Mempelajari Eskatologi Hinduisme bersama PHDI Surabaya

eskatologi-hinduisme-spl-studi-pengayaan-lapangan-ushuluddin-saa-kandangan-phdi-surabaya-1

Eskatologi Hinduisme dan Penjelasannya bersama PHDI Surabaya

Kandangan- Selasa (9/2), Sesi berlanjut hingga sesi ketiga masih dengan tema Hinduisme dalam acara Studi Pengayaan Lapangan (SPL) yang dilakukan secara daring oleh Mahasiswi semester VI Prodi Studi Agama-Agama (SAA), Universitas Darussalam Gontor Kampus 5 Kandangan. Sesi ketiga ini mengundang Bapak Ida Bagus Ketut Bayangkara selaku ketua Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) di Surabaya, Jawa Timur, dengan mengangkat judul “Eskatologi Hinduisme”.

Bapak Ida Bagus mengawali diskusi pagi itu dengan mengenalkan akar kata Eskatologi yaitu Echatos yang dalam Bahasa Yunani berarti terakhir, atau sebuah peristiwa akhir atau nasib dari seluruh umat manusia yang biasa disebut sebagai kiamat. Eskatologi Hinduisme sendiri disebut dengan Pralaya.

Bapak Ida Bagus Ketut Bayangkara menjelaskan,“Ketika terjadi Praktika Pralaya alam akan hancur dan lenyap lalu kembali kepada Brahma. Dan perjalanan jiwa setelah Pralaya dibagi menjadi 3 tahap. Pertama, jiwa berpisah dengan tubuh, Kedua, penikmatan karma, Ketiga, menuju kelahiran kembali atau Reinkarnasi.”

Terkait Eskatologi Hinduisme Baca Juga Konsep Karmaphala

Beliau juga menjelaskan, bahwa “Tujuan dari kehidupan untuk umat Hindu adalah mencapai Moksha dan Jagathita bukan surga atau neraka.” Jadi, jika ingin mencapai Moksha atau Bersatu dengan Tuhan, para umat Hindu dianjurkan untuk melakukan keharmonisan terhadap Tuhan sebagai Penguasa segala Isi, lalu terhadap Manusia selaku sesama makhluk hidup, dan juga kepada Alam semesta yang selalu memberikan apa yang dibutuhkan oleh manusia. Konsep ini dikenal sebagai Tri Hita Karana atau ‘Tiga Sumber Kesejahteraan’. Maka dari itu, wajib bagi setiap umat Hindu untuk memelihara Alam, karena terjadinya bencana alam adalah suatu proses yang disebabkan oleh manusia karena tidak bisa bersahabat dengan Alam.

Beliau juga mengatakan tentang reinkarnasi sebagai berikut: “Jiwa memiliki 2 pilihan atau kesempatan, Pertama, jika ada yang tercerahkan atau memiliki kesadaran Tuhan atau selalu berbuat baik, maka orang itu bisa mencapai Moksa dan bersatu dengan Tuhan, Kedua, jika seseorang itu melakukan banyak keburukan maka akan bereinkarnasi guna memperbaiki kesalahannya di masa lampau.” Kesimpulan utama yang dapat diambil adalah bahwa Umat Hindu harus berbuat baik dan melakukan keharmonisan kepada Tuhan, Manusia dan Alam untuk mencapai Moksha.

Lihat Juga Berita tentang Studi Pengayaan Lapangan Lainnya

Selanjutnya adalah epilog dari pembimbing SPL, Al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A, beliau mengatakan “Dalam kehidupan Umat Hindu, yang dilihat tidak hanya tentang ritual saja untuk menuju Tuhan, tetapi juga harus membudidayakan alam, dan juga menjaga keharmonisan sesama manusia.” Acara ditutup dengan sesi perfotoan bersama Bapak Ida Bagus Ketut Bayangkara dan juga pembimbing SPL. (Reporter: Aulia Putri Narenda/ Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)