergoyang-goyang” ini dianggap  sebagai  simbolisasi  dari  energi  negatif,  setelah  ogoh-ogoh  dibakar semua unsur-unsur panca maha bhuta (api, air, tanah, udara dan ether) kembali ke asalnya. (Pendit, 2001 : 182-183). Boneka tersebut ada yang kecil seukurangan telapak tangan, ataupun raksasa setinggi rumah. Arak-arakan tersebut dilaksanakan melewati jalan-jalan besar di Bali. Dengan bantuan kisi bambu sekelompok lelaki menggotong Ogoh-ogoh dengan seru memainkan musik gabungan dari kulkul (lonceng bali tradisional) dan musik gamelan. Gagasan dasarnya yaitu untuk menakutkan roh jahat dan mengusirnya dari pulau Bali. (Widnyani, N., 2012 : 32) Sebetulnya Ogoh-ogoh tidak memiliki hubungan langsung dengan upacara Hari Raya Nyepi, namun hanya merupakan kreativitas masyarakat  yang  murni  sebagai  cetusan  rasa  semarak untuk memeriahkan upacara.

Fase terakhir dari hari raya Nyepi adalah Ngembak Geni dan omed-omedan. Tradisi omed-omedan ini diikuti oleh pemuda dan pemudi setempat yang belum menikah, dimulai dengan sembahyang bersama, dan berdiri berhadapan setelah diberi aba-aba kedua kelompok saling berpelukans ambil disiram air oleh masyarakat.(Nottingham, E. K, 1996 : 124-128).

Menurut ajaran Hindu, saat dilaksanakan hari raya Nyepi, panca indra umat manusia diredahkan dengan kekuatan manah dan budhi.  Meredakan  hawa  nafsu  sehingga  kualitas  hidup  semakin  meningkat, dengan cara melakukan tapa, yoga, brata samadi. Kesemuanya itu adalah dimaksudkan untuk melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dan memulai hidup suci menuju dharma.(Pendit, 2001 : 185). Hari Raya Nyepi bagi tidak hanya merupakan Hari Raya Besar umat Hindu, namun juga saat yang tepat untuk menetralisir unsur-unsur alam semesta maupun yang ada dalam diri manusia. Dalam pandangan Hindu unsur alam semesta mempunyai unsur yang sama dengan unsur yang ada pada manusia, yaitu unsur tanah, air, api, angin, dan unsur sangat halus yang memenuhi lapisan teratas ruang angkasa (Darini, 2013 : 45).

Jama’ah Shalat Gerhana dari IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) berfoto bersama Pecalang. Sumber: http://www.iphi.web.id/2016/03/09/shalat-gerhana-yang-digelar-iphi-bali-dijaga-pacalang/

Nyepi mempunyai pengaruh yang besar bagi diri pribadi agar manusia bisa mengendalikan diri dan akan dijadikan wacana untuk perubahan politik-ekonomi, yaitu dengan   merenungkan secara individual atas dosa-dosa sosial, politik dan ekonomi. Tak hanya itu, Nyepi juga berpengaruh dalam dunia bisnis. Dalam hal ini , seorang pebisnis dapat mengambil makna Nyepi sebagai media jeda dalam aktivitasnya sehari-hari. Upacara Nyepi memiliki pengaruh baik bagi setiap penganut agama Hindu maupun lingkungannya, namun tradisi ini tidak sesuai dengan ajaran Islam, bagi seorang muslim yang tinggal di Bali harus mengambil jarak bahkan menjauhi dan tidak merayakan tradisi ini, meskipun upacara ini memiliki tujuan yang sama seperti ibadah Haji yang berguna untuk mensucikan diri, intropeksi diri dari kesalahan yang telah diperbuat dan membuka lembaran baru dalam kehidupan. Terlepas dari itu, umat Muslim Bali pun seyogyanya menghormati tradisi keagamaan agung umat Hindu ini demi jalannya toleransi dan eksistensi antara umat beragama.

Lebih lanjut kemudian, seorang Muslim Bali diharapkan tetap waspada dari pengaruh-pengaruh dan syubhat yang mungkin saja ada dalam Hari Raya Nyepi khususnya, terutama jika ternyata kemudian menemukan kurang-lebih kesamaan-kesamaan ritual dalam Nyepi seperti yang terdapat dalam agama Islam. Misalnya terutama, dalam hal berpuasanya umat Hindu ketika Nyepi mirip dengan berpuasanya Umat Islam di hari-hari Ramadhan. Persamaan ini wajib menjadi media introspeksi reflektif Umat Islam guna tetap menetapkan identitasnya sebagai Hamba Allah. Meskipun ‘sama-sama’ berpuasa, namun tentu saja konsepsi puasa Umat Hindu ketika Nyepi tidak bisa disamakan dengan Shiyam Ramadhan Umat Islam; baik dari segi teologisnya, ritual dan dzikir, dan tentu saja orientasi ibadahnya. Titik temu dan titik pisah inilah yang wajib terus senantiasa diingat oleh Umat Islam dalam rangka meningkatkan kapasitas akidah agar tetap teguh yakin dengan Iman kepada Allah namun juga menghormati Umat Hindu dalam menjalankan akidah dan ritualnya. Lakum diinukum waliyadiin. Wallahu A’lam. (ed. Rizal)

 

DAFTAR PUSTAKA

Nottingham, E. K. (1996). Agama dan Masyarakat (suatu pengantar sosilogi Agama).

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Koentjaraningrat. (1987). Sejarah Teori Antropologi, Jakarta: UI-Press. Pendit, Nyoman S. (2001). Nyepi: Kebangkitan, Toleransi dan Kerukunan.

Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.

Widnyani, N. (2012). Ogoh-ogoh. Surabaya: Paramita.

Darini, Ririn. (2013). Sejarah Kebudayaan Indonesua Masa Hindu-Budha. Yogyakarta: Ombak.

 

Berita terkait:

Membumikan Budaya al-Qur’an: Prodi SAA Melangsungkan Pra-Karantina Tahfidz al-Qur’an

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *