Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa

saksi-saksi yehuwa manado studi-studi agama unida gontor

Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa

Manado – Setelah mengunjungi komunitas Yahudi, Katolik, Advent, dan MUI, sivitas akademika Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor beranjak menuju Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa. Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa terletak di Karombasan, Wanea, Manado, Sulawesi Utara. Dalam kunjungan yang dibimbing oleh Kaprodi SAA, al-Ustadz Asep Awaludin, M.Ag., dan Dosen Pembimbing Akademik, al-Ustadz Kholid Karomi, M.Si., ini, mahasiswi bertujuan untuk dapat mengetahui  sejarah, teologi, dan liturgi komunitas Saksi-Saksi Yehuwa. Pendeta David selaku pemimpin keagamaan Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa menyambut kunjungan Prodi SAA.

Objek kali ini disebut sebagai ‘balai’, karena memang tempat yang dikunjungi merupakan sebuah gedung untuk pertemuan (balai). Balai ini juga tidak menyerupai tempat tempat peribadatan umat Kristen pada umumnya,yang identik dengan simbol salib dan patung bunda Maria. Menurut Pendeta David, hal ini dikarenakan saksi-saksi Yehuwa tidak mengerjakan apa yang tidak tertulis di dalam Alkitab. Salib dan Patung Bunda Maria, bukanlah ajaran Kristiani. Demikian penjelasan Pendeta David.

Lihat Juga: Religiusitas Kristen Advent Hari Ketujuh

Saksi-Saksi Yehuwa mengklaim bahwa mereka merupakan umat kristen penganut ajaran Al-Kitab yang taat karena hanya mengerjakan apa yang tertera di dalamnya saja. Para jemaat pun sepakat memilih kata kerajaan sesuai yang paling sering dibicarakan dengan 5 Alkitab yaitu tentang kerajaan Allah.

Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa adalah salah satu organisasi agama dengan jumlah anggota yang ada diseluruh dunia. Di Indonesia sendiri ada sekitar 26 ribu anggota jemaat yang terkumpul di dalam ‘Sidang’. Sementara di di Manado sendiri, ada sekitar 8 Sidang Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa. Jika satu Sidang dapat mencakup 100 hingga 150an orang, maka hampir ada sekitar seribuan pengikut Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa ada di Manado.

Sejarah, Teologi, dan Liturgi Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa

Aliran ini muncul bermula dari tangan Charles Taze Russell pada tahun 1870 di Pennsylvania.  Dalam perjalanan masuknya organisasi ini ke Indonesia mulanya di bawa oleh  Frank atas usul dari Alexander Mac Gillivray yang merupakan jemaat cabang Australia untuk membuka daerah pengabaran di Batavia (Jakarta) pada tahun 1931. Sekte ini kemudian menyebar ke seluruh Indonesia dan sampai di Manado pada tahun 2011.

Dalam sistem kepercayaan jemaat Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa ada sepuluh dasar kepercayaan, yaitu :

  1. Al- Kitab ( yang terdiri dari 66 buku dalam perjanjian lama dan baru )
  2. Pencipta ( Allah )
  3. Yesus Kristus
  4. Kerajaan Allah
  5. Bumi
  6. Nubuat Al- Kitab
  7. Kalangan berwenang sekuler
  8. Pengabaran ( doktrin )
  9. Baptis
  10. Pembeda golongan pemimpin dan kaum awam.

Dalam konteks kitab suci, Alkitab Saksi Saksi Yehuwa memiliki kitab terjemahan dunia baru yang tersusun lebih sederhana dan bisa dipahami oleh semua kalangan umur. Hal ini dikarenakan dalam kitab terjemahan dunia baru ini dilengkapi dengan simbol- simbol syang menjelaskan beberapa makna tertentu dalam Alkitab.

Dalam pandangan teologis Saksi-Saksi Yehuwa, Tuhan Allah adalah pencipta karena memiliki alam kehidupan dan ia adalah sumber kabar baik dari Alkitab. Allahlah yang memberikan kehidupan dan hanya Allah yang patut manusia sembah. Itu adalah dasar kepercayaan mereka yang tertuang dalam Marmur 90:2, Timotius 1:11 dan juga Wahyu 4:11.

Yesus menurut Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa

Bagaimana dengan Yesus? Yesus dalam pandangan teologis mereka adalah raja tertinggi dari kerajaan Allah di bumi yang akan turun di hari akhir sebagai juru selamat. Sebagai Raja, Yesus juga merupakan seorang Rasul yang diutus untuk memerintah di kerajaan Allah di bumi ini. Menariknya, Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa  menolak konsep tritunggal (trinitas) sebagimana majornya dipercayai umat Katolik. Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa juga tidak melaksanakan Misa ataupun Natal karena dalam pandangan teologis mereka, hanya ada peringatan kematian Yesus Kristus.

Mereka juga tidak memperbolehkan transfusi darah kepada anggota jemaat yang membutuhkan, meskipun  dalam keadaan kritis atau pasien adalah kerabat atau keluarga  jemaat. Solusinya adalah jemaat harus terus berusaha mencari alternatif atau cara lain selain transfusi darah dalam penyembuhan pasien. Hal ini dikarenakan di dalam kepercayaan mereka bahwasanya darah merupakan sesuatu yang suci. Jika darah ditransfusikan dari satu badan ke badan yang lain, akan berpengaruh kepada kesucian darah tersebut. Masyarakat Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa berusaha mencegah bercampurnya darah dari satu orang ke orang yang lain yang belum terbukti kemurniannya agar bebas penyakit.

Secara liturgis, jemaat sekte ini ada melaksanakan dua kali ibadah dalam satu pekan. Dua kali tersebut yakni perhimpunan tengah pekan dan akhir pekan. Misalkan, khutbah di laksanakan pada sabtu pagi, minggu pagi dan minggu sore. Materi khutbah yang dipelajari di seluruh Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa yang ada di dunia ini. Acara ditutup dengan perfotoan bersama di depan gedung Balai Kerajaan Saksi-Saksi Yehuwa. (Diana/Virda/Jihan)

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *