Al-Zarnuji dan Istiqamah dalam Menuntut Ilmu

Al-Zarnuji-istiqamah-ilmu-saa-unida-gontor-yuangga-kurnia-yahya

Al-Zarnuji dan Keistiqamahan dalam Menuntut Ilmu*

oleh: Yuangga Kurnia Yahya, M.A. (Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor)

Dalam salah satu karya monumentalnya, Ta’lim al-Muta’allim Tharīqu at-Ta’allum, Syaikh Burhaan al-Islaam Al-Zarnuji menuliskan satu bab yang komprehensif dan berkaitan dengan keadaan belajar (Al-Zarnuji , 2004: 19). Bab tersebut beliau sebut dengan ‘Fashl fi Ikhtiyār al-‘Ilm wa al-ustādz wa asy-syarīk wa ats-tsabāt’. Dalam Bahasa Indonesia, bab tersebut berarti `Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan` (Al-Zarnuji , 2009: 18). Pendek kata, bab tersebut berbicara tentang hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih ilmu yang akan dipelajari, guru yang kepadanya kita akan berguru, teman yang membersamai kita menuntut ilmu dan ketekunan.

Terma ‘ketekunan’ di sini menjadi cukup untik bila dibaca dengan ‘athaf untuk tartīb. Dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan oleh Syeikh Al-Zarnuji adalah `cara memilih ilmu, guru, teman, dan (juga memilih) ketekunan`. Karenanya, dalam kitab berbahasa Arab, ditambahkan tanda koma sebelum menulis ‘wa ats-tsabāt’ . Penambahan tanda baca ini tidaklah tanpa maksud dan tujuan, melainkan untuk membedakan antara huruf wāw tartīb dan wāw ma’iyyah dalam satu kalimat tersebut. Dengan kata lain, Masdar Ikhtiyār’ tidak meliputi kata ‘ats-tsabāt’’. Jadi, ketekunan bukanlah hal yang dipilih, meskipun dalam edisi terjemahan berbahasa Indonesia tidak dibedakan antara kata penghubung di awal dan di akhir kalimat ini.

Terkait Al-Zarnuji, Baca Juga: Mengenang KH Maimun Zubair

Harf wāw ma’iyyah yang mendahului kata ats-tsabāt membuatnya lebih mudah untuk dipahami sebagai `Cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan (setelah memilihnya)` (al-Suyuthi, tanpa tahun: 56). Hal inilah yang menjadi titik poin yang ingin disampaikan oleh syeikh Al-Zarnuji dalam bab tersebut. Ia menekankan hendaknya seseorang berpikir dan berikhtiyar sebelum memilih ilmu apa yang akan ia pelajari, siapakah guru yang hendak ia datangi untuk menimba ilmu tersebut, dan siapakah kawan yang akan menemaninya menuntut ilmu tersebut. Setelah ia menentukan pilihan, diharuskan baginya untuk tekun dalam menjalani pilihan tersebut.

Secara bahasa, kata ‘ats-tsabāt’ memiliki makna ‘dawām’ `permanen` atau ‘istiqrār’ `stabil` (al-Yasu’I, 68) atau ‘adamu at-taza’zu’I `tidak bergoncang` , ‘adamu at-taghayyur’ `tidak berubah`  atau mutsābarah ‘kesabaran’ (Ba’albaki, 2016: 476). Kalimat ini digunakan dalam beberapa kalimat, seperti ثبات الرسول وصبره yang menggambarkan kesabaran Rasul saat diusir oleh penduduk Thāif (al-Ghazali, 1965: 131) atau ثبات الرسول ‘kesabaran Rasul` dalam Ghazwah Uhud (‘Abd al-Jabbār, 2018: 22), yaitu ketika sebagian besar umat muslim meninggalkan Gunung Uhud karena kekalahan mereka. Namun, penerjemah kitab tersebut lebih suka menggunakan terma ‘ketekunan’ karena dekat dengan istilah dalam pembelajaran.

Tafsir Kontemporer al-Maraghi

‘Ketekunan’ ditulis di akhir dan meliputi ketiga hal yang telah dipilih menandakan cakupannya atas ketiga hal tersebut. Ketekunan amat diperlukan setelah memilih ilmu, guru, dan kawan karena bisa jadi pilihan yang telah diambil tersebut tidak sesuai dengan harapannya di awal atau justru terasa sangat menyulitkan. Sebaliknya, tidak sedikit akan timbul rasa penyesalan melihat kawannya atau golongan lain yang memilih ilmu lainnya, guru lainnya, atau memiliki mitra belajar yang lain. Mereka terlihat lebih mudah, lebih bersemangat, dan (nampaknya) lebih menjanjikan dibandingkan apa yang telah ia pilih.

Fenomena tersebut juga disinggung dalam sebuah pepatah Jawa “Urip iku sawang sinawang” `hidup itu adalah saling melihat` (Hidayati, 2017: 592; Hidayat, 2019: 174). Ketika kita menjalani hidup, kita terbiasa untuk melihat kepada pihak lainnya. Saat kita merasa bahwa usaha yang kita jalani, studi yang kita tempuh, atau jalan hidup yang kita pilih tidak seindah yang dibayangkan, kita seringkali membandingkan apa yang kita alami dengan apa yang orang lain alami.

Perasaan ini terasa semakin berat dengan adanya media sosial. Mulai dari status WhatsApp, Facebook, Twitter, Instagram hingga YouTube memberikan gambaran seolah hidup mereka jauh lebih indah dan lebih baik dibandingkan hidup kita hari ini. Hal yang disebut ‘persepsi’ (Hidayat, 2019: 174) inilah yang menjadi salah satu tantangan terbesar dalam hidup, dalam hal ini adalah sebagai pelajar. Padahal, sebagaimana disebutkan pepatah Jawa tersebut, sejatinya mereka pun akan memiliki pikiran bahwa hidup orang lain (termasuk hidup kita) jauh lebih baik daripada yang mereka rasakan. Perbedaannya adalah mereka tidak (terlihat) mengeluh dan tidak menampakkan kesulitan yang mereka juga alami di hadapan orang lain.

Karenanya, yakinilah apa yang telah kita pilih, jalani, dan istiqamah atau dalam bahasa Syeikh Al-Zarnuji ‘tekunlah’ di dalamnya. Hidup orang lain tidak jauh lebih baik dari hidup kita. Bahkan, tidak sedikit mereka yang ingin menjalani apa yang telah kita jalani hari ini. Mengutip pepatah Jawa lainnya “Akehno anggonmu nyukuri nikmat nganti lali anggonmu sambat” `perbanyaklah dirimu dengan mensyukuri nikmat hingga kau lupa untuk mengeluh`Wallahu a’lam bi’sh-Shawāb.

*materi disampaikan di Kultum Ba’da Zuhur di Masjid UNIDA Gontor, Selasa, 24 Maret 2020.

Daftar Pustaka

Bālbaki, Rohi. 2016. Al-Mawrid al-‘Araby. Beirut: Dāru’l ‘Ilm Li’l Malāyīn

al-Ghazali, Muhammad. 1965. Fiqh As-Sīrah. Cet. VII. ‘Abidin: Daar al-Kutub al-Hadiitsah

Hidayat, Komaruddin. 2019. Agama untuk Peradaban: Membumikan Etos Agama dalam Kehidupan. Ciputat: CV. Alvabet.

Hidayati, Nur. 2017 Potret Budaya Jawa dalam Novel Weton Bukan Salah Hari Karya Dianing Widya Yudhistira. Jurnal Mahasiswa UNY Bahasa dan Sastra Indonesia S1. Vol. 6, No. 5, 586-605

Al-Suyūthi, Imam Jalāl ad-Dīn. Tanpa Tahun. Alfiyah as-Suyūthi an-Nahwiyyah. Mesir: Daar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah

Al-Yasū’I, Louis Ma’lūf. 2015. Al-Munjid fi’l Lughah wa’l Adab wa’l ‘Ulūm. Beirut: al-Mathba’ah al-Kātsūlīkiyyah.

Al-Zarnuji , Burhaan al-Islam. 2004. Ta’lim al-Muta’allim Thariiqu at-Ta’allum.  Khartoum: Daar as-Soudania Li al-Kutub

Al-Zarnuji , Burhaan al-Islam. 2009. Terjemah Ta’lim al-Muta’allim. Terj. Abdul Kadir Aljufri. Surabaya: Mutiara Ilmu

Abd’ Jabbār, Umar. 2018. Khulāsotu Nūr al-Yaqīn fi Sīrati Sayyid al-Mursalīn. Juz III. San’a: Maktabah al-Irsyād.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *