Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. I)

Eco-Theology: Cinta atas Alam dari Rahim Sekularisme

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Penting untuk menyadari di awal bahwa konsepsi eco-theology sebagai langkah berkelanjutan berbasis etika religius untuk menghadapi isu-isu kerusakan alam memang diperkenalkan pertama kali dari peradaban berbasiskan pandangan hidup sekular. Hal ini dapat kita temukan dari statement Celia Deane-Drummond, misalnya, yang menulis bahwa Eco-theology “…takes its bearings from secular concerns about the environment that have developed and intensified over the last few decades. (Eco-Theology, ix). Kesadaran akan problematika lingkungan dan kecenderungan berbasis teologis untuk menghadapi itu, di dunia Barat, memang baru muncul lebih kurang setengah abad lalu, merujuk kepada publikasi Lynn White Jr. di Science yang terbit pada tanggal 10 Maret 1967. Dalam artikel tersebut, White merefleksikan perilaku manusia yang tidak wajar (Man’s unnatural treatment) kepada alam yang diasumsikan sudah terekam semenjak era Greco-Roman dan terjadi di dunia barat hingga ke tahun-tahun dimana orang-orang Frisian dan Belanda ‘mengekspansi’ lautan lewat reklamasi dan bendungan laut di Afsluitdijk,  bersamaan dengan periode di mana artikel tersebut ditulis. Kedua, kata ‘ecology’ sendiri, masih merujuk pada White, baru muncul dalam kamus berbahasa Inggris pada tahun 1873. Artinya, ‘umur’ dari kata tersebut ketika White menulis makalahnya belum bahkan mencapai satu abad. Tentu saja patut kita pahami bahwa ‘kata’ dalam kajian ilmiah tidak hanya sekedar kata, namun juga memiliki konsep yang dilahirkan dari pandangan hidup/worldview tertentu; seperti kata Wittgenstein dalam Tractacus-nya. Konsekuensinya, konsepsi keilmuan yang lahir dan hadir di pandangan hidup atau alam Barat terkait dengan konservasi lingkungan adalah konsep yang masih sangat muda umurnya.

Artikel Lynn White Jr, “The Historical Roots of Ecological Crisis” , diterbitkan di Jurnal ‘Science’, 10 Maret 1967, Vol. 155, Number 3767.

Namun terlepas dari itu, dapat kita tangkap bahwa urgensi eco-theology saat ini sekiranya krusial dan menantang bagi setiap agama untuk menghadirkan bangunan teoritis dan solutif atas problematika lingkungan yang hadir. Alasannya kurang lebih: Satu, kedekatan masyarakat beragama zaman ini dengan masifnya penemuan saintifik tidak hanya menjelaskan lebih gamblang tentang keindahan dunia, namun juga disertai dengan keniscayaan tanggung jawab untuk melestarikannya. (Noel Preston, ‘Exploring Eco-Theology, Eco-Spirituality and Eco-Justice’, workshop address at the Common Dreams Conference, Sydney, August 2007). Dua, bangkitnya kesadaran akan hubungan kongkrit antara kepercayaan keagamaan dengan sikap dan perilaku manusia atas alam (John Cobb, Sustainabillity, Economics, Ecology, and Justice (1992), Introduction). Artinya, agama memang tidak seyogyanya hanya dilihat sebagai kepercayaan dan ritual semata, namun juga pandangan hidup. Worldview, lagi-lagi memainkan peran penting sebagai motor penggerak segala macam aktivitas manusia termasuk penemuan-penemuan saintifiknya.  (Alparslan Acigenk, Islamic Science: Toward Definition, [Kuala Lumpur: ISTAC, 1992],). Agama sebagai sistem kepercayaan, sebagaimana catatan Ninian Smart, “… through symbols and actions, mobilize the feelings and wills of human beings.” (Worldviews Cultural Explorations of Human Beliefs, 1), termasuk di dalamnya, adalah etika terhadap lingkungan. Islam, di satu sisi, tentu saja tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan masyarakat global terkait dengan isu eco-theology. Alih-alih menolak eco-theology karena kedekatannya secara historis dengan pandangan hidup sekular, Muslim hari ini semestinya mampu juga menawarkan konsep-konsep terkait berdasarkan pandangan hidup Islam yang mampu menjadi panduan umat Islam dalam beradab dengan alam lingkungan sekitarnya.

“Ilustrasi Muslim Ekstrimis yang diupload di https://www.japantimes.co.jp/opinion/2015/03/09/commentary/world-commentary/threats-from-islamic-extremists/#.XHoDmYgzbMU”

Pasalnya, Islam hari ini, tidak mampu terhindarkan dari segala macam tuduhan terkait dengan kekerasan. Dari sudut pandang orientalis, misalnya, kita bisa lacak karya Jonathan Fine, “Political Violence in Judaism, Christianity, and Islam”,  di mana di karyanya tersebut, Islam mendapatkan asumsi yang paling tidak ‘setara’ dengan Yahudi dan Kristen dalam konsepsi dan pengembangan pandangan-pandangan kekerasan dalam beragama semenjak era pewahyuannya dengan berbagai macam versi yang ada. Dalam konteks modern –terutama pasca tragedi 11 September-, kita juga bisa mendapatkan pandangan strategis dari karya Esposito: “Unholy War: Terror in the Name of Islam.” (Oxford University Press, 2002) Dalam pengantarnya, Esposito mencatat bagaimana petinggi pemerintah, politisi senior, beserta media-media masa Amerika sepakat melihat slam sebagai sebuah “new ‘evil empire’ replacing the communist threat.” (ix). Tuduhan yang sangat keras semacam in, tentu saja sangat ‘menampar’ masyarakat Muslim di manapun dia berada; tuduhan yang tentu saja sangat kontras dengan asal muasal kata Islam itu sendirinya diambil dari salaam yang artinya adalah damai. Dari sudut pandang Muslim sekalipun, kita bisa mendapatkan refleksi terkait tentang tantangan yang diberikan atas umat Islam tuduhan-tuduhan kekerasan beserta responnya misalnya Ziauddin Sardar, “Islam Beyond the Violent Jihadis” (Biteback Publishing, 2016) ; Mohammad Hashim Kamali, berupaya menampilkan solusi akan extremisme lewat “The Middle Path of Moderation in Islam: The Qur’anic Principle of Wasatiyyah” (Oxford University Press, 2015), dan lain sebagainya.

Prolegomena to the Metaphysics of Islam an Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview.

Oleh karena itulah, dalam konteks merepons tantangan Eco-Theology dalam konteks Worldview Barat sekaligus berupaya memaparkan konsep-konsep kekinian terkait dengan bagaimana semestinya seorang Muslim berperilaku pada alam, penting sekiranya untuk melihat alam lebih dekat melalui Worldview Islam. Sebagaimana sudah dipaparkan secara umum konsepsi Worldview menurut Alparslan Acigenk dan Thomas F. Wall, mari kita tambahkan definisi lebih lanjut Worldview dari Syed Muhammad Naquib al-Attas: “What is meant by ‘worldview’ according to the perspective of Islam, is then the vision of reality and truth that appears before the mind’s eye revealing what existence is all about; for it is the world of experience in its totality that Islam is projecting.” (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam, ISTAC, 1995,1) . Artinya kurang lebih adalah bahwa pandangan hidup (Worldview) Islam adalah pandangan Islam tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud; adalah dunia pengalaman yang memproyeksikan Islam secara total.” Konsekuensi logis dari penjabaran ini dalam konteks eco-theology Islam adalah bahwa pemahaman kita atas alam sebagai sebuah realitas tidak bisa tidak kecuali disematkan secara kesatuan dengan pandangan hidup Islam, yang sudah barang tentu harus diruiuk berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW sebagai sumber tertingginya.

Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Pertanyaannya kemudian, bagaimana cara memahami ‘alam’ dengan tepat sesuai dengan Worldview Islam? Ada dua langkah kongkrit yang secara metodis menjelaskan itu: Pertama, merekonstruksi makna dalam konsep ‘alam’ sesuai dengan formula semantiknya. Kedua, menderivasikan sejumlah ayat atau hadist Nabi sesuai dengan keterkaitannya dengan konsep ‘alam’ tersebut. (*Bersambung ke Bag II)

Lihat juga:

Ihda Riezma: Bukti Mahasiswa SAA Mampu Bersaing

One Reply to “Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. I)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *