Konstruksi Sains Barat dan Sains Islam

sains-barat-islam-ushuluddin-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

KONSTRUKSI SAINS BARAT DAN SAINS ISLAM (STUDI KOMPARATIF)

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag (Alumni Prodi SAA UNIDA Gontor 2018/ Guru PP.Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Kab. Tegal)

Puspita Ayu Lestari, S.Ag (Alumni Prodi SAA UNIDA Gontor, Mahasiswi Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga)

Pengantar

Secara bahasa, kata “sains” adalah turunan dari kata dalam bahasa Inggris “science”, diadaptasi dari bahasa latin “scientia” yang berarti mengetahui atau pengetahuan-“to know”, knowledge”, juga dalam perkataan latin yaitu “scire” yang mempunyai arti dalam bahasa inggris “to learn”[1] Adapun menurut pengertian istilahnya, sains dijelaskan oleh Prof. Agus Purwanto dalam buku Ayat-ayat Semesta, bahwa sains adalah produk manusia seperti halnya musik, film, patung, bangunan, dsb; di mana setiap produk pasti membawa tata nilai dan pandangan hidup atau pandangan dunia dari produsennya.

Sebagai contoh beliau memberikan analogi kritis terhadap moralitas di Indonesia, yaitu dengan diterbitkannya majalah Playboy. Majalah ini adalah produk sekaligus menawarkan pandangan hidup bebas, free sex. Pelan tetapi pasti, produk ini akan menggiring masyarakat untuk memiliki pandangan hidup yang mesum bahkan lebih rendah dari binatang melata dan ternak. Lebih jauh dari itu Prof Agus memberikan analisa bahwa sains barat membawa tata nilai peradaban modern, yakni materialisme, kisah tragis pembunuhan Tuhan dalam tradisi gereja.[2]

Konsepsi Sains Barat

Sains dalam pandangan hidup Barat menurut analisa Prof. Syed Muhammad Naquib Al-attas, telah menampakkan masalah serius bagi umat muslim yaitu gugurnya dari makna ruhiah karena menafikan unsur Ilahiyah. Hal ini disebabkan  karena Barat menafsirkan sains dengan berdasarkan skeptisisme dan rasionalisme sebagai alat untuk menafsirkan sains kontemporer. Dengan kata lain, kedua pendekatan tersebut adalah alat tafsir utama dari sains itu sendiri.

Lihat Juga: Sains Islam Urgensi dan Praktik

Menurut al-Attas, Sains Barat telah tumbuh berkembang dari suatu filsafat yang dimana awal dari sesuatu muncul dari terwujud dari sesuatu lainya, semuanya bersifat progresif, evolutif dari materi yang kekal. Kemudian alam ini diyakini sebagai sesuatu kekal karena tidak dicipta atau dirinya ada dengan sendirinya. Alam dipahami berdiri dengan hukumnya sendiri dan berkembang dengan hukumnya sendiri juga, yang kemudian Barat telah mereduksi sains dengan sejumlah metode yaitu rasionalisme filosofis, rasionalisme sekular, empirisme sekular dan empirisme filosofis.[3]

Konsepsi Sains Islam

Prof. Alparslan memberikan penjelasan mengenai konstruksi sains islam beliau memberikan statement dalam karyanya Islamic Science towards a Definition, Alparslan menjelaskan: ”Just as the Islamic Revelation determines the social, political, economic, cultural, and artistic life of the Muslim civilization, it also gives direction to its understanding of nature and its scientific study”. [4] Stetmen diatas adalah penambahan dari penjelesannya mengenai Worldview Islam yang dilanjutkan kepada makna Sains Islam, menurutnya bangunan sains Islam adalah Islam berupa bangunan metafisika yang terkandung didalamnya konsep Tuhan, konsep agama dan sebagainya, epistemologi mencakup konsep ilmu dan kebenaran, kemudian fiqh, maqashid syariah atau hukum syariah, kemudian dipraktekkan dalam ranah aksiologi berupa adab-etika, tata nilai kebajikan, konsep baik dan buruk, akhlak sehari-hari, dan lainnya. Maka baginya, prasyarat sains disebut Islami adalah jika terpenuhinya unsur dan nilai Islami tadi dalam pengembangan ilmu, baik dari filsafat, konsep, dan metodologi, bahkan tujuan kegunaannya. Demikian itu, menurut Alparslan, karena Islam memang telah memberikan ketetapan kepada pemeluknya berupa aturan, termasuk bagaimana seharusnya berilmu dan mengembangkan keilmuan

Terkait Sains Barat baca juga: Religiousitas Sains: Sinergi Ilmu dengan Agama berlandaskan Tauhid

Jika kita telaah definisi sains di atas, definisi tersebut merupakan kelanjutan dari definisi Worldview Islam. Dimana Worldview Islam sebagai visi Islami tentang realitas dan kebenaran, dengan upaya menyatukan pemikiran arsitektonik, yang berperan sebagai asas yang tidak nampak (non-observable) bagi semua perilaku manusia, termasuk aktifitas ilmiah dan teknologi. Setiap aktifitas itu akhirnya dapat dilacak pada pandangan hidupnya. Hal ini sebagaimana dikutip oleh Assoc. Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam beberapa artikelnya, terutama ketika menjelaskan tentang Worldview Islam sebagai asas bagi epistemologi dan Islamisasi Ilmu.[5]

Penjabaran diatas ini selaras dengan Prof. Agus Purwanto. Prof. Agus memberikan definisi Sains Islam sebagai bangunan keilmuan yang tersusun dari pengejawantahan prinsip tauhid bersumber dari wahyu. Menurutnya, terdapat tiga keadaan fundamental dalam makhluk yaitu materiil, psikis dan spiritual; sebagaimana hasil dari renungan ayat Allah dalam Q.S al-Haqqah: 38-39[6].

Lanjut Prof Agus, al-Qur’an memiliki posisi sebagai subjek petunjuk dalam kerangka ilmu pengetahuan dengan memberi petunjuk mengenai sains dalam Sains Islam yang selalu dikaitkan dengan speckrum metafisik dan spiritual. Ini bermakna dalam Sains Islam, wahyu dan sunnah menjadi sumber inspirasi dari bangunan ilmu pengetahuan, jelas ini sangat berlawanan dengan prinsip sains Barat yang pada awal kelahirannya secara terang-terangan memproklamirkan perlawanan terhadap doktrin agama. Faktanya, wahyu tidak memiliki tempat dalam konsepsi sains barat[7]

Penutup

Demikianlah penjelasan dari para tokoh yang mempunyai otoritas dalam bidangnya, dari sini penulis melihat, definisi Sains Islam ini sepatutnya menjadi alternatif bahkan dilanjutkan sebagai jalan pijakan utama dalam memahami Sains Alam ataupun Sains Sosial, dan disisi lain Sains Barat sekarang sudah diracuni dengan rasionalisme sekular, skeptisisme yang berimplikasi pada penafikan unsur Tuhan dan telah nampak dampak buruknya ketika sains kering akan nilai Tuhan. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana, M.A.)


Referensi

[1] Mohd. Muslih, Falsafah Sains, dari Isu Integrasi Keilmuan Menuju Lahirnya Sains Teistik, (Yogyakarta: LESFI, 2017), h. 27

[2] Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Jakarta: Mizan, cetakan ke-3, 2017), h. 186

[3] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Islam dan Filsafat Sains, terj. Islam and Philosophy of Science,penerjemah Saiful Muzani,(Jakarta: Mizan, cetakan pertama, 1995), h. 27

[4] Alparslan Acikgenc telah menjelaskan secara filosofis makna sains Islam, serta mengelaborasinya dengan Analisa historis. Selengkapnya lihat di Islamic Science towards a Definition, (Kuala Lumpur: ISTAC, 2006).

[5] Hamid Fahmy Zarkasyi, Peradaban Islam; Makna dan Strategi Pembangunannya, (Ponorogo: CIOS Unida Gontor, Cet. Ke-2, 2015), h. 13. Lihat: Sofian Hadi dan Ari Ashari, Mendudukkan Kembali Makna Ilmu dan Sains dalam Islam, Tasfiyah : Jurnal Pemikiran Islam, Vol. 4, No. 1, Februari 2020, h.98

[6] Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Jakarta: Mizan, cetakan ke-3, 2017), h. 188

[7] Agus Purwanto, Ayat-Ayat Semesta Sisi-Sisi Al-Qur’an Yang Terlupakan, (Jakarta: Mizan, cetakan ke III, 2017), h. 191

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *