Islam dan COVID-19

islam-covid-19-corona-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

Islam dan COVID-19 Oleh: Nur Afifah Ramadhanty A/ Mahasiswi Studi Agama-agama Semester VI Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Pengantar Menuju COVID-19 : Kesehatan dan Penyakit dalam Islam

Kesehatan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan manusia, karena dengan kondisi yang sehat manusia dapat beraktifitas, beribadah, dan melakukan berbagai hal lainnya. Tanpa kondisi yang sehat, manusia kehilangan daya untuk melakukan aktifitas serta menjalani kehidupan sebagaimana mestinya. Menjaga kesehatan yang berlandaskan agama merupakan solusi terbaik untuk dapat mengatasi berbagai permasalahan kesehatan fisik bahkan jiwa dengan mematuhi, mengamalkan nilai-nilai agama dalam aktifitas kehidupan sehari-hari.[1] Adanya hubungan antara agama sebagai pijakan keyakinan dan kesehatan rohani dan jasmani terletak bagaimana sikap berserah diri seseorang terhadap suatu kehendak, kekuasaan Allah SWT. Sikap itulah yang membuat seorang manusia dapat menciptakan aura positif, ketentraman lahir batin, serta hal yang baik lainnya.

Berkaitan dengan kesehatan, terdapat kasus yang kini sedang menggemparkan dunia yaitu wabah penyakit menular yang sampai saat ini kasus tersebut telah banyak menelan korban jiwa hingga meninggal dunia setiap harinya, yaitu COVID-19. Umat Islam wajiblah melihat kasus ini sesuai dengan pandangan hidup Islam, terutama yaitu sebagaimana Islam menanggapi wabah penyakit yang kini sedang menjangkiti dunia yang juga pernah dialami pada masa Nabi Muhammad SAW. Pendek kata, Covid-19 dan Islam sangatlah terkait.

COVID-19: Sejarah, Bentuk, dan Penyebaran

 Di Wuhan, diperkirakan pada akhir-akhir 29/31 Desember 2019,[2] sebuah Rumah Sakit melaporkan adanya pasien yang mengidap penyakit pneumonia yang sangat mengkhawatirkan dan tidak diketahui gejalanya.  Pemerintah RRC (Republik Rakyat China) kemudian menginformasikan kepada WHO terkait kemuculan penyakit ini melalui proses verifikasi. Awalnya, pemerintah di Tiongkok melaporkan kasus ini sebagai suatu hal yang misterius karena tidak diketahui penyebabnya, seiring dengan berjalannya waktu akhirnya pasien yang terkena penyakit atau virus tersebut dalam tiga hari berturut-turut terus bertambah jumlahnya[3]. Banyak data yang membuktikan bahwa tempat yang menjadi titik pusat penyebaran virus ini berawal dari satu pasar Seafood atau Life Market di Wuhan, Propinsi Hubei, Tiongkok. Dari berbagai sampel penelitian menunjukkan terdapat infeksi Coronavirus, sejenis betacoronavirus yang termasuk virus tipe terbaru.[4]

Pada tanggal 11 Februari 2020, WHO (World Health Organization) mengabarkan resmi nama virus tersebut sebagai Severa acute respiratory syndrome coronavirus-2 (SARS-CoV-2) [5]atau kemudian yang dikenal dengan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19).[6] Penyakit ini resmi dikategorikan sebagai penyakit menular kelas B (Communicable diseases). Oleh sebab itu, pencegahan terjadinya penularan terhadap virus yang menularkan penyakit ini harus dilakukan dengan serius.

Adapun bentuk Covid-19  bundar, oval dengan berdiameter antara 60-140 nm. Virus ini dapat ditemukan di dalam tubuh Pasien yang terdampak yaitu di dalam sel epithelial pernafasan selama setelah 96 jam dan membutuhkan waktu sekitar 7-14 hari untuk diisolasi. Terkait pencegahan virus corona, dapat dilakukan beberapa hal yaitu berjemur, karena virus ini sangat sensitif dengan  adanya sinar matahari (ultraviolet), suhu yang panas, cairan etanol 75%, disinfektan yang mengandung klorin, asam peroksiasetat, dan chloroform.

Dikonfimasi bahwa sumber utama penyebaran adalah para pasien Covid-19 itu sendiri yang sangat berpotensi menyebarkan infeksi dari virus ini, dengan garis besar dapat ditularkan melalui kontak langsung, dan penularan melalui udara juga mungkin terjadi pada orang yang terlalu lama berinteraksi dengan pasien.[7] Virus ini tidak mengenal usia dalam penyebarannya yang artinya semua orang rentan terkena virus ini. Adapun gejala yang ditimbulkan dari penyakit virus Covid-19 yaitu demam, kelelahan, dan batuk kering. Untuk kategori yang parah adalah ketika pasien menderita sesak nafas atau hipoksemia, sementara kasus terburuk yang bisa terjadi adalah acute respiratory syndrome[8]atau gangguan sindrom pernapasan akut. Tercatat bahwa pasien dengan kategori parah atau kritis hanya menunjukkan demam sedang, atau bahkan tanpa demam sama sekali dan baru dapat terdeteksi setelah meninggal.[9] Namun, secara garis besar perlu diketahui bahwa pasien yang meninggal dalam kasus wabah virus tersebut tidak akan menyebarkan virus lagi karena secara ilmiah ilmu kedokteran korban atau jenazah kemungkinan menularnya sudah tidak ada. Virus COVID-19 harus hidup pada inangnya, yaitu tubuh manusia. Maka jika inangya sudah mati, virusnya juga ikut mati yang serupa dengan HIV/AIDS dan H5N1 (flu burung).[10]

Demikian Sekilas informasi mengenai COVID-19. Lantas, bagaimana pandangan Islam menanggapi sebuah penyakit termasuk Covid-19?

Pandangan Hidup Islam dalam  Menghadapi COVID-19

Dalam Islam penyakit itu sering dikaitkan dengan Bala’ musibah, fitnah, adzab. Penyakit juga dapat berbentuk kuman sejenis bakteri yang merupakan ciptaan Allah meskipun melalui hasil perbuatan manusia itu sendiri Bimaa kasabat aydin-nas. Dengan kata lain menggunakan istilah waba’ atau thaa’uun. Arti thaa’uun adalah suatu penyakit yang menular dengan penyebaran jangkauan yang sangat luas, penyakit yang mencemari udara dan dapat menggerogoti tubuh serta penyakit yang dapat mengakibatkan kematian dengan waktu sepersekian detik, sangat cepat.[11]

Dr. Syamsuddin Arif, kemudian mengutip Ibn Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa waba’ adalah penyakit epidemic dan pendemik, Thaa’uun yang berarti penyakit yang menular mematikan yang bisa jadi karena adanya serangan jin dalam darah yang menyebabkan gumpalan darah yang sangat beracun yang tidak dapat diatasi oleh dokter sekalipun.[12] Hal ini juga disepakati oleh Ibn al Qayyim terkait thaa’uun terdapat tiga hal yaitu pertama, gejala-gejala yang umumnya dapat di diagnosa oleh para dokter. Kedua, kematian yang diakibatkan oleh penyakit yang menular. Ketiga, faktor yang disebabkan oleh sisa-sisa adzab Bani Israil, dan gangguan jin.[13] Namun, sebagai umat Islam kita selalu bersabar dan bertawakkal dalam menghadapi segala ujian serta musibah yang datang mengampiri. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah: 155-156 yang artinya “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “inna lillahi wa inna ilaihi roji’uun, (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali.)”

Terkait dengan Covid-19 dan Corona Lihat Juga: Shalat Tahajjud menyembuhkan Berbagai Penyakit

Berkenaan dengan penjelasan tersebut apa yang harus kita lakukan sebagai usaha dalam menghindari wabah dari berbagai penyakit termasuk wabah Covid-19? Dalam Fiqh, diajarkan ketika terjadi suatu wabah di suatu negeri maka tidak ada gunanya pergi dari tempat tersebut jika penyebabnya juga dirinya sendiri, dianjurkan untuk memperbanyak do’a qunut nazilah sebagai do’a untuk menolak wabah penyakit, orang terkena wabah penyakit yang mematikan tersebut sebagai adzab hukuman yang dikirimkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan itu sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman.

Sebagaimana hadist menyatakan, “Dari ‘Aisyah R.A., aku bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai wabah penyakit menular yang mematikan. Beliau menjawab bahwa wabah itu merupakan azab hukuman yang dikimkan Allah kepada siapapun yang dikehendaki-Nya, tetapi Allah menjadikan itu sebagai Rahmat bagi orang-orang yang beriman (karena) barang siapa yang mendapati wabah penyakit disuatu negerinya lalu ia tetap tinggal di situ dengan sabar lantaran mengharap pahala Allah serta yakin bahwa segala sesuatu yang menimpanya pasti sudah ditentukan olah Allah, maka jika meninggal dunia baginya pahala seperti orang yang gugur syahid dijalan Allah.” (HR. Bukhari)

Guna mencegah penyebaran COVID-19, Islam juga mengajarkan untuk tidak keluar rumah, menjaga kebersihan dengan berwudhu’, mencuci tangan, menjaga jarak dan lain sebagainya. Mengkonsumsi makanan yang baik dan halal juga merupakan suatu hal yang sangat penting selain untuk memperkuat imunitas tubuh manusia.[14] Mengindari konsumsi makanan yang membawa kemudharatan apalagi mengkonsumsi makanan yang jelas-jelas haram dalam Islam. Karena kerusakan yang terjadi pada tubuh manusia adalah berasal dari yang apa mereka perbuat serta apa yang dimasukkan kedalam perut mereka.

Lihat Juga Sains Islam: Urgensi dan Praktik

Isolasi atau tidak melakukan aktifitas diluar rumah juga dianjurkan untuk mengatasi atau memutus penyebaran wabah virus tersebut sebagaimana dalam hadits,

إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها، و إذا وقع بأرض و أنتم بها فلا تخرجوا منها

Jika kalian mendengar wabah penyakit malanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika kalian ada didalam negeri itu, maka jangan keluar untuk lari daripadanya.” (HR. Bukhori).

Terkait dengan Covid-19 dan Islam, Ibn Qayyim pun mengajarkan kita untuk menghindari potensi apapun yang bisa membuat seseorang terinfeksi wabah tersebut, senantiasa menjaga kesehatan dengan baik sebagai modal hidup di dunia dan akhirat, menghindari menghirup udara yang telah tercemar kuman penyakit irus tersebut, menjaga jarak dengan seseorang yang terinfeksi atau menerapkan (social distancing), berfikir positif, bertawakkal kepada Allah, berhati-hati, melakukan pencegahan, memperbanyak mengingat Allah dengan  ibadah serta pengetahuan. Wallahu a’lam bisshawab. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana).


[1] Abdul Hamid, Agama dan Kesehatan Mental dalam Perspektif  Psikologi Agama, dalam Jurnal Kesehatan Tadulako, Vol. III, No. 1, Januari 2017, 1.

[2] Guidance for Corona Virus Disease 2019: Prevention, Control, Diagnosis and Management (RRC: People’s Medical Publishing House), 2020.  

[3] WHO. Novel Coronavirus (2019-nCoV) Situation Report-1. Januari 21, 2020. Diakses pada 6/04/2020 pukul 20.00 WIB.

[4] Erlina Burhan, dkk, Pneumonia Covid-19: Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia, (Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), 2020, 1.

[5] Dr. Tinku Joseph, Dr. Mohammed Ashkan, COVID-19, (Kochi, Kerala, India: Amrita Institute of Medical Sciences), 2020.

[6] WHO. WHO Director-General’s remarks at the media briefing on 2019-nCoV 0n 11 February 2020, lihat di htttps://www.who.int/dg/speeches/detail/who-director-generals-remarks-at-the-media-briefing-on-2019ncov-on-11-february-2020.

[7] Sidney Osler, CORONAVIRUS: outbreak all the secrets revealeo about the covid-19 pandemic, copyright 2019.

[8] Sejenis penyakit pernapasan yang sangat akut

[9] Erlina Burhan, dkk, Pneumonia Covid-19: Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia……6.

[10] Demikian kutipan dari Kepala Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSU dr Soetomo Surabaya, dr. Edi Suyanto, SpF, S.H, M.H

[11] Syamsuddin Arif, Teologi Wabah: Perspektif Islam tentang Pandemi, 2020,14-15.

[12] Syamsuddin Arif, Teologi Wabah…, 16.

[13] Ibn Qayyim al-Jauziyah, Zaad al-Ma’aad, Juz 4/ 44-45.

[14] Jannah Firdaus Mediapro, Jus Buah dan Sayuran yang Berkhasiat untuk Mencegah Virus Corona serta Meningkatkan Sistem Kekebalan Tubuh Manusia, (Jakarta: Mediapro) 2020, 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *