Kiyai Semar dalam Pewayangan: Sosok Lakon dan Nilai Kehidupan

semar-saa-unida-gontor-ushuluddin-unida-gontor-wayang

oleh: Liris Purwa Maharsi/ Mahasiswi SAA VI

Penting berkaca pada sejarah guna memahami awal proses Islamisasi Nusantara; latar belakang Indonesia sebelum Islam menjadi mayoritas. Bagaimana cara para Wali membawa Islam hingga dapat diterima masyarakat Indonesia yang kental dengan latar belakang budaya animisme-Hindu-Buddha. Sunan Kaijaga, salah satunya membawa dakwah dengan cara yang begitu unik dan ramah dengan mengedepankan kelemahlembutan tanpa pemaksaan dalam ajarannya. Metode ini dijalankan dengan model pengadopsian terhadap budaya sebelum datangnya Islam[1] sehingga kemudian lahirlah wayang dalam penyampaian dakwah Sunan Kalijaga. Pementasan wayang adalah gambaran kehidupan manusia dengan seluruh dimensinya mencakup keberadaan prinsip-prinsip metafisik dan khayal, seperti adanya tokoh Dewa yang diadopsi dari agama Hindu-Buddha disertai konflik dan permasalahan dalam cerita wayang tersebut beserta lakon-lakon yang memiliki karakter yang berbeda-beda sebagai perwakilan diri manusia dalam berkehidupan.

Tulisan ini akan membahas salah  seorang tokoh wayang yang kaya akan filosofi kehidupan, yaitu Kiayi Semar Bodronaya, atau yang lebih familiar disebut sebagai wayang Semar.

Lakon Semar dalam Perwayangan

Peran Semar yang sering muncul sebagai pelerai banyak konflik dan permasalahan dalam lakon cerita wayang menjadikanya sebagai panutan bagi tokoh wayang lainya. Tidaklah berlebihan jikalau Semar ini dijadikan sebagai penggambaran Tuhan bagi masyarakat bumi pewayangan.

            Makna filosofis itu juga hadir dari bentuk kedua tangannya. Tangan kanan Semar yang sering menghadap ke atas, bersamaan dengan tangan kiri menghadap ke bawah di belakang punggung. Di sini dapat diartikan Kiyai Semar ini dalam berpesan sangatlah bijaksana dengan tetap berkaca pada dirinya sendiri, atau sangat mengindari terjadinya pesan yang ia sampaikan tanpa banyak pertimbangan yang dilihat secara pribadi ataupun orang lain. Di sini menjadi daya tarik bagi banyak orang yang mengikuti perjalanan lakonnya untuk dapat mengambil hikmah-hikmah kehidupan yang ada di dalamnya, Tangan kiri yang kebawah itu, juga menunjukkan sifat rendah hati, ketika menyampaikan pesan tidak pernah Kiyai Semar bermaksud untuk menyombongkan diri.

semar-gareng-petruk-bagong-saa-unida-gontor-ushuluddin-wayang

4  Nilai Kehidupan Kiyai Semar

            Dr. Fahruddin Faiz mengelaborasi 4 falsafah kehidupan yang dipegang teguh oleh lakon wayang Semar ini. Pertama, manunggaling kawula Gusti[2], yaitu menyatunya seorang hamba dengan Tuhannya. Maksud dari pernyataan ini adalah usaha seorang hamba dalam menerapkan sifat-sifat ketuhanan yang telah ditransformasikan oleh Sang Pencipta yang menjadikan manusia tersebut seakan-akan menyatu dengan Tuhan, karena mempunyai sifat-sifat seperti Tuhan. Termasuk dalam berkehidupan ini, seorang hamba akan senantiasai menyertakan Allah di berbagai segi kehidupanya. Di sinilah akan sangat terasa peran dan keberaaan Tuhan di dalam kehidupan, terutama berimplikasi pada lahirnya rasa cinta dalam kehidupanyang didasari atas keberadaan Tuhan sebagai sosok Penguasa di dalam kehidupan manusia tersebut.

            Manunggaling kawula Gusti dapat pula diartikan sebagaimana seorang hamba bersikap terhadap tuannya. Yaitu, terutama ketika seorang hamba akan terlebih dahulu mengedepankan kehendak tuannya, dibandingkan dengan kehendaknya sendiri atau lebih mengutamakan kemauan Allah dibandingkan kemauanya sendiri. Di sini akan terjadi hukum timbal-balik, sebanyak apa pengorbanan seorang hamba terhadap tuanya, sebegitu pula seorang tuan akan mengutamakan hambanya. Begitu pula Tuhan akan memperhatikan hamba, sebesar seorang hamba mengutamakan diri-Nya; mengingat dan memperhatikan-Nya. Kesesuaian tersebut dapat dilihat dari bacaan sholat yang selalu diucapkan

إِنَّ صَلَاتِيْ وَنُسُكِيْ وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِيْ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ[3]

Kesimpulanya, sebagai seorang hamba sudah sepantasnya mengabdikan seluruh kehidupanya kapada Allah, hingga seluruh pekerjaan yang dilakukanya beraliran ibadah kepada Allah

Kedua,  Sangkan Paraning Dumadi[4]. Filsafat ini mengajarkan hakikat hidup manusia itu ‘dari mana dan mau ke mana;. Menurut orang Jawa, kehidupan ini dapat dibagi menjadi 3 tingkatan kehidupan yaitu alam Purwa (alam sebelum manusia dilahirkan), Madya (dunia), dan Wusana (alam kehidupan yang akan datang). Maka dari itu sering penganut kebatinan Jawa  mengibaratkan bahwa  “Urip iku kaya wong mampir ngombe”[5]. maksudnya kehidupan di dunia hanyalah sementara, dunia bukan asal kehidupan seseorang, juga bukan tujuan hidup seseorang. Maka dalam Islam manusia itu sesungguhnya adalah milik dan akan selalu kembali kepada Tuhan. Inilah yang sesungguhnya diajarkan dari kalimat Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Dalam tradisi kebatinan Jawa, banyak juga disimpulkan, “biarkan dunia berjalan apa adanya, ambil secukupnya untuk bekalmu”. Hal ini didasari pemahaman bahwa hidup ini masih akan beranjut setelah habis masa hidup di dunia[6]. Sangat dikhawatirkan ketika hati seseorang begitu tertambat dalam kehidupan duniawi, akan membuat  jiwa manusia tersebut (nafs) tidak bisa merasakan ketenangan (mutmainnah) dan akan terus selalu mengejar kepuasan duniawi, padahal dalam surat al-Fajr dituliskan  

 يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ () ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

            Jiwa atau nafs yang terbiasa kembali kepada Allah dengan jalan yang sesuai harapan penciptanya digambarkan sebagai jiwa yang tenang atau mutmainnah. Jiwa ini adalah jiwa yang mengerti asal dari kehidupanya sebagai hasil penciptaan Allah dan mengetahui kemana tujuan manusaia yaitu akhirat

Terkait Semar dan Nusantara Baca Konstruksi Agama di Indonesia

            Ketiga, Sosok Semar adalah “Kasedan jati”, kafa bilmauti wa’idzun; cukuplah kematian sebagai nasehat. filosofi ini berisi tentang tuntunan hidup dan mati yang sempurna. Salah satu cara yang dapat dipenuhi dalam menjalani kehidupan yang sesuai dengan tuntunan tersebut adalah dengan cara melenyapkan ego dan mengikuti kehendak Allah semata. Dalam versi orang Jawa, untuk mengikuti kehendak dari Allah tersebut, manusia mesti menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan yang berpengaruh buruk. Salah satu contohnya adalah bagaimana cara dalam berbicara kepada orang tua.yang harus lembut dan sopan, walaupun mungkin ada sedikit pertentangan yang anak sampaikan pada orang tua. Dalam hal ini orang Jawa sangat meyakini adanya penerapan terminologi kualat, atau budaya hukum karma, yaitu adanya balasan sebagaimana perbuatan seseorang akan terjadi sebagaimana sesuai dengan apa yang dilakukanya sebelumnya.

            Keempat, Memayu Hayuninng Bawana[7], ataumemperindah keindahan dunia[8]. Yang dimaksud dengan memperindah keindahan dunia adalah memaknai nilai kehidupan dan mempercantiknya dengan menanamkan kebaikan yang akan menghasilkan kebaikan pula di bumi. Sebagaimana dunia yang cantik ini, maka penduduknya juga harus cantik. Namun apabila dihuni oleh penduduk yang tidak cantik perilakunya atau kepribadianya, maka lambat laun dunia yang cantikpun akan menajdi rusak. Sebaliknya, dalam rangka mempertahankan kecantikan dunia itu, setiap orang wajib mengekang egoisme pribadi dan hawa nafsunya, sehingga tidak merusak dunia yang telah diciptakan sebegitu indah dari  berbagai seginya. Dalam menjaga keindahan dunia tersebut dapat dilakukan dengan cara melatih diri, atau “niteni”; membaca realita yang ada di sekitar dengan mengandalkan kepekaan atas sunatullah,.  Secara singkat, memayu hayuning bawana ini dapat diartikan sebagai upaya menanamkan kebaikan dan mengontrol kemaksiatan guna  menjaga keindahan dunia. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)

Catatan Kaki


[1] Sumarsam, Memaknai Wayang dan Gamelan : Temu Silang Jawa, Islam, dan Global (Yogyakarta, Gading, 2018), hal. 127

[2] Maria A. Sardjono, Paham Jawa;Menguak Falsafah Hidup Manusia Jawa Lewat Karya Fiksi Mutakhir Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1995), hal. 24

[3] https://news.detik.com/berita/d-4860415/bacaan-duduk-di-antara-dua-sujud-lengkap-dengan-artinya

[4] Ir. Sri Mulyono, Sebuah Tinjauan Filosofis Simbolisme dan Mistikisme dalam Wayang : Wirit Hidayat Jati dalam Wayang : Sangkan Paran dan Ontologi (Jakarta, Gunung Agung, 1979), hal. 99

[5] https://www.kompasiana.com/jatikumoro/54f7127ba333116e218b473d/sangkan-paraning-dumadi

[6]Niels Mulder, Mistisisme Jawa Ideologi di Indonesia : Model Moral Perbuatan yang Dijiwai Kebatinan, (Yogyakarta: LKiS, 2001), hal. 109

[7] Gunawan Sumodiningrat, Nilai-Nilai Seni Pewayangan : Etika Kehidupan Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat (Semarang:  Dahara Prize, 1993),hal. 45

[8] https://suaramuslim.net/memayu-hayuning-bawono/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *