Valentine dalam Sejarah: Dari Paganisme hingga Kristenisasi

valentine-tomyvalentine-saa-unida-gontor-Antique_Valentine_1909_01

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA

Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Dewasa ini, hari Valentine sering diidentikkan dengan hari kasih sayang. Sayangnya, banyak di antara kawula muda yang tidak memahami tepat akar historis dari hari raya tersebut. Alih-alih menjadi peringatan kasih, perayaan ini justru seringkali terkonsepsi sebagai hari perzinahan. Hal ini terlihat misalnya di Surabaya, penjualan kondom dan obat kuat meningkat setiap sebelum tanggal 14 Februari. Dengan kata lain, momen ini kerap digunakan dengan kegiatan pesta seks bagi kalangan anak muda.[1]

Di sejumlah daerah di Indonesia, upaya preventif akan kegiatan ini sudah cukup dilaksanakan. Di Makassar, Satuan Polisi Pamong Praja telah mengeluarkan larangan penjualan kondom secara bebas.[2] Di Mojokerto, pembelian kondom harus disertai dengan KTP untuk membuktikan pembeli sudah menikah atau belum.[3] Di Kediri, pengawasan ini bahkan disertai dengan sidak bersama Dinas Kesehatan.[4]

Valentine dan Lupercalia: Kisah Romulus dan Remus

romulus-remus-saa-unida-gontor-valentine-ushuluddin
Bayi Romulus dan Remus diselamatkan oleh Penggembala. Selama kurun itu, dua bayi kembar dipelihara oleh Serigala Betina. Sumber: Koleksi Hochschloss Kronegg of Riegersburg Austria

Dari sejumlah sumber historis, hari Valentine terkait pertama dengan Lupercalia. Lupercalia adalah hari raya festival Pagan yang dirayakan di Roma setiap tahunnya pada tanggal 15 Februari. Meskipun hari Valentine diambil namanya dari St. Valentine yang wafat karena perjuangan cintanya, sejumlah ahli percaya bahwa asal muasal perayaan Valentine adalah perayaan Lupercalia ini. [5]

Kisah dimulai di lebih kurang abad ke 6 sebelum Masehi, ketika Raja Amulius berniat mengeksekusi mati Romulus dan Remus, sepasang saudara kembar yang tertuduh turut berasalah akan pelanggaran sumpah ibunda mereka. Sejumlah sumber, mengafirmasi bahwa Raja Amulus melihat kelahiran Romulus dan Remus adalah ancaman bagi kekuasaannya. [6]

Niat sang Raja sayangnya justru digagalkan oleh pembantunya sendiri, yang mengasihani kedua saudara ini dengan ‘menipu’ proses eksekusi. Romulus dan Remus, yang sebetulnya harus berakhir tenggelam di sungai Tiber, malah diselamatkan di atas keranjang dan sampai ke bukit Palatine, tempat berdirinya Roma hari ini. Romulus dan Remus, menurut catatan sejarah, memang merupakan Pendiri dari Kerajaan Roman.

Kedua saudara itu, kemudian dirawat oleh Penggembala kambing dan istrinya. Ada sebuah mitos di mana sebelum mereka bertemu dengan Penggembala tersebut, Romulus dan Remus sempat dirawat oleh Serigala Betina yang mendiami lubang gua di Bukit Palatine.

Singkat cerita, mendengar kisah pilu dari sepasang saudara kembar yang tidak tahu menahu namun diperintahkan mati, sang Penggembala dan istrinya pun tak tinggal diam. Mereka akhirnya membalaskan kejahatan Raja Amulius dengan membunuhnya. Setelah itu, mereka kembali ke gua di mana Serigala Betina itu merawat saudara kembar ini dan menamakannya Lupercal. Lupercalia kemudian adalah hari pemujaan Serigala Betina itu sekaligus Dewa Lupercus, Tuhan Kesuburan Pagan yang biasa disembah oleh Para Penggembala demi kesuburan ternak-ternak mereka.[7] Semenjak itulah Lupercalia menjadi hari raya yang bahkan masih diadakan secara sembunyi-sembunyi oleh sejumlah sekte Kristen.

Lupercalia: Festival Tari Telanjang Berdarah[8]

Ilustrasi Lukisan Festival Lupercalia oleh  Adam Elsheimer

Festival Lupercalia diadakan di tiga tempat: di Gua Lupercal, di Bukit Palatine, dan di aula terbuka di Roma yang bernama Comitium. Festival dimulai dengan penyembelihan seekor kambing -sebagai lambang kesuburan- dan seekor anjing di gua Lupercal. Persembahan ini dilakukan oleh sekelompok Pendeta Roman yang bernama Luperci. Usai itu, dua Luperci diperintahkan untuk telanjang bulat, sebelum kemudian ditorehkan darah hasil persembahan itu di dahi mereka dengan pisau yang juga digunakan untuk menyembelih kambing dan anjing itu. Darah itu kemudian dihapuskan dengan kain wol berbalur susu.

Acara kemudian dilanjutkan dengan ‘pencambukan’ oleh dua Luperci yang sudah bertoreh dari di dahinya di tengah-tengah alun-alun dan di Bukti Palatine. Dalam keadaan telanjang, dua Luperci memutar-mutar cambuk suci dari kulit kambing yang sudah terbalurkan khasiat kesuburan dewa Lupercus kepada perempuan-perempuan yang berdiri mengelilinginya. Perempuan Roman percaya, setiap sentuhan dari cambuk tersebut akan berpengaruh kepada kesuburan mereka.

Dalam proses upcara itu juga, para lelaki dapat memilih perempuan manapun untuk dipasangkan pada mereka selama seharian penuh. Meskipun, banyak di antara mereka yang akhirnya tetap bertahan hingga Festival Lupercalia tahun depannya, kemudian menikah dan berkeluarga.[9]

St. Valentine dan Pengorbanan Cinta

Ilustrasi St. Valentine karya Leonhard Beck dari Bildindex der Kunst und Architektur

Pada tahun 270 M, Gereja Kristen mengkaim peringatan kematiannya St. Valentine sebagai bentuk ‘Kristenisasi’ atas Ritual Lupercalia yang sudah berjalan selama ratusan tahun sebelumnya. Bedanya, Lupercalia diadakan pada tanggal 15 Februari, sementara kematian St. Valentine diadakan pada tanggal 14 Februari.

Gereja Katolik mengenal sejumlah nama ‘St. Valentine’. Pertama adalah Santo yang hidup di abad ke 3 Masehi di Roma. Santo Valentine ini gugur ketika Kaisar Claudius II melihat bahwa lelaki yang tidak menikah akan menjadi prajurit yang lebih berkualitas dibandingkan yang beristri/berkeluarga. Kaisar Claudius II kemudian melarang semua lelaki muda untuk menikah. St. Valentine, sebagai seorang suci yang selalu berbahagia dalam menikahkan pasangan muda-mudi melihat kebijakan ini sebagai sebuah ketidakadilan. St. Valentine menolak keputusan sang Kaisar dan tetap menikahkan sejumlah pasangan secara diam-diam. Bau bangkai tak dapat ditutup, pelanggaran ini diketahui oleh kaisar dan St. Valentine dihukum mati oleh oleh Kaisar Claudius II.

Kisah lainnya menceritakan St. Valentine dibunuh karena upayanya membantu melarikan sejumlah tawanan Kristen dari penjara Roman. Menurut legenda, sebelum dieksekusi, St. Valentine yang dipenjara mengirimkan surat kepada seorang gadis dimana cintanya bertepuk sebelah tangan. Perempuan itu, konon adalah putri dari penjaga penjara yang pernah mengunjunginya pada suatu waktu. Sebelum kematiannya, St. Valentine menuliskan surat tertanda, “Dari Valentine-mu”. Ekpresi inilah yang kemudian masyhur digunakan hingga saat ini. Bersambung ke Bagian Kedua…

Catatan Kaki


[1] https://surabaya.tribunnews.com/2018/02/14/valentine-day-2018-biasanya-penjualan-kondom-dan-tissue-magic-power-laris-di-malam-valentine

[2] https://news.detik.com/berita/d-4895812/pemkot-makassar-sebar-edaran-valentine-beli-kondom-harus-pakai-ktp

[3] https://faktualnews.co/2020/02/12/jelang-valentine-beli-kondom-di-kota-mojokerto-harus-bawa-ktp/194184/

[4] https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4898374/antisipasi-maksiat-hari-valentine-pemkot-kediri-beri-imbauan-penjual-kondom

[5] Henry Ansgar Kelly, Chaucer and the Cult of Saint Valentine, (Leiden: Brill, 1986), 58-63; Michael Matthew Kaylo, Secreted Desires: The Major Uranians: Hopkins, Pater and Wilde, (2006); Jack B. Oruch, “St. Valentine, Chaucer, and Spring in February” Speculum 56.3 (July 1981:534–565)

[6] https://www.history.com/topics/valentines-day/history-of-valentines-day-2

[7] https://pantheon.org/articles/l/lupercus.html

[8] Vuković, Krešimir (2018). “The Topography of the Lupercalia”. Papers of the British School at Rome86: 9–21. 

[9] https://www.history.com/topics/ancient-rome/lupercalia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *