INSISTS: Membaca kembali Radikalisme

https://saa.unida.gontor.ac.id/wp-content/uploads/2019/12/insists-seminar-radikalisme-spl-ushuluddin-saa-studi-agama-agama-unida-gontor.jpeg

Jakarta – Ahad (8/12) Peserta Studi Pengayaan Lapangan (SPL) Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melanjutkan perjalanan di  Jakarta Selatan menuju kantor INSISTS Beralamat di Jalan Kalibata Utara II No. 84 Jakarta 12740.

Diskusi dimulai pada pukul 10.00. Al Ustadz Yuda Hidayat selaku Staff INSISTS menerangkan awal mula berdirinya organisasi ini.pada tahun 2004, diprakarsai oleh sejumlah mahasiswa dan alumnus ISTAC Malaysia dengan mempublikasikan buletin pertama yang dicetak sekitar 150 eksemplar dan tebal 10 halaman. Buletin yang diedarkan dengan infak Rp. 2000 ini memuat tulisan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi berjudul “Cengkeraman Barat dalam Pemikiran Islam”. Kantor INSISTS saat ini, adalah infak dari seorang dermawan yaitu bapak Umar Basyir pemilik percetakan Gema Insani.

Agenda besar INSISTS terbagi menjadi 4 bagian yaitu pendidikan, riset, publikasi, dan konsultasi. Jalur pendidikan di tempuh dengan mengadakan berbagai pelatihan di berbagai kalangan, baik berbentuk workshop, seminar, dan lain sebagainya. Di bidang riset, INSISTS aktif mengadakan penelitian guna mencari solusi akan masalah yang faktual dan aktual. Publikasi berjalan dengan menerbitkan rubrik Islamia dan pada minggu ke 3 setiap bulan di koran Republika. Sementara konsultasi beraksi pada pemberian peluang bagi masyarakat untuk berkonsultasi terkait berbagai problem yang dihadapi di Indonesia.

Suasana diskusi bersama INSISTS

Dalam perjalanannya, INSIST menjadi lembaga yang sangat diperhitungkan dalam menanggulangi menanggulangi isu-isu Liberalisme di Indonesia dengan berbagai macam topiknya, gender dan feminisme, dekonstruksi syariah, hingga radikalisme. Isu-isu tersebut tidak hanya berhenti di meja diskusi namun juga berakhir di jalur legislatif MPR/DPR.

Diskusi bersama INSISTS: Islam dan Radikalisme

Mendiskusikan radikalisme artinya adalah problem terminologis, di mana di satu sisi dia memiliki makna positif yaitu ‘mengakar’ atau secara harfiah artinya adalah akar (radix).Hari ini, radikalisme dimaknai secara singkat hanya sebatas sebagai ekstrimisme. Efeknya di antara lain, adalah Umat Islam ragu untuk menunjukkan identitas keislamannya. Identitas itu, padahal, adalah hasil dari kajian yang mengakar/dalam akan nilai-nilai keislaman. Asumsi yang hadir adalah,  ‘Jika mendalami islam secara mendalam akan berakhir radikal.’ Momok ini tentu saja merusak tatan sosial keagamaan umat Islam karena keliru dalam mengkonsepsikan pemikiran keagaman. Umat Islam dilarang berbuat ekstrim (ghuluw) dalam setiap praktik keagamaan, dan guna mengidentifikasi itu, ajaran-ajaran keagamaan justru harus didalami hingga ke akarnya. Dengan berbekal ajaran agama yang mendalam itulah, Umat Islam justru mampu membendung ekstrimisme dengan segala macam produknya.

Baca Juga: Menangkal Radikalisme dengan Film Animasi

Secara ideologis kemudian, dalam pandangan INSISTS, rekonstruksi terminologi ‘radikal’ ini juga bagian dari liberalisme, di mana seorang Muslim dalam teori dan praktiknya dijauhkan dari ‘akar keagamannya’. Misinterpretasi radikalisme ini tentu harus diwaspadai karena berpotensi merubah pola pikir umat Islam agar ‘tidak mendalami’ agamanya. (Mohamad Rafdi Ilahi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *