Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. II)

Konstruksi Worldview/ Pandangan Hidup Islam dalam Eco-Theology

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana

Pertama, ‘Rekonstruksi makna konsep alam sesuai dengan formula semantik wahyu’. Al-Qur’an, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, adalah sumber tertinggi yang diderivasikan daripadanya konsep-konsep Worldview Islam. Sebelumnya, mari kita simak penjelasan Izutsu terkait bagaimana turunnya al-Qur’an sebagai wahyu sangat terkait dengan konstruksi Worldview Islam. “The whole matter is based on the fundamental idea that each linguistic system –Arabic is one, and Qur’anic Arabic is another- represents a group of coordinated concepts which, together, reflect a particular Weltanschauung, commonly shared by, and peculiar to, the speakers of the language in question. Thus Qur’anic Arabic corresponds, in its connotative aspect, to what I may rightly call the Qur’anic worldview, which in itself is simply a segment of that wider worldview mirrored by the classical Arabic language.” (Toshihiko Izutsu, Ethico-Religious Concept in the Qur’an, Mcgill: 1996, 250). Berdasarkan analisa Izutsu, kita dapat memahami dengan jelas bahwa Bahasa Arab yang dikandung dalam ayat-ayat al-Qur’an tidaklah semata-mata ‘bahasa’ sebagaimana adanya, namun juga merefleksikan ‘Worldview Qur’anik’ sebagai sebuah proses revolusi saintifik atas bahasa Arab klasik/Jahiliyyah menjadi bahasa yang lebih kaya dengan konsep-konsep dalam sistem linguistiknya. Proses tersebut, didefinisikan oleh Leaman sebagai ‘Islamisasi’ sebagai sebuah altrerasi karakteristik Peradaban Arab lama menuju Peradaban yang lebih progresif:  “But the rapid expansion  of Islam and its rule over highly sophisticated civilizations made necessary the assimilation of great number of foreign legal elements, which initially were often subjected to a process of Islamization and identification as Koranic.” (Oliver Leaman, An Introduction to Medieval Islamic Philosophy, Cambridge University Press: 1985, 6).

Ethico Religious Concepts in the Qur’an

Islamisasi, memang selayaknya dipahami sebagai identifikasi sekaligus pembebasan unsur-unsur sekular dan mistik Jahiliyyah atas bahasa yang digunakan. (Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam and Secularism, ISTAC: 2014, 44)  Oleh karena itulah, memahami Islamisasi semata-mata sebagai ‘pelabelan’ atau ‘konversi’ agama adalah suatu kekeliruan. Islamisasi tidak hanya terbatas pada  simbol-simbol keagamaan namun lebih kepada spektrum pemikiran yang menjadi motor saintifik pergerakan ummat manusia; dan itu letaknya ada pada bahasa. Aslam Hanief meyakini proses tersebut dalam A Critical Survey of Islamization of Knowledge (IIUM Press: 2009, 37), “since language is the communicator of this worldview, Islamization necessarily begins with language”  Ilustrasi tersebut mengafirmasi hubungan antara semantik al-Qur’an dengan Worldview Islam dimana wahyu mengislamisasikan Worldview Jahiliyyah sebelumnya menjadi Worldview yang menjadi fondasi aktivitas intelektual Umat Islam. Hal ini sesuai dengan teori ‘paradigm shift’ ala Kuhnian; dimana al-Qur’an berperan sebagai Kitab Suci yang dibaca oleh Umat Islam dan menjadi motor revolusi sainitifik orang Arab Jahiliyyah dalam waktu yang bersamaan.  (Kuhn, 1996)

Kedua, menderivasikan sejumlah ayat atau hadist Nabi sesuai dengan keterkaitannya dengan konsep ‘alam’. Menarik untuk memahami alam dengan maknanya sebagai ‘lingkungan’ dalam bahasa arab ternyata memiliki akar kata yang sama dengan ilmu (ع-ل-م). Dalam Lisaan al-‘Arab karya Ibn Mandzur, misalkan. Kata ‘alama diderivasi awalnya dari ayat al-Qur’an Surat al-Hijr ayat 86:

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ 

Khallaq artinya Maha Pencipta; sementara ‘Aliim artinya maha mengetahui. Jikalau konsepnya ‘alam’ itu sendiri adalah bagian dari penciptaan Tuhan (makhluuq/ (مخلوق, maka seyogyanya alam itu juga menjadi sesuatu yang senantiasa diketahui Tuhan; atau dengan kata lain, alam menjadi sumber ilmu (‘ilm/ علم) sekaligus rambu atau tanda  (‘allaamah/  علامة) (A Dictionary of Modern Writing Arabic, 636) bagi makhluk-makhluk-Nya yang lain. Dalam penjelasannya, Ibnu Mandzur menulis bahwa Tuhan ‘Maha Mengetahui (baik) yang telah ada dan yang belum ada’ (‘Aalim bimaa kaana wa maa yakuunu qabla kawnihi, 3082). Konsekuensi yang hadir dari formula ini adalah pertama, bahwa alam mampu menjadi sumber ilmu dan pertanda yang diciptakan Tuhan atas manusia, dan sudah sepantasnya manusia benar-benar merefleksikan eksistensi alam sebagaimana sifatnya sumber ilmu dan pertanda. Konsepsi tersebut kemudian, mampu dikembangkan secara saintifik lewat cabang-cabang ilmu kekinian seperti meteorologi, fisika, geologi, dan lain sebagainya yang tidak lain tidak kecuali sumbernya dari alam.

Lisaan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur

Kedua, Penjabaran atas cabang-cabang keilmuan tersebut tentu saja bukanlah pekerjaan awam yang mampu dilaksanakan sebatas pengetahuan setitik saja, namun dibutuhkan ketelitian, kesabaran, percobaan berulang guna mendapatkan paradigma dan kerangka teori yang valid sebagai sebuah pandangan keilmuan. Para cendekiawan yang telah memfokuskan jerih payahnya atas upaya ini, diharapkan dalam tingkat lanjutnya kemudian mampu mengelaborasi hikmah ketakwaan berdasarkan penemuan-penemuan saintifik itu, sebagaimana firman Allah dalam surat Faathi ayat 28:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Khasiya/  خشي yang  secara makna artinya ‘takut’, secara bahasa juga bersinonim dengan Taqiya/ تقي, yang menjadi akar kata dari Muttaqun/  متقyang bermakna orang yang bertakwa. (Lisaan al-‘Arab, 1169). Konsekuensinya kemudian adalah bahwa secara konseptual, mengetahui (‘alima/  (علمsaja tidaklah cukup untuk menjadi standar seseorang untuk menjadi ‘Ulama,   namun juga mesti disertai ketakwaan sebagai simbol rasa takut, tunduk patuh pada Tuhan. Rasa ‘takut’ yang dimiliki oleh para ‘Ulama, Ilmuwan, cendekiawan, dan saintis ini akan mengantarkan mereka bekerja dengan penuh kesadaran bahwa dalam setiap aktivitasnya ada pengawasan Tuhan. Oleh karena itulah, diharapkan dengan pemahaman ini, segala macam kegiatan ilmiah terlaksana dengan maksud tidak lain untuk mendapatkan cinta dan perhatian Tuhan. Seorang Geologis Muslim, misalnya, akan mengerti bahwa pengetahuannya tentang ilmu-ilmu kebumian tidak hanya berfungsi sebatas pencarian sumber daya alam –minyak, gas, metal-, namun juga bisa dilakukan secara reflektif untuk menganalisa perkembangan kondisi alam dalam konteks pencegahan bencana  dan bahaya alam (natural hazards and disasters) demi kemaslahatan manusia. Sesosok Metalurgis Muslim pun, sebagai contoh, tidak hanya akan terbatas ilmunya pada pemahaman-pemahaman teoritis tentang sifat-sifat kimiawi dan fisik dari metal/besi, namun juga membudidayakan  setiap ilmunya sebagai sebuah bentuk kontinuitas penghayatan akan keterkaitan yang dimiliki segala macam unsur yang ada dikandung bumi; durasi periodik yang dibutuhkan dalam pembentukan metal, tentu saja berimplikasi secara reflektif kepada umur bumi, yang diharapkan kemudian mampu diikuti dengan pengungkapan kasih sayang atas lingkungan dalam rangka menjaga lingkungan berupa hidup bersih, mereduksi sampah lewat daur ulang, menjaga kemurnian air dari limbah, dan seterusnya. Hal-hal ini dapat dimaksimalkan secara sinergis oleh seorang Muslim yang bertakwa kepada Tuhan.

Lebih lanjut kemudian, kita dapati konsep alam dalam kata ‘alamin/ عالمين’ juga terkandung dalam ayat-ayat al-Qur’an. Menariknya adalah, dalam sejumlah besar kata ini disebut, dia senantiasa disandingkan dengan Rabb/  رب  yang artinya adalah Tuhan. Secara harfiah, Tuhan Semesta Alam (Rabbul’ Alamin) bisa dimaknai sebagai Raja atau Pemilik (Malik/ (مالك segala sesuatu yang ada di dunia ini. (Lisaan al-‘Arab, 1546). Interrelasi antara Tuhan dengan alam sebagai pemilik dan barang milik, menggambarkan betapa sesungguhnya adab-adab kealaman juga merupakan bagian dari adab kepada Tuhan. Menghormati alam juga semestinya dilandasi dengan Iman kepada Tuhan; atau sebaliknya, penghormatan terhadap alam adalah sebuah konsekuensi logis yang lahir sebagai makhluk yang beriman pada Tuhan. Iman (Imaan/ إيمان) artinya percaya; dia berasal dari akar kata yang sama dengan amina/  أمنyang artinya ‘mengamankan’ atau ‘menyelamatkan’. (Lisaan al’Arab, 141). Apa yang diamankan? Amanah (Amaanah/  أمانة). Diamankan dari apa? Dari pengkhianatan (Khiyaanah/  خيانة). Alam adalah amanah Tuhan yang harus ‘dijaga’ kemakmuran dan kelestariannya, maka eksploitasi berlebihan atas alam tentu saja tidak diizinkan karena selayaknya penggunaan sumber daya alam sesuai dengan standar kebutuhan yang diperlukan manusia. Jikalau kemudian ada seorang Muslim yang menggali sumber daya alam hingga merusak ekosistem kealaman, sesungguhnya dia telah melakukan ‘pengkhianatan’ tidak hanya pada alam namun juga pada Tuhan sebagai Pemilik alam yang sebenarnya.

Lebih dari itu, eco-theology Islam sesungguhnya tidak hanya terbatas ber-amaanah atas alam sebagai realisasi Imaan; namun juga secara nyata adalah bentuk Adab terhadap alam. Adab, sebagaimana dikonsepsikan oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas adalah “perilaku yang benar lahir dari kedisiplinan diri, dibangun di atas pengetahuan yang bersumber dari kebijaksaan”. Kebijaksanaan yang secara harfiah diartikan Hikmah/ حكمة maknanya secara konseptual adalah “Ma’rifatu Afdhali al-Asyaa’i bi afdhali al-‘uluum”; atau “mengetahui kelebihan segala sesuatu dengan keutamaan ilmu-ilmu pengetahuan.” (Lisaan al-‘Arab,  951). Menariknya, pengetahuan yang digolongkan ‘benar’ dalam pandangan hidup Islam tidak semata-mata berdasarkan observasi empiris ataupun kajian teoritis, namun juga jikalau manusia mampu mengakui dengan adil (‘adl/ عدل) wujud dan eksistensi Tuhan. (Prolegomena, 16).  Maka wajar jika dipahami bahwa eco-theology  Islam memang semestinya dibangun atas kebijaksanaan – dalam arti pengetahuan yang benar berupa pemahaman kongkrit akan interrelasi alam sebagai ciptaan dengan Tuhan sebagai Pencipta-. Adab-adab tersebut, juga perlu disadari kemudian sebagai sebuah realisasi puncak atas kebijaksanaan (Hikmah/Wisdom) yang dimiliki oleh seorang Muslim.

Oleh karena demikian, berikut sejumlah aspek konseptual yang mesti ditempuh secara kronologis guna aktualisasi adab-adab dalam eco-theology  Islam: Pertama, afirmasi nyata akan realitas penciptaan alam sesuai dengan Worldview/ pandangan hidup Islam; Kedua, pemahaman interrelatif antara konsepsi alam sebagai ciptaan dan Allah sebagai Pencipta; Ketiga, Implementasi saintifik lebih lanjut atas paradigma keilmuan dan kerangka terori terkait dengan cabang-cabang ilmu berdasarkan Worldview Islam berupa formula semantik-Qur’anik. Langkah-langkah inilah yang diharapkan mampu dijalankan sebagai panduan bagi umat Islam secara umumnya guna beradab kepada alam; atau lebih khususnya kepada para Alim-Ulama, Saintis dan Intelektual dalam cabang-cabang ilmu kealaman yang beragama Islam agar mengkaji melebihi ‘batas’ sains pada umumnya guna mendapati bagaimana selayaknya adab-adab kealaman dilakukan. Tidak hanya itu, golongan khusus ini juga berkewajiban untuk mengkritisi dan mengembangkan teori-teori saintifik atas ilmu-ilmu kealaman dalam lingkup interrelasi yang terus menerus antara ilmu kealaman dengan Worldview Islam. (*Bersambung ke Bag III)

Berita terkait:

Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. I)

One Reply to “Adab-Adab Kealaman dalam Eco-Theology Islam: Refleksi atas Tadabbur Alam Prodi Studi Agama-Agama Universitas Darussalam Gontor (Bag. II)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *