Kerusuhan di India “Dia Dibunuh karena Muslim”

kerusuhan-india-saa-unida-gontor-ushuluddin

Kerusuhan di India “Dia Dibunuh karena Muslim”

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA/ Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor

Mehtab, pekerja bangunan berumur 22 tahun pergi dari rumahnya di Delhi  untuk membeli susu hari Selasa malam (25/02).  Pemuda itu tidak kembali. Mayatnya ditemukan penuh memar, terbakar dan diseret Massa Hindu pendukung Bharatiya Janata Party, Partai Politik India pemenang pemilu yang dikontrol oleh Perdana Menteri India saat ini, Narendra Modi.

Di malam itu pula, Yasmin (33) , Kakak Iparnya tengah bersembunyi di rumah ketika perusuh datang mengancam membakar rumah dan toko-toko mereka. “Mereka berteriak, Jai Shri Ram (Hail Lord Ram)- Pergi dari sini! Rumah ini akan kami bakar!” Yasmin bercerita dengan suara bergetar kepada Financial Times. Lanjutnya, “Ini pertama kali saya melihat konflik seperti ini. Kami selalu menganggap mereka (Umat Hindu) Saudara.  Namun Dia (Mehtab) dibunuh karena Muslim. Kami diserang karena kami Muslim.”[1]

Mendiang Mehtab hanya satu dari tercatat 43 almarhum Muslim yang wafat di Kerusuhan New Delhi. Dalam catatan sejarah, Tragedi ini merupakan yang terbesar pertama setelah kerusuhan tahun 2002 di Gujarat dengan korban lebih dari 1000 orang yang mayoritasnya, juga Muslim.

Latar Belakang Kerusuhan

Kerusuhan ini berawal dari kemenangan Bharatiya Janata Party (BJP) dalam Pemilihan Umum tahun kemarin. BJP mendapatkan suara voting dengan total 40%; terbanyak dari seliuruh aliansi Partai yang ada di India.[2]

Parlemen India yang dipimpin BJP mengeluarkan perubahan Amandemen Kewarganegaraan India yang dikenal dengan Citizenship (Amandment) Act (CAA) pada tanggal 11 Desember 2019. CAA memberikan fasilitas kewarganegaraan India bagi  penganut agama minoritas yang dipersekusi dan melarikan diri dari Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan dan dan berhasil melarikan diri ke India sebelum Desember 2014. Golongan tersebut adalah Umat Hindu, Sikh, Buddhist, Jain, Parsi, dan Kristiani.[3]  Berdasarkan CAA, Islam, tidak digolongkan sebagai agama komunitas korban yang berhak diberikan kewarganegaraan. [4] Oleh karena itu, menurut Mark Gollom, amandemen ini nyata telah memarjinalkan dan melihat sebelah mata umat Islam: Many of those staging protests in the capital New Delhi and other urban centres are political and student activists who claim the law is prejudicial against Muslims, will further marginalize Muslims in India, and erodes India’s secular foundations.”[5]

Salinan Amandemen Konstitusi India Tahun 1995, Artikel 5 yang melegalkan registrasi setiap calon warga negara

Sebagai sebuah negara sekular, klasifikasi amandemen berdasarkan agama yang dipeluk merupakan sebuah anomali di India. Faktanya, CAA adalah amandemen pertama yang diputuskan berdasarkan pertimbangan agama. [6] CAA Juga telah menganulir Amandemen Kewarganegaraan tahun 1995 yang menjamin seluruh penduduk yang tinggal di India dapat mendaftarkan dirinya dan mendapatkan hak sebagai warga India.

Amandemen tersebut, akhirnya memantik gelombang protes yang luar biasa di seluruh India. Dari mulai Kolkata, Delhi, Mumbai, Bengaluru, Hyderabad, Jaipur, West Bengal, Punjab, Uttar Pradesh, Karnataka, Hingga Maharastra menggerakkan masa menolak kebijakan rasis ini.[7] Di wilayah Universitas, lebih dari 25 organisasi mahasiswa turun ke jalan turut bersuara. Mereka datang dari berbagai Universitas yang ada di India seperti Universitas Jamia Millia Islamia, Aligarh Muslim University, Nadwa College, Jawaharlal Nehru University, IIT Kanpur, IIT Madras, Jadavpur University, dan lain sebagainya. [8]Kerusuhan-kerusuhan kecil akhirnya memuncak ke pertumpahan darah setelah Donald Trump  berkunjung ke India membincangkan sejumlah kesepakatan politik antara Negara. [9]

trump-modi-saa-india-kerusuhan-ushuluddin-unida-gontor
Presiden USA Donald Trump dan Perdana Menteri India Narendra Modi berjabat tangan saat pertemuan di rumah Hyderabad, New Delhi, India, 25 Februari 2020.

Dari Rasisme Politik  Hingga Kerusuhan Agama

Mazid (32) juga menjadi saksi akan segerombolan orang yang datang merangsek pertokoannya yang berada di samping tepat toko seorang Hindu tetangganya. Perusuh itu -datang dengan polisi-. Dua saudara kandung Mazid tewas di tempat. “Police were with them and we thought maybe they will stop the violence, but then [someone] fired the shots.” 

Gilles Verniers, Profesor Ilmu Politik dari Ashoka University mempertanyakan langkah pemerintah yang dinilai lambat dalam menindak kasus yang terjadi. “Itu kewajiban pemerintah.” Jelasnya. Menurut Verniers, pengaruh konservatisme agama mayoritas menjadi dalil akan legitimasi kerusuhan. “The violence has already served its purpose; It has asserted Hindu dominance and claimed ownership of the public sphere.”[10]

Abul Kalam, seorang Muslim berumur 60 tahun bercerita. Ketika ia menaiki motornya bersama kawannya seorang Hindu, Masa Pendukung ACC menghadang mereka, meminta mereka memperlihatkan kartu identitasnya.“They were asking for identity cards to see if they are Hindu or Muslim and if they saw Muslim people they beat them.”  Masjid-Masjid Dibakar. Mohammad Solaiman, bersama 180 jamaah masjidnya, harus melaksanakan shalat di atap Masjid. “If they burn our mosques, we will rebuild them again and pray. It’s our religious right and nobody can stop us from practicing our religion.”[11] BERSAMBUNG KE BAGIAN KEDUA…

shalat-di-atas-atap-masjid-kerusuhan-india-saa-ushuluddin-unida-gontor
Shalat di atas atap Masjid yang Terbakar, India.

Catatan Kaki

[1] https://www.ft.com/content/484d22e6-5967-11ea-a528-dd0f971febbc

[2] https://delhiriot.blogspot.com/2020/02/new-delhi-violence-february-2020-delhi.html

[3] https://www.bbc.com/news/world-asia-india-50670393

[4] https://edition.cnn.com/2019/12/11/asia/india-citizenship-amendment-bill-intl-hnk/index.html

[5] https://www.cbc.ca/news/india-citizenship-law-protests-1.5397915

[6] https://www.washingtonpost.com/world/asia_pacific/why-indias-citizenship-law-is-so-contentious/2019/12/17/35d75996-2042-11ea-b034-de7dc2b5199b_story.html

[7] https://www.bbc.com/news/world-asia-india-50793529

[8] https://timesofindia.indiatimes.com/videos/city/delhi/demonstration-was-not-held-in-campus-locals-too-participated-in-it-jamia-millia-islamia-pro/videoshow/72652142.cms

[9] https://apnews.com/75fcfa1b92b991ccf4144fa6247e3e6c

[10] https://www.ft.com/content/484d22e6-5967-11ea-a528-dd0f971febbc

[11] https://abcnews.go.com/International/wireStory/prayers-fire-bombed-mosques-indias-riot-toll-grows-69276760

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *