Bedah Buku Mawaqif Beriman dengan Akal Budi

bedah-buku-mawaqif-beriman-dengan-akal-budi2

Bedah buku Mawaqif Beriman dengan akal budi.

Demi menambah wawasan pengetahuan mahasiswi, Dewan Mahasiswi (DEMA) Universitas Darussalam Gontor Kampus 5 Kandangan mengadakan seminar Bedah Buku Mawaqif; Beriman dengan Akal Budi bersama sang penulis buku tersebut, yaitu Al Ustadz Henri Shalahuddin, Ph.D. Seminar yang bertajuk keimanan ini juga turut dihadiri oleh beberapa dosen Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor Ponorogo dan sejumlah rekan dari BEC Pare.

Dalam sambutan acara yang dilangsungkan di Aula utama Gontor Putri Kampus 5 ini, Dekan Fakultas Ushuluddin, Al Ustadz Syamsul Hadi Untung, M.A, M.Ls mengemukakan bahwa belajar ilmu itu bukan hanya sekedar membaca dan tahu tapi harus juga paham dengan maksud dan tujuan mempelajari ilmu tersebut. “Bedah buku ini sangat cocok terlebih untuk semester 2 yang baru belajar Ilmu Kalam.” Tukas beliau pada sambutan tersebut. Banyak orang yang menganggap bahwa Ilmu Kalam mempunyai pembahasan yang terlalu berat dan tidak praktis, bahkan diharamkan, dan itu berdampak pada hilangnya walaa’ wal baraa’.

Anggapan sebagian umat Islam bahwa agama dan keyakinan merupakan urusan pribadi atau ranah privasi yang menyebabkan banyaknya kerancuan dalam kehidupan umat muslim. Contohnya saja seperti pemisahan antara hukum yang di syariatkan agama dan Undang-Undang (UU),  serta adanya kebingungan kolektif dalam menyikapi hal-hal yang seharusnya diselesaikan dengan melalui diskusi dan argumentasi tapi malah dengan melakukan mubahalah, stigmatisasi, sumpah pocong, dan lain-lain sebagianya. Fenomena inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan peraih gelar Doktor di University Malaya Kuala Lumpur ini menulis buku tersebut. Jadi, tak heran jika banyak orang yang hatinya sudah beriman dan bersyahadat tapi pikirannya tidak sesuai dengan imannya. Begitupun sebaliknya.

Baca Juga: Bedah Buku Mawaqif bersama Pendekar Gender di UNIDA Gontor Putri

Argumentasi yang cukup banyak keliru diungkapkan seperti argumen yang mengatakan beragama itu yang penting baik sama orang dan tidak mengganggu, atau pertanyaan-pertanyaan yang mengecohkan pikiran “Mana yang lebih baik, menjadi orang bermoral atau religius?” Pertanyaan ini, seakan-akan menyatakan bahwa moralitas tidak terkait dengan religiusitas, atau dengan kata lain, religiusitas tidak memberikan fondasi moralitas. Asumsi ini juga melahirkan keraguan akan yang harus di dahulukan; wahyu atau akal? Menurut Ustadz henri, fenomena ini adalah bukti dari ketidakselarasan hati, lisan dan jawarih.

“Jikalau yang dipikirkan berkualitas, maka apa yang diomongkan, dan tingkah lakunya juga pasti berkualitas.” Ujar peneiti senior INSISTS ini pada akhir pembahasannya. Maka untuk sebuah keimanan yang sempurna, iman tidak cukup hanya dilafadzkan atau disimpan dalam hati saja, tapi sesuai dengan maknanya, iman adalah yang diyakini di dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan direalisasikan dengan amal sebagai tolak ukurnya. (Mudawamatul Muajahah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *