Ukhuwwah Islamiyyah dalam LKBB: Analisa Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor dan Islamic Worldview.

Ukhuwwah Islamiyyah dalam LKBB: Analisa Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor dan Islamic Worldview.

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor 

GONTOR (31/07/2019). Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Program Studi Agama-Agama (SAA) boleh cukup membanggakan prestasi yang baru saja ditorahkannya.  Pada Pekan Perkenalan Khutbatul ‘Arsy tahun ini, HMP SAA dinobatkan sebagai Juara Harapan I pada Lomba Latihan Ketrampilan Baris Berbaris (LKBB). Lomba ini diikuti dua puluhan barisan Program Studi yang juga turut juga menjadi peserta wajib dalam Khutbatul ‘Arsy.

“Alhamdulillah. Ini harus disyukuri oleh setiap elemen prodi SAA. Paling tidak, ada perbaikan dari KA yang pertama. Ini berarti kita meningkat. Alhamdulillah. Maka sebagai kesyukuran, setiap kita harus meningkatkan diri, baik dosen maupun mahasiswa.” Begitu al-Ustadz Asep Awaludin, M.Ag, Kaprodi SAA menyampaikan.

LKBB, jadinya memang hanya sekedar bermakna ‘gerak jalan’. Sebagaimana setiap organisasi masyarakat membutuhkan suatu esensi yang menjadi bagian proses perwatakan, begitupun LKBB. Secara umum, LKBB dimaksudkan sebagai latihan awal Bela Negara dan identifikasi hak dan kewajiban. Sementara secara khusus, LKBB bertujuan menanamkan rasa disiplin dan memperkuat semangat kebersamaan dari partisipannya.

BANGGA- Ketua HMP Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin menerima piala penghargaan Juara Harapan I LKBB dari Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal
BANGGA- Ketua HMP Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin menerima piala penghargaan Juara Harapan I LKBB dari Pimpinan Pondok Modern Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal.

LKBB DAN PANCA JIWA

Menarik untuk kemudian memahami LKBB lebih jauh dari sudut pandang nilai dan sunnah Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). LKBB merupakan salah satu representasi kecil dari Jiwa ‘Ukhuwwah Islamiyyah’ sebagai Panca Jiwa keempat dari lima unsur Panca Jiwa PMDG. ‘Ukhuwwah Islamiyyah’ didahului oleh ‘Keikhlasan’, ‘Kesederhanaan’, ‘Berdikari’, sebelum kemudian diakhiri dengan ‘Kebebasan’.

lantas apakah definisi jiwa ‘Ukhuwwah Islamiyyah’ dalam Panca Jiwa PMDG? Ukhuwwah Islamiyyah kurang lebih bermakna suasana kehidupan Pondok Pesantren persaudaraan yang akrab. Keakraban tersebut kemudian melahirkan satu rasa suka dan duka tanpa ada dinding yang memisahkan. Ukhuwwah Islamiyyah tidak hanya berfungsi selama santri hidup di Pondok, namun juga mempengaruhi persatuan umat dalam masyarakat ketika santri sudah terjun di dalamnya. LKBB, artinya, berpotensi sebagai penyatu ajaran-ajaran yang tersebut itu. Pun fungsi ‘Ukhuwwah’ yang dibentuk selama latihan LKBB sebagai pemersatu santri Gontor tidak hanya berhenti di situ saja namun juga ketika sudah selesai/tamat pendidikan di Gontor.[1] Begitulah, lagi-lagi, setiap apa yang didengar, dilihat, dan dirasakan di Gontor memiliki esensi pendidikan sebagai Mundzirul Qaum    (QS at-Taubah: 122).

LKBB DAN ISLAMIC WORLDVIEW

LKBB, yang dalam konsepsinya dikosntruk berdasarkan jiwa ‘Ukhuwwah Islamiyyah’ juga mampu dianalisa berdasarkan pandangan hidup (Worldview) Islam/ Islamic Worldview. Worldview Islam, definisinya adalah pandangan akan realitas dan kebenaran yang tampak di hadapan mata pikiran mengungkapkan segala sesuatu tentang eksistensi; di mana hal tersebut merukapan dunia pengalaman yang diproyeksikan secara total oleh Islam. [2] Dengan kata lain, LKBB sebagai realisasi Ukhuwwah Islamiyyah adalah bagian integral dari ajaran keislaman dengan nilai-nilai yang mesti dipahami dan dikaji dengan tepat.

Sebagaimana ditelaah oleh al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Wakil Rektor I UNIDA Gontor, Ukhuwwah Islamiyyah juga harus dilihat secara menyeluruh (syaamil) sebagai makna dan dan pelaksanaan persatuan Islam yang merujuk kepada konsep Din yang utuh. Konsep ini terjadi secara proses dari tiga unsur.: beriman dan bertakwa (I’tiqaadiyyah), berbelas kasih antar individu (fardiyyah), dan perduli terhadap keadaan ummat secara keseluruhan (Ijtimaa’iyyah). Ketiga unsur I’tiqaadiyyah, fardiyyah, dan ijtimaa’iyyah ini, dikawal dengan ajaran yang disampaikan dalam QS ali-Imran: 103:

 وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ 

 

Artinya: Dan berpeganglah (i’thasimuu) kamu sekalian dengan dengan tali Allah dan janganlah kamu bercerai-cerai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa jahiliyyah) bermusuh-musuhan, maka Allah melemahlembutkan(allafa) antara hati kamu, lalu mejadikan kamu dengan nikmat Allah menjadi bersaudara, (ikhwana) dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

BACA JUGA: ADAB-ADAB KEALAMAN DALAM ECO-THEOLOGY ISLAM

Dalam analisa Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi,[3] Ada tiga konsep kunci yang dikandung ayat ini. Pertama, I’tishaam, yaitu kesamaan tempat kembali yaitu al-Qur’an dan al-Sunnah, kesamaan tujuan mempertahankan agama Allah, dan kesamaan segala sesuatu yang ber-Islam itu sendiri. Ukhuwwah Islamiyyah, artinya, dibangun berdasarkan ajaran-ajaran luhur keislaman yang baku dan tertinggi. Kedua sumber itu, harus senantiasa dijadikan sandaran di setiap perkara yang dihadapi ummat Islam.

Kedua, Ulfah. Kata Ulfah bermakna cinta, kasih sayang, dan welas asih. Ukhuwwah Islamiyyah berfungsi sebagai ‘tali’ yang mengikat hati umat Islam dengan kelemah-lembutan tanpa batas. Maka Ummat Islam selayaknya saling mengasihi sesama saudaranya yang beragama Islam lebih di antara umat manusia pada umumnya. Orientasi ini bukan berindikasi permusuhan kepada penganut agama lain, namun justru memahamkan bahwa Ukhuwwah Insaaniyyah dibangun di atas fondasi Ukhuwwah Islamiyyah. Ukhuwwah dalam pandangan hidup Islam, jadinya mencakup agama dan kemanusiaan sekaligus tanpa ada dikotomi.

Ketiga, Ikhwanaa. Artinya ‘saudara’. Begitulah digambarkan hubungan seorang yang Mu’min dengan yang lainnya bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sesamanya. (H.R. Bukhari & Muslim). Ukhuwwah Islamiyyah sebagai konsepsi persaudaraan yang ‘benar-benar asasi dan alami’. Ukhuwwah Islamiyyah, artinya dikonstruksi tidaklah lain berasaskan keimanan dan ketakwaan pada Allah azza wa Jalla semata.

Kesemua konsep dan pemahaman itu, ternyata, berawal dari langkah-langkah kecil mahasiswa UNIDA Gontor yang melaksanakan LKBB. Kata Ayahanda Kiyai Hasan Abdullah Sahal, “lebih baik berjalan meskipun lambat namun terus maju ke depan, daripada lari cepat namun lari di tempat.”  Demikianlah, Gontor mengajarkan segala sesuatunya tidak sebatas aktivitas saja. Namun senantiasa mampu dimaknai dengan penuh esensi keislaman dan ruh perjuangan Gontor. Wallahu A’lam bisshawab.

Catatan Kaki:

[1] Serba Serbi Pondok Modern Darussalam Gontor, (Gontor: Staf Sekretariat Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, 1997), 4-5

[2] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995),1

[3] Dikutip dari Mustanir Online, https://www.facebook.com/fansadianhusaini/posts/ukhuwwah-islamiyyaholeh-dr-hamid-fahmy-zarkasyimemahami-makna-dan-pelaksanaan-pe/998320970268983/, diakses 31 Juli 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *