In Memoriam Drs. KH. Ahmad Shobiri Muslim, M.Ag: Guru Santri dan Masyarakat

ahmad-shobiri-muslim-saa-unida-gontor-ushuluddin-2

In Memoriam Drs. KH. Ahmad Shobiri Muslim, M.Ag: Guru Santri dan Masyarakat

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya, M.A. (Dosen Prodi SAA Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor)

Universitas Darussalam Gontor kembali berduka atas kehilangan seorang Masayikhnya. Drs. KH. Ahmad Shobiri Muslim, M.Ag., Dosen Senior di Program Studi Studi Agama-Agama (SAA), menghembuskan nafas terakhir pada Ahad, 15 Februari, pukul 04:00, tepat ketika adzan Shubuh berkumandang. Dosen IAIN Kediri ini berpulang ke rahmatullah dalam usianya yang ke 61 tahun.

Tak terkira kehilangan yang dirasakan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor dan Universitas Darussalam Gontor secara khusus, dan juga masyarakat Kediri secara umum. Hal ini dikarenakan kiprah beliau yang cukup gemilang, baik dalam urusan akademis maupun urusan kemasyarakatan.

Pria yang tinggal di dusun Grogol, Desa Singonegaran, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini memiliki keahlian di bidang Ushuluddin dan Pemikiran/Filsafat. Di samping menjadi Dosen Tetap di IAIN Kediri, beliau juga menjadi dosen tidak tetap di Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor sejak awal tahun 2000an. Dalam catatan, Almarhum Drs. KH. Ahmad Shobiri Muslim MA adalah Dosen dengan nomor urut 1 di UNIDA Gontor Kampus Kediri. Hal ini tidak lain karena beliau adalah salah seorang Tenaga Pengajar Pertama ketika UNIDA Gontor Kampus Kediri didirikan.

Di antara Mata Kuliah yang diampu almarhum adalah Orientalisme, Oksidentalisme, Yudhaisme, dan Perkembangan Teologi Kristen Modern (PTKM) yang merupakan kepakaran beliau, yaitu Agama Semit.

Di mata mahasiswa, beliau adalah sosok dosen yang inspiratif dan teladan. Saat mengajar, beliau menjadi seorang guru yang memiliki banyak pengetahuan, atau yang di dalam bahasa Gontor “Ghaziirul Maaddah” alias `memiliki banyak materi`. Ketika mendengarkan beliau menjelaskan, para mahasiswa dapat secara gamblang merasakan bagaimana kondisi saat reformasi gereja berlangsung, bagaimana kondisi pemikiran di Eropa sebelum masa Rennaisance, dan bagaimana semangat Hassan Hanafi dalam membangkitkan semangat Oksidentalisme.

Hal ini dikarenakan berbagai literatur yang beliau baca disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh mahasiswa.  Berbagai literatur berbahasa Inggris diolah sedemikian rupa dan disampaikan dalam bahasa Arab fushah yang sesuai dengan taraf kemahiran mahasiswanya. Tak lupa beliau juga sering memberikan quotes-quotes dari pada tokoh dalam bahasa asli mereka, baik bahasa Inggris maupun bahasa Latin yang disertai buku yang menjadi sumber rujukannya agar para mahasiswa dapat mengakses langsung dari sumber primernya.

Beliau juga menjadi favorit mahasiswa saat mendekati penyelesaian tugas akhir atau skripsi. Tidak sedikit mahasiswa yang berkunjung ke rumah beliau untuk berkonsultasi terkait penelitian dan referensinya. Bahkan, beberapa mahasiswa justru berkunjung ke rumah beliau tanpa modal apa-apa terkait penelitian. Namun, beliau dengan cerdas mampu membaca minat penelitian para mahasiswa dan mencoba menggali lebih dalam tentang tema terkait. Ini dilakukan agar mahasiswa mampu menemukan masalah akademik yang akan dibahas dalam tugas akhirnya. Di akhir, beliau akan memberikan banyak buku referensi yang berasal dari perpustakaan pribadi beliau. Meskipun seringkali beberapa buku tidak kembali (mungkin karena mahasiswa yang terlalu menikmati isi buku tersebut atau lupa), namun beliau tidak tampak kapok untuk meminjamkan para mahasiswa referensi dari gudang ilmu tersebut.

Di masyarakat, beliau juga dikenal sebagai pribadi yang luwes, teladan, dan mengayomi masyarakat. Pembinaan di masyarakat dimulai dari keaktifan beliau mengisi berbagai pengajian-pengajian di Kota Kediri. Hal ini dilanjutkan bahkan ketika beliau menjabat menjadi Lurah di Desa Ngreco Kecamatan Kandat Kabupaten Kediri. Selain itu, beliau juga pernah menjabat menjadi Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kediri. Setelah masa bakti sebagai ketua FKUB purna, beliau masih aktif menjadi dewan Pembina di forum tersebut untuk menyebarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Pada 2016 misalnya, beliau menjadi narasumber dalam sarasehan “Rumahku Surgaku” yang diadakan oleh Wakil Walikota Kediri bertempat di Ruang Joyoboyo, Balai Kota Kediri. Dalam sarasehan tersebut, beliau menekankan pentingnya peran keluarga dalam menghadapi virus-virus LGBT.

KH Ahmad Shobiri Muslim berbicara di FKUB Kota Kediri bertajuk ‘Tantangan Keluarga Menghadapi LGBT’

Tidak berhenti di situ, pria yang merupakan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 1978 ini juga aktif menjadi dewan Pembina di berbagai organisasi masyarakat. Beliau menjadi anggota Dewan Pembina Institut Agama Islam Faqih Asy’ari (IAIFA) Sumbersari, Kencong, Kepung, Kediri dan Dewan Penasihat Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Darussalam Gontor Cabang Kediri. Salah satu pesan beliau kepada seluruh binaannya adalah bagaimana caranya agar seluruh anggota dapat menjadi bermanfaat bagi orang lain, baik secara individu maupun secara organisasi.

Berbagai kegiatan di masyarakat tersebut beliau bagikan sebagai bentuk potret baik kerukunan antar umat beragama di Kediri. Pada 2018, beliau meneliti tentang urgensi materi khatib kyai kampung sebagai upaya deradikalisasi agama di Kab. Kediri. Penelitian ini dilanjutkan dengan artikel berjudul “Kearifan Lokal dan Peran Elit Agama dalam Merawat Toleransi antar Umat Beragama di Akar Rumput” dalam jurnal Empirisma pada 2019. Di awal 2020, beliau bersama Saiful Mujab juga menulis buku berjudul “Toleransi yang Terangkai” yang merupakan potret kerukunan antar umat beragama di Dusun Kalibago, Desa Kalipang, Kecamatan Grogol, Kediri.

Berbagai rekognisi beliau di atas membuktikan bahwasanya beliau bukan hanya guru yang pandai berteori di dalam kelas, namun seluruh tenaga dan daya upaya beliau baktikan dalam membangun kerukunan dan toleransi antar umat beragama dengan mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemuka agama, akademisi, pemerintah, hingga masyarakat di akar rumput. Ketika beliau berpesan kepada para muridnya untuk menjadi bermanfaat, sesungguh beliau telah mempraktikkan apa yang beliau nasihatkan. Beliau memahami betul bahwa “guru” itu harus “digugu dan ditiru” oleh seluruh muridnya, bahkan orang-orang di sekitarnya.

Sebagai penutup, saya dan seorang kawan pernah berteduh di suatu masjid di Kota Kediri. Ada seorang bapak-bapak yang ikut berteduh di masjid itu. Dari sekedar basa-basi, terjalinlah percakapan antara kami.

“Sekolah di mana dek?”

“Di Gontor pak”

“Murid Pak Shobir donk ya?”

“Pak Shobir?”

Kami mengernyitkan dahi. Nama itu seolah asing di telinga kami, tapi si Bapak Nampak sangat yakin. Saya pun coba menebak-nebak.

“Pak Shobiri ya pak?”

“Iya betul, pak Shobiri. Kami memanggilnya Pak Shobir.”

“Oh iya, betul pak.”

“Hebat ya Gontor itu.” Beliau meneruskan pembicaraan, ”Hebat karena bisa mendidik orang menjadi seperti Pak Shobir. Beliau itu benar-benar dihormati oleh warga sini, khususnya kami para pengurus musholla di sekitar Kota Kediri. Andaikan saja orang seperti beliau banyak, pasti kota ini lebih tentram lagi.”

Kami hanya bisa saling bertatapan sembari membayangkan betapa besar dedikasi guru kami untuk masyarakat.

Tak terasa hujan mulai reda dan kami berniat melanjutkan perjalanan. Ketika berpamitan, bapak tersebut berpesan kepada kami “Kalian belajar yang rajin ya, biar nanti bisa sehebat Pak Shobir dan bermanfaat bagi orang banyak.” kami serempak menjawab “Aamiin pak, mohon do’anya.”

Kemarin, engkau telah berpulang. Tetapi ingatlah, bila di kemudian hari murid-muridmu menjadi orang yang bermanfaat, Insya Allah ada jariyah pahalamu di sana. Selamat jalan guru kami. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)