Makna Din dan Keterkaitannya

ilmu-perbandingan-agama-perkembangan-definisi-srtudi-agama-agama-saa-ushuluddin-unida-gontor

Makna Din dan Keterkaitanya, oleh: Khairul Atqiya/Mahasiswa Pascasarjana

Konsep agama (religion) oleh masyarakat Barat dipahami sebagai tradisi yang lahir dari proses sejarah. Para peneliti studi agama di Barat sendiri berbeda pendapat mengenai definisi agama. E. B. Tylor dan James Frazer misalnya, menyimpulan bahwa agama muncul sebagai bentuk pelarian manusia atas beragam pertanyaan yang tidak bisa dijawab, hal ini sebagaimana penjelasan dalam buku Seven Theories of Religion karangan Daniel L. Pals.

Agama Menurut Karl Marx

Lain halnya dengan pandangan Karl Marx, dalam buku yang sama, dijelaskan bahwa ia berpendapat agama lahir sebagai alat kelas sosial atas untuk mengendalikan kelas proletar (kelas bawah). Sehingga agama ibarat candu yang berfungsi ‘meninabobokan’ kelas bawah. Atau Emile Durkheim yang memandang bahwa agama sebatas sistem di masyarakat yang mensakralkan sesuatu. Pandangan beberapa tokoh studi agama dalam buku Pals tersebut menunjukkan kegagalan Barat dalam memaknai agama secara final, ini dikarenakan pandangan mereka berdasarkan pemikiran dan pengalaman tanpa adanya bimbingan wahyu.[2]

Tentang din, Lihat juga: Referensi Ilmu Perbandingan Agama

Salah satu elemen dasar dari worldview Islam adalah konsep din. Istilah din secara umum sering diartikan sebagai agama atau religion dalam bahasa Inggris, meskipun sebenarnya, istilah tersebut tidaklah sama dengan din. Din memiliki makna yang begitu luas yang menggambarkan konsep atau rancangan dasar Islam itu sendiri dimana hal tersebut tidak terkandung atau terwakili sepenuhnya dalam istilah agama atau religion.[1] Din pula yang menjadi pembeda antara Islam dengan agama-agama lainnya yang menunjukkan bahwa tiada agama selain Islam yang memiliki dan meliputi seluruh konsep din beserta cabang-cabang konsepnya sebagai perkembangan dari makna asalnya.

Lihat juga: Judul- judul skripsi diterima calon wisudawan SAA 2021

Lain halnya dengan konsep agama dalam Islam, agama atau religion dalam Islam lebih tepat disebut sebagai din yang mana makna utamanya terdapat dalam wahyu (Qur’an dan Sunah) yang bisa ditinjau dengan merujuk kepada asal dan medan semantik kata dari istilah tersebut. Din yang dalam bahasa Arab berasal dari kata (دين), menjadi sumber bagi lahirnya istilah-istilah lainnya yang mengandung keterkaitan antar satu dengan yang lain.

Ibarat sebuah akar pohon yang tumbuh dan membesar membentuk cabang dan dahan pohon, din seperti akar bagi istilah-istilah yang berkembang menjadi satu kesatuan konsep besar yang terhubung dan tidak bisa dipisahkan dari konsep asalnya. Dana, da’in, dayn, daynunah, dayyan, muddun, mada’in, madinah, maddana, tamaddun ialah diantara contoh beberapa istilah yang berasal dari kata din sehingga berkembang secara luas membentuk konsep din.[3]

Memahami pengertian agama/religion dalam bahasa Arab sebagai bahasa Islam perlu dilakuakan untuk memahami pengertian agama/religion menurut Islam secara tepat. Karena itu, dalam tulisan ini pengertian agama menurut Islam akan menjelaskan makna kata Dīn dan bukan agama atau religion.

Makna Din secara Bahasa

Kata Dīn beralas dari kata dāna-yadīnu yang memiliki beragam makna. Diantara makna tersebut adalah malaka (memiliki), sasa (mengatur), hakama (menghukumi), qahara (memaksa), qadha (memutuskan), hasaba (menghitung), jaza (memberi imbalan) dan `ada (terbiasa).[4] Makna-makna din di atas terlihat berkaitan erat dengan kekuasaan. Selain itu kata ini juga bisa berarti ‘atha`a (mentaati) dan ittakhadzahu dinan (menjadikan sesuatu sebagai agama).[5] Kata-kata tersebut terlihat tak beraturan dan tak terikat satu sama lain. Namun jika ditelaah lebih jauh akan terlihat kaitan-kaitan antar makan.

Makna din yang terakhir—menjadikan sesuatu sebagai agama—  menurut Dr. Abdullah Darras berkaitan dengan makna din yang sebelumnya. Kebiasaan dan keyakinan seseorang (agamanya) akan menjadi penguasa atas dirinya dan dia akan tunduk padanya.[6] Penjelesan ini menegaskan bahwa makna-makna din memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya.

Makna lain dari dana adalah berhutang. Makna ini menjadi salah satu makna yang dijelaskan oleh Syed Naquib Al-Attas pada pembahasan tentang din. Terdapat tiga makna lainnya yaitu kepasrahan atau penyerahan diri, kuasa peradilan dan kecenderungan alami.[7] Seseorang yang berhutang akan memiliki kewajiban atau pertanggung jawaban atas hutangnya. Pertanggungjawaban mengharuskan adanya perdilan.[8] Dengan ini terlihat hubungan antara makna din sebagai hutang dan peradilan.

Kata Turunan Din

Kaitan ini mengarah kepada kaitan din dengan kata turunannya yaitu madinah. Derivasi ini menunjukan adanya kaitan antara kata din (agama/religion) dan madinah.[9] Madinah tidak hanya bermakna tempat tapi juga individu yang mendiaminya dan hal yang terjadi di dalamnya. Kondisi seseorang yang berhutang dan memiliki tanggungjawab yang perlu ditunaikan yang selanjutnya akan diadili atau dihukumi hanya dapat terlaksana dalam masyarakat yang tertib dan memiliki peraturan.

Konsep seperti itulah yang mencerminkan suatu madinah.[10] Gambaran ini memperjelas hubungan antara din dengan berbagai maknanya yang lain serta kata turunannya.

Kaitan makna din sebagai agama dengan maknanya yang lain beserta turunnanya mencerminkan suatu kehidupan yang tertib dan terartur. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, aturan, pemimpin yang mengatur beserta individu-individu yang hidup dengan tertib di dalamnya. Dengan ini terlihat bahwa di dalam kata din terkandung berbagai konsep yang kompleks. Din tidak hanya seperangkah kepercayaan buta. Lebih dari itu din adalah asas bagi suatu kehidupan yang tertib dan teratur atau suatu peradaban.[11] (Editor: Azzamul Azhar, S.Ag.)

Referensi


[1] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to The Methaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 41.

[2] Daniel L. Pals, Seven Theories of Religion (New York: Oxford University Pres, 1996)

[3] M. Kholid Muslih, et al., Worldview Islam; Pmebahasan tentang Konsep-konsep Penting dalam Islam (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), p. 32-34.

[4] ʻAlī al-Fārūqī al-Tahānawī, Kashshāf iṣṭilāḥāt al-funūn (al-Qāhirah: al-Muʼassasah al-Miṣrīyah al-ʻĀmmah lil-Taʼlīf wa-al-Tarjamah wa-al-Ṭibāʻah wa-al-Nashr, 1963), 814-815.

[5] M. Kholid Muslih, et al., Worldview Islam; Pmebahasan tentang Konsep-konsep Penting dalam Islam (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), p. 33.

[6] Muhammda Abdullah Darras, al-Din: Buhuts Mumahhadah li Dirasar Tarikh al-Adyan (Kuwaitu: Dar al-Qalam), p. 34-35.

[7] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Prolegomena to The Methaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995), p. 41.

[8] M. Kholid Muslih, et al., Worldview Islam; Pmebahasan tentang Konsep-konsep Penting dalam Islam (Ponorogo: UNIDA Gontor Press, 2018), p. 33-34.

[9] Al-Rāgib Al-Isfahānī, Mufradātu Al-fāẓi Al-qurān (Damsyq: Dār al-Qalam), p. 323.

[10] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Risalah untuk Kaum Muslimin (Kuala Lumpur: ISTAC, 2001), p. 29.

[11] Syed Muhammad Naquib Al-Attas, Islam and Secularism (Kuala Lumpur: ISTAC, 1993), p. 53.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *