Tri Dharma di Klenteng Ampenan Po Hwa Kong

saa-unida-studi-agama-agama-unida-gontor-Klenteng-Ampenan-Po-Hwa-Kong

Tri Dharma di Klenteng Ampenan Po Hwa Kong

Mataram- Kunjungan selanjutnya yang dituju oleh Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Prodi Studi Agama Agama (SAA) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor yakni Klenteng Po Hwa Kong Ampenan, Nusa Tenggara Barat (Sabtu, 7/9). Materi kali ini di berikan oleh bapak Tandika Jayanata selaku pengurus Klenteng.

Kebanyakan klenteng menjadi tempat ibadah bagi umat konghucu. Akan tetap, Klenteng Po Hwa Kong ini membawahi Tri Dharma yaitu, Konghucu, Taoisme, dan Buddhisme. Perbedaan ketiga agama ini, sebagaimana mengutip  Bapak Tandika Jayanata adalah bahwa Taoisme adalah agama yang menekankan sembahyang kepada dewa-dewi, Buddhisme adalah agama yang menekankan sembahyang kepada dewa dan artha, sementara Kong Hu Chu adalah agama yang menekankan sembahyang hanya kepada kong-hucu itu sendiri.

Perkembangan Klenteng Ampenan Po Hwa Kong

Awak mula berkembangnya agama Kong Hu Chu di Indonesia dimulai ketika salah seorang rombongan Laksamana Cheng Ho tiba di pulau Bali dan tidak ikut kembali ke Tiongkok. Pada saat itu diadakannya sayembara untuk membangun Puri Taman Ayu di Bali. Tetapi sayembara ini tidak membuahkan hasil, kemudian datanglah seorang Menteri yang memberitahu kepada raja tentang arsitek handal yang bernama Tan Fu Chen Yen. Kemudian raja memerintahkan Tan Fu Chen Yen dan memberi waktu kepadanya untuk membangun Puri selama dua tahun.

Dalam kurun waktu hampir dua tahun, Tan Fu Chen Yen belum menghasilkan apapun. Hal ini membuat sang raja merasa khawatir dan bertanya kepada Fu Chen, lalu ia menjawab bahwasanya ia sanggup menyelesaikan pekerjaan tersebut setelah raja mengabulkan permintaanya. Permintaan tersebut berupa; menutup taman dengan kain hitam dan tak ada seorangpun yang boleh memasukinnya. Setelah taman itu tertutup, tinggallah ia seorang diri dan mengucapkan mantra. Maka jadilah tempat ini sebagai Puri Taman Ayu yang sangat megah. Dengan kemampuannya yang sangat menakjubkan, raja beralih menjadi ketakutan dan mengejarnya, lalu larilah Tan Fu Chen Yen ke daerah Blambangan Banyuwangi.

Cinderamata- Pembimbing Studi Pengayaan Lapangan (SPL), al-Ustadz Nur Rosyid Huda Setiawan memberikan penghargaan kepada Pihak Pengurus Klenteng yang diwakilkan oleh Bapak Tandika Jayanata.

Teologi Kong Hu Chu

Beralih kepada teologi Kong Hu Chu, mereka memiliki nenek moyang yang bernama Kong Hu Cu. Di agama ini mereka mempercayai dewa adalah sebagai seorang rasul utusan dari Tuhan. Uniknya, mereka memiliki tempat ibadah yang langsung menuju langit, karena mereka mempercayai bahwasannya Tuhan yang satu itu berada di atas langit.

Dalam perkembangannya di Indonesia, pada masa orde baru Kong Hu Chu sempat mengalami masa pahitnya. Penyebabnya adalah Kong Hu Chu belum diakui menjadi agama resmi di Indonesia. Setelah masa reformasi, Kong Hu Chu mulai memiliki tempat atas hak sipilnya di Indonesia, yaitu dengan keluarnya instruksi presiden B.J. Habibie nomor 26 tahun 1998 mengenai penghentian penggunaan istilah pribumi dan non pribumi. Disusul dengan kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid Keppres No. 6 tahun 2000 tentang pemilihan hak sipil penganut agama Kong Hu Chu. Puncaknya kemudian terjadi pada pemerintahan Megawati Di mana Hari Raya Imlek dijadikan hari libur nasional.

Tri Dharma di Klenteng Ampenan Po Hwa Kong: Buddhisme, Kong Hu Chu dan Taoisme

Dari kunjungan ini, kami melihat agama Taoisme, Kong Hu Chu, dan Buddhisme memiliki banyak kesamaan. Dari segi peribadatan yang sama-sama menyembah dewa-dewi dan sesembahan yang berupa dupa, buah, bunga, lilin, dan air.  Dalam perayaan hari-hari besar khususnya hari raya, ketiga agama ini saling memperingati hari besar tersebut. Dalam keyakinan mereka, mereka percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak mampu diketahui secara jelas konsepsi atau Nama-Nya.  (Nadya Amaliyah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *