Kerusuhan India: Konflik atau Genosida?

kurukshetra-konflik-muslim-hindu-genosida-india

Kerusuhan India: Konflik atau Genosida?

Sambungan dari Bagian Pertama

Yang terjadi di India saat ini bukanlah KONFLIK. Sebab, menurut M. Nicholson, konflik berlangsung di antara dua pihak/ perseorangan yang memiliki kepentingan, keinginan, atau kewajiban yang berseberangan secara seimbang.[1] Sudah barang tentu, kalimat Konflik tidaklah cocok untuk menggambarkan situasi Muslim Minoritas yang menurut sensus penduduk India tahun 2011, hanya mencapai 14.2 % dari seluruh penduduknya. [2]

Terlebih lagi, menurut fakta yang disediakan oleh NDTV,[3] 43 korban meninggal dan 200 lebih yang terluka adalah Muslim. Artinya, ada determinasi ‘satu pihak’ atas korban yang minim kekuatan dibandingkan dengan pihak yang lainnya; seperti contoh yang digambarkan Stanley Eitzen dalam ‘A Conflict Model for the Analysis of Majority-Minority Relations’.[4] Pendapat Eitzen, sepertinya menguatkan asumsi teoritis Nicholson, bahwa darah yang terjatuh di India detik ini adalah salah satu bentuk dari GENOSIDA. Genosida (genocide), jadinya tidak hanya sekedar kekerasan (violence) yang diukur dari “… the deliberate use of physical force to injure or kill another human…” [5], namun juga “…is inflicted on one group by the other with the very reciprocal violence by the weaker side.”[6] Jika dalam konteks ‘konflik’, kedua grup yang berseteru boleh jadi membincangkan kesepakatan di atas meja, namun untuk ‘genosida’, yang tersisa, hanyalah meregangnya nyawa dari sebelah pihak yang dibantai.

Genosida Masyarakat India dan Pakistan (1947)

Dharma, Karma, Ahimsa, Genosida

Saya sungguh heran. Sebab, India adalah lahannya Dharma; ‘(panduan) perbuatan yang benar’ dalam ajaran Veda. Ia adalah kebenaran transenden yang bahkan dalam catatan Sri Swami Prabuphada, melintasi dinding-dinding realitas agama.[7] Sebagai tugas yang langsung diturunkan Tuhan, Dharma mengantarkan hamba untuk menempuh jalan menuju kesucian abadi yang terlepas dari kungkungan duniawi; Nirvana[8]

Guna melaksanakan Dharma, lahirlah Ahimsa; ‘(sikap) anti kekerasan’ berlandaskan Veda. (10:5). Bermodalkan ajaran itulah Gandhi (1869-1948) mampu menolak kolonialisasi Inggris dengan kelemahlembutan hati. Kalimat Gandhi bahkan menginspirasi Mandela (1918-2013)  mengakhiri Apartheid. Meskipun di akhir upayanya Mandela turut mengangkat senjata, namun ketaatannya pada Ahimsa tidaklah bergeser. Rafida Nawaz, Assoc Prof dari Pakistan menulis, “…Mandela saw ahimsa a powerful alternative to resistance strategies of Socialism and communism. Like Gandhi, he was the one to explore the worth of traditional wisdom.”

Dalam konteks lokal hindu Bali, Ahimsa dikonsepsikan Bersama dengan 4 unsur lainnya yaitu Brahmacarya (pengendalian panca indera), Satya (jujur, lurus hati), Asteya (tidak mengambil hak milik orang lain), dan Aparigraha (tidak menerima pemberian dengan tamak) menjadi Panca Yama Wrata alias ‘Lima Pengendalian Diri.’ Menurut I. B. Oka Punia Atmaja, ajaran ini telah membersamai masyarakat Hindu Nusantara selama lebih dari 1000 tahun. Tujuannya lagi-lagi untuk ‘pembebasan diri’ itu. Tulisnya, “Atmaanam moksaartham jagaddhitaya ca”; Tujuan agama adalah untuk mencapai kelepasan, kebebasan, atau kesempurnaan jiwa (Moksa), kesejahteraan umat manusia, kedamaian, dan kelestarian dunia (Jagadhita).[9]

Sebaliknya, jika seseorang telah melakukan suatu kejahatan, ia akan jatuh kepada kedudukan terendah dalam hidupnya sebagai bentuk Karma.[10] Dalam proses reinkarnasi, seorang hamba yang keji bisa dilahirkan kembali menjadi hewan.[11] Membunuh, adalah salah sebuah perbuatan yang buruk di sisi ajaran Veda. Inilah yang dalam istilah Sansekerta dinamakan Dosa atau Petaka (Pataka).[12]

Jika sebegitu nyatanya ajaran Hinduisme dalam memerdekakan manusia, sangat bisa jadi, Genosida yang saat ini masih mencabut nyawa minoritas Muslim, membakar rumah dan tempat ibadah mereka, sepertinya, dilaksanakan oleh orang-orang Hindu yang tidak memahami Hindu itu sendiri. Mereka bisa jadi paham, namun tidak ingin melaksanakan. Pertanyaannya, Apakah mereka sengaja melanggar ajaran-ajaran tersebut? Jika memang benar adanya, untuk apa mereka melanggar ajaran-ajaran tersebut? Allahummanshur ikhwaannal muslimiin Fi India… Aamiin ya rabbal ‘alamin…  (END)        


Catatan Kaki

[1] Michael Nicholson, Rationality and the Analysis of International Conflict (Cambridge: Cambridge University Press, 1997), 11.

[2] https://www.firstpost.com/india/india-has-79-8-percent-hindus-14-2-percent-muslims-2011-census-data-on-religion-2407708.html

[3] https://www.ndtv.com/india-news/delhi-situation-improving-dont-believe-rumours-says-centre-10-points-2186970?pfrom=home-topscroll ; https://www.ndtv.com/india-news/delhi-violence-over-caa-northeast-delhi-tense-day-after-5-killed-in-caa-clashes-amid-donald-trump-vi-2185146

[4] Stanley Eitzen, “A Conflict Model for The Analysis of Majority-Minority Relations,” Kansas Journal of Sociology III, no. 2 (1967): 76–89, https://doi.org/http://dx.doi.org/10.17161/STR.1808.4669.

[5] Nicholson, Rationality and the Analysis of International Conflict, 17.

[6] Nicholson, 21.

[7] Sri Swami Bhaktivedanta Prabuphada, Bhagavad Gita as It Is (New York: Macmillan, 1968), 16.

[8] Prabuphada, (5:25).

[9] I. B. Oka Punia Atmaja, Hindu Ethics Of Holy Veda As Found In Bali (Jakarta: World Hindu Federation, 1992), 48.

[10] Prabuphada, Bhagavad Gita as It Is, 2:9.

[11] Prabuphada, 14: 15.

[12] Atmaja, Hindu Ethics Of Holy Veda As Found In Bali, 145.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *