Deislamisasi Sejarah Indonesia: Analisa Pengaruh Kolonialisme Barat atas Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (I)

Deislamisasi Sejarah Indonesia: Analisa Pengaruh Kolonialisme Barat atas Sejarah Peradaban Islam di Indonesia (Tulisan Pertama dari Dua Bagian)

Oleh Alif Nur Fitriani/ Mahasiswi Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Pengantar Sejarah sebagai Ilmu dalam Islam

Sejarah sebagai landasan dasar penuntunan wahyu yang diterima oleh Rasulullah SAW berdampak besar dalam mengubah rasa, karsa dan cipta umat yang mengimaninya. Tanpa sejarah yang benar, manusia akan keilangan jati dirinya. Kejahilannya terjadi sebagai dampak kehilangan sejarahnya. Hanya dengan kembali memahami sejarah secara benar akan terselamatkan dari keruntuhan derajat manusianya.

Sejarah juga bersifat sebagai ilmu sebagaimana halnya ilmu-ilmu yang lainnya mengalami perubahan hasil penelitiannya tentang kebenaran ilmu pengetahuan. Hal itu semua dikarenakan pengaruh zaman yang tidak hanya mengalami perubahan penemuan fakta dan interpretasi termasuk dalam produk-produk keilmuannya seperti artikel, buku, dan lain sebagainya.

Pentingnya mempelajari sejarah dalam ajaran Islam sudah disadari semenjak zaman Sahabat. Umar bin Khattab r. a., sebagai contoh. Sebagaimana dicatat oleh Muhammad Rasyid Ridha, Sayyiduna Umar berkata bahwa “Tali pengikat Islam akan putus seutas demi seutas jika kaum Muslimin tidak mengerti sejarah atau berada dalam Zaman Jahiliyyah (Muhammad Rasyid Ridha, 1954: 24).

Makna hakiki sejarah adalah melibatkan spekulasi dan upaya menemukan kebenaran, penjelasan kritis tentang sebab dan asal muasal kebenaran dan kedalaman pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa mengenai peristiwa-peristiwa sejarah, dan karenanya berakar kokoh dalam filsafat dan layak diperhitungkan sebagai cabang filsafat (Ibnu Khaldun, 1958 :6). Dalam konteks ini, Menurut Ibnu Khaldun, yang harus dipelajari  tentang hakekat sejarah adalah filsafat sejarah dan melakukan kritik informasi terhadapnya (Tygve R. Tholsen, 1969: 217). Ada dua pilar penting dalam membahas tumpuan teori sejarah: Pertama eksistensi fakta; Kedua, metode yang mampu membedakannya secara ilmiah. Jikalau manusia mau untuk mempelajari sejarah secara kritis seperti disampaikan oleh Ibnu Khaldun, maka  siapapun tidak akan terperangkap didalam ketidakbenaran berita; -atau bahkan- fanatik terhadap sebuah kabar yang belum pasti kebenarannya. Mengomentari ini, Nourouzzaman Shiddiqi menulis bahwa jika seseorang faham dengan sejarah dan menelaahnya dengan baik maka ia akan mengambil ibarat dari kebenaran, bukan ibarat dari kepalsuan (Nourouzzaman Shiddiqi, 2004: 85-86).

Kelahiran dan Pengaruh Imperialisme Barat Kristen atas Deislamisasi 

Terkait dengan deislamisasi, sekiranya perlu kita tuturkan kembali bagaimana awal mula kelahiran imperialisme Barat karena secara umum, masyarakat kurang memahami bahwa target sasaran utama imperialisme adalah untuk menaklukan Islam. Di samping itu, masyarakat juga lupa bahwa imperialisme barat pertama kali muncul dari gereja Vatikan sebelum kemudian dikembangkan dan dibawa oleh Kerajaan Katolik Portugis dan Spanyol pertama kali pada abad ke 15 M. Tidak hanya Katolik, namun bahkan sekte Protestan dan Calvinis pun juga mempelopori berdirinya Imperalisme Barat Modern yang dalam perkembangannya juga terkait dengan berjalannya Kapitalisme. (Ahmad Mansur Suryanegara, 2015:157-158) Deislamisasi Sejarah Islam, semestinya dirujuk pertama kali dari situ.

Naskah Perjanjian Tordesillas yang tersimpan di Biblioteca Nacional de Lisboa

Imperalisme Barat dapat kita lihat pertama kali hadir dari perjanjian Tordesilas Spanyol, 7 Juni 1494 M. Perjanjian yang dibuat oleh Kerajaan Katolik Portugis dan Katolik Spanyol ini berisikan kewenangan yang diberikan oleh Paus Alexander kepada Kerajaan Katolik Portugis untuk menguasai dunia belahan timur, sementara dan Kerajaan Katolik Spanyol mendapatkan otoritas untuk menguasai dunia belahan Barat (Hans W, 1957: 254). Paus Alexander membenarkan imperialisme dengan 3 tujuan utama yaitu Gold, Glory, and Gospel. Gold, bermakna memperoleh kekayaan dari tanah jajahan. Gospel, pengembangan agama ditanah jajahan, dan Glory dimana memperoleh kekayaan dan pengembangan agama disitulah akan mendapatkan kejayaan. Tragis untuk memahami sebetulnya, ketika Kerajaan Katolik Portugis bisa sampai ke India diantar oleh seorang Muallim (pengajar) bernama Ahmad bin Majid, karena pada saat itu tidak seorang pun dari barat yang sudah pernah menyeberangi Samudera Persia atau Samudera India nama baru dari Barat Dalam catatan Sir Thomas Arnold, Ahmad adalah seorang navigator muslim dan penemu kompas pertama yang ‘tertipu’ dimana dia tidak tahu tujuan utama dari pasukan Imperialisme Portugis. . (Sir Thomas Arnold, 1965: 96).

Ada sejumlah fakta terkait dengan deislamisasi sejarah yang bisa kita lihat di awal ini. Pertama, jikalau kita secara konsisten mengikuti gambaran peta bumi yang dilukis Al-Biruni (973-1048 M), nama Samudera India sebenarnya adalah Samudera Persia. Hanya setelah Imperialisme Barat berkuasa, digantilah namanya menjadi Samudera India. ( Sir Thomas Arnold dan Alfred Guilaume, 1965: 87). Kedua, demikian pula nol meridian yang semula melintas Makkah sebagai petunjuk arah kiblat, ia kemudian diganti oleh Kerajaan Protestan Anglikan Ingris melewati Greenwich di London. Determinasi inilah yang kemudian secara potensial mengakibatkan perubahan orientasi Sejarah Dunia; di mana Informasi sejarah tentang aktivitas pasar di Arab kurang banyak dipahami oleh sejarawan di Asia. Umumnya, sejarawan barat selalu mengecilkan peranan pasar di Arabia, namun lebih mengangkat peranan pasar di India atau Cina dalam penulisan sejarah.

Jacob Cornelis van Leur (1908-1942)

Tidak hanya itu, deislamisasi sejarah juga akhirnya mengakibatkan sejumlah cendikiawan mengikuti hasil penulisan sarjana Barat seperti yang digambarkan dalam teori Prof. Dr. C. Snouck Hurgronje. Hurgronje meyakini bahwa Islam masuk ke Indonesia dari Gujarat, karena menurutnya mustahil jika Islam langsung masuk ke Indonesia tanpa melalui ajaran tasawuf India (Ahmad Mansur Suryanegara, 2015, 101). Data ini padahal sesungguhnya tidaklah tepat. J.C Van Leur, misalnya, menyatakan bahwa pada tahun 674 M di pasar barat Sumatra telah terdapat hunian bangsa Arab Muslim yang menetap disana (J.C Van Leur, 1995: 111). Thomas W. Arnold  pun menulis dalam dalam The Preaching of Islam bahwa eksistensi wirausahawan Arab yang menetap dipantai barat Sumatra di kala itu (6 Masehi) benar adanya (Thomas W. Arnold, 1979: 318)… (Bersambung ke Bagian II)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *