KH Maimun Zubair dalam Memori: Mengenal ‘al-Ulama al-Mujaddiduun

KH Maimun Zubair

KH Maimun Zubair dalam Memori: Mengenal ‘al-Ulama al-Mujaddiduun

oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA

Dosen Prodi Studi Agama-Agama UNIDA Gontor

Beberapa waktu yang lalu, Indonesia kehilangan salah seorang Ulama kibarnya. Beliau tidaklah lain al-Syaikh al-Haaj Maimun Zubair, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Rembang. Beliau lahir di Karangmangu, 28 Oktober 1928 dan wafat di Mekkah, 6 Agustus 2019.  Sebagai salah seorang Guru Bangsa terbaik, wafatnya beliau merupakan duka dan tragis yang luar biasa.  Sebagaimana mengikuti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa sallam:

((إِنَّ اللَّهَ لا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رؤوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا((؛ رواه البخاري ومسلم.

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak semerta-merta mengambil ilmu dari hamba-hamba, melainkan mengambil ilmu dengan hilangnya (wafatnya) para ‘Ulama. Hingga sampai tidak tersisa seorang ‘Alim meskipun satu, maka manusia kana memilih pemimpin dari seorang yang Jahil. Manusia-manusia tersebut akan bertanya perkara kepada Pemimpin Jahil tersebut, kemudian dijawab tanpa ilmu. Kemudian manusia akan menjadi sesat dan semakin sesat.” (HR Bukhari dan Muslim).

‘Ulama,  sebagai pewaris otoritas para Nabi (HR Ibnu Hibban), tentu meninggalkan sejumlah karya untuk terus dipelajari dan ditadarusi oleh murid-muridnya, dan umat Islam secara keseluruhan. Begitupun Romo Yai Maimun Zubair, beliau menulis sejumlah kitab yang dipelajari di Pesantren-Pesantren. Seperti misalnya: Nushushul Akhyar, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniah bi Sarang Al-Qudama’, Al-Ulama’ Al-Mujaddidun, Kifayatul Ashhab, Maslakuk Tanasuk, Taqirat Badi Amali, dan Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.[1]

Prodi Studi Agama-Agama UNIDA Gontor kali ini mencoba mengulas sedikit salah satu karya pamungkas dari almarhum al-Syaikh KH Maimun Zubair, yaitu ‘al-Ulama al-Mujaddiduun. Kitab ini terdiri dari lebih kurang 58 halaman. Selesai ditulis (Dita’lif) pada hari Ahad, 7 Shafar 1428 bertepatan dengan 25 Februari 2007 dan diterbitkan oleh al-Maktabah al-Anwaariyyah Pondok Pesantren al-Anwar, Rembang.

Kitab al-"Ulama al-Mujaddiduun karya almarhum KH Maimun Zubair.
Kitab al-“Ulama al-Mujaddiduun karya almarhum KH Maimun Zubair.

KH Maimun Zubair dan Rasionalitas Keagamaan

Al-Syaikh Maimun Zubair memulai di awal kitab ini tentang sebuah kesadaran lumrah akan realitas umat Islam. Di mana setelah wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam., akan ada ‘kekosongan’ otoritas keilmuan. Oleh karenanya, menurut Romo Yai Maimun Zubair, sudah akan menjadi Sunnatullah lahirnya ‘Alim ‘Ulama yang yujaddidu (memperbaharui) pemikiran keagamaan sesuai dengan era atau fase tersebut.[2]   Para Pembaharu tersebut terutama akan terlihat dalam kurun setiap 100 tahun terutama ketika ilmu pengetahuan akan agama dan sunnah Nabi Muhammad berkurang, sementara kejahilan dan Bid’ah marak bermunculan. Beliau menulis:

خصوصا إذا قل العلم والسنة و كثر الجهل و البدعة و ذلك في رؤوس مئات السنوات.[3]

Petuah beliau ternyata mengikuti wasiat Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa Sallam:

إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها ينها (أبو داود).[4]

Perluasan wilayah Islam dan perubahan kondisi yang terus menerus itulah, dalam pandangan KH Maimun Zubair, menjadikan Umat Islam tidak mampu jikalau hanya merujuk kepada al-Qur’an dan al-Sunnah, namun juga melaksanakan Ijtihad sebagai sebuah solusi akan tantangan.  Ini artinya, yang dinamakan para ‘Ulama Pembaharu adalah mereka-mereka yang mampu merumuskan kembali formula-formula keislaman secara rasional sesuai dengan eranya, namun dengan tetap berpegang kepada sumber otoritatif keislaman. [5] Formula yang rasional tersebut itulah yang dikenal kemudian lewat Ijma’ dan Qiyas. Di situlah kita kemudian mengenal keempat-empatnya sebagai dalil-dalil syari’ah (al-Adillah al-Syar’iyyah).  

Baca Juga: Kitaab al-Milal wa al-Nihal karya al-Syahrastani

Rasionalitas para ‘Alim Ulama itu juga menyesuakan pertemuan Peradaban Islam dengan Peradaban non-Islam seperti Yunani, Sanskrit (India), dan lain sebagainya. Syaikh Maimun Zubair juga menekankan, bahwa agama adalah akal, atau agama adalah rasional. Beliau mengutip, “Tidaklah orang beragama kecuali secara rasional.”  Rasionalitas keagamaan merupakan sebuah keniscayaan dalam memformulasikan apa-apa yang dibutuhkan oleh umat Islam sesuai dengan zamannya berdasarkan Ijtihad para ‘Ulama. [6]  Beliau juga mengenalkan sejumlah besar nama para ‘Ulama al-Mujaddid di kitabnya tersebut. Seperti Imam Syafi’i (204 H) dan Imam Hambali (241 H), al-Imam al-Baaqilaani (304 H), al-Imam al-Ghazali, (505 H), al-Imam al-Rafi’i (623), al-Imam al-Nawawi (676), al-Imam ibn Daqiiq al-‘Abiid (702 H), dan lain sebagainya.

KH Maimun Zubair dan Tantangan Islam Kontemporer

Kitab ini, bisa dibilang adalah salah satu literatur ‘kontemporer’ dalam isu-isu pemikiran Islam. Sebab, al-Syaikh Maimun Zubair tidak hanya memperhatikan perkara tajdid atau pembaruan yang dilakukan Ulama-Ulama terutama pasca abad ke 10, namun juga dalam konteks menghadapi tantangan-tantangan yang datang dari peradaban non-Islam. Romo Yai Maimun Zubair bahkan dengan tegas menyatakan kolonialisme Barat sebagai salah satu faktor penting dalam kemunduran peradaban Islam. al-Syaikh Maimun Zubair menulis:

و في هذا العصر و القرن اي القرن العاشر تغيرت الظروف و الأحوال فكان هذا العصر الإسلامي بداية فى السقوط و الإنحطاط فى جميع المناطق و الأنحاء و جاء أوان الإنحطاط على المسلمين بارزا وظاهرا بظهور دخول المستعمرين الغربين فى هذه القارات المعمورة عربا و عجما[7]

Artinya kurang lebih “Di era dan abad ini, yaitu abad ke 10, keadaan dan situasi (keilmuan) telah berubah. Perubahan tersebut dikarenakan mundur dan jatuhnya era Islam di semua daerah kekuasaan Islam dan sekitarnya. Kemunduran Islam terlihat secara menonjol dan jelas ditandai dengan munculnya penjajah Barat yang masuk di benua-benua di seluruh dunia baik di benua Arab maupun non-Arab.”

KH Maimun Zubair mengalungkan surban untuk Presiden RI Bapak Joko Widodo. Sumber: http://ksp.go.id/presiden-jokowi-sampaikan-dukacita-atas-berpulangnya-k-h-maimun-zubair/
KH Maimun Zubair mengalungkan surban untuk Presiden RI Bapak Joko Widodo. Sumber: http://ksp.go.id/presiden-jokowi-sampaikan-dukacita-atas-berpulangnya-k-h-maimun-zubair/

Baca Juga: Kritik atas Dekonstruksi Syari’ah

Abad ke-10 memang abad yang cukup ‘menegangkan’ bagi Umat Islam. Pasalnya, perang salib pertama aka The First Crusade yang diinisasi oleh Bapa Urban II (1035-1099) terjadi di abad itu. Panggilan akan ‘perang suci’ guna merebut Jerusalem itu disampaikan di Konsili Sermon pada tahun 1095. Manzikert, Perang salib pertama yang akhirnya pecah di tahun 1071 itu dimenangkan secara gemilang oleh Pasukan Seljuk atas Bizantium. Manzikert inilah yang kemudian mengisiasi puluhan seri perang salib selanjutnya yang sebagaimana catatan David Nicolle mengutip Bapa Urban II bertujuan untuk, “to liberate Jerusalem from the Infidels.”[8]

Tidak hanya perang Salib yang melatarbelakangi degradasi peradaban Islam tatkala itu. Lahirnya Syi’ah Ismaa’iliyyah yang juga harus diperhitungkan sebagai faktor yang turut ‘menggerogoti’ dinasti Islam dari dalam.[9] Dalam konteks ini, distorsi keilmuan dalam peradaban Islam boleh jadi muncul karena faktor eksternal dan dalam sekaligus sebagaimana telah tersebut. Ini artinya, Romo KH Maimun Zubair telah memperhatikan problematika tersebut sebagai sebuah tantangan yang harus disikapi Umat Islam secara serius. Pandangan-pandangan itu, diulas secara rinci kemudian di dalam al-‘Ulamaa al-Mujaddidun.

Khatimah

Demikianlah, secuplik ulasan dari Kitab karangan al-Syaikh al-Hajj Maimun Zubair. Semoga beliau diampuni segala dosanya, dipanjang dan dilipatgandakan pahalanya, serta diberikan kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkannya. Pun bilkhusus untuk karya-karya beliau, semoga bisa menjadi amal jariyah untuk segenap Umat Islam Indonesia. Li al-Syaikh Maimun Zubair, alfaatihah…

Catatan Kaki

[1] https://www.nu.or.id/post/read/102543/kh-maimoen-zubair-dan-politik-tanah-air, diakses 8 Agustus 2019.

[2] إن من سنة الله فيما عليه مجارى هذه الأمة من لدن أوائلهم وسوابقهم حتى إلى أواخرهم على ما كان عليه تواريخ عصورهم و ظروفهم مدى الدهور و الأعوام أن الله سبحانه و تعالى يجدد لهم في كيان تطبيف تعاليم هذا الدين على حسب ما هو مناسب لعصورهم جيلا بعد جيل…

Syaikh Maimun Zubair al-Hajj, al-‘Ulama al-Mujaddiduun, (Rembang: al-Maktabah al-Anwaariyyah, 2007), 2

[3] al-‘Ulama al-Mujaddiduun, 2

[4] al-‘Ulama al-Mujaddiduun,  3

[5] يا أيها الناس إنى قد تركت فيكم ما إن اعصمتم به فلن تضلو أبدا كتاب الله وسنة نبيه (المستدرك على الصحيحين للحاكم, ج. 1\ص 306)

[6] al-‘Ulama al-Mujaddiduun, 4

[7] al-‘Ulama al-Mujaddiduun, 9

[8] David Nicolle, The Crusades, (Chicago: Osprey Publishing Limited, 2001), 23. Kekalahan yang dialami tentara Salib dinyatakan sebagai berikut di awal halaman yang sama: “in 1071 the Byzantine army was catasthropically defeated by Seljuk Turks at the battle of Manzikirt,….”

[9] Seperti dicatat oleh Hossein Ziai, The Source and Nature of Authority: A Study of al-Suhrawardi’s Illuminationist Political Doctrine. (Cambridge: Harvard University Press, 1992), 337

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *