Menangkal Radikalisme Dengan Film Animasi

Menangkal Radikalisme Dengan Film Animasi

Paham-paham radikalisme tampaknya sudah menjadi tantangan nyata umat beragama di Indonesia saat ini. Paham yang dahulu dianggap sebagai mitos atau tuduhan terhadap gerakan keagamaan tertentu nyatanya hari-hari ini banyak meracuni pemikiran dan ideologi para generasi penerus bangsa. Perang pemikiran dan ideologi yang terjadi setiap hari dalam berbagai media, platform, dan kanal informasi. Hal inilah yang mendasari Center for the Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bekerjasama dengan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta meluncurkan proyek bertajuk “Film Animasi Religi”.

Pada 3 Februari 2018 yang bertepatan dengan 17 R. Akhir 1439, CISForm UIN Sunan Kalijaga dan PPIM UIN Jakarta mengadakan “Launching dan Diskusi Film Animasi Religi” di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Acara ini mengundang para praktisi pendidikan, tokoh agama, pengurus masjid dan TPA, mahasiswa, dosen, dan utusan dari berbagai sekolah menengah atas (SMA) di Yogyakarta. Acara ini juga turut mengundang beberapa narasumber seperti Prof. Dr. Djamhari Ma’ruf dari PPIM UIN Jakarta, Bapak Agus Purwanto dari Universitas AMIKOM Yogyakarta, dan al-Ustadz H. Saijan, S. Ag., M.Si.

Dr. Muh. Wildan, M.A., selaku direktur CISForm UIN SUKA memberikan pengantar seperti disinggung di awal tulisan. Berbagai gelombang informasi dengan berbagai bentuk dan macamnya membombardir masyarakat kita setiap harinya. Hal tersebut juga dibarengi oleh kontestasi ideologi dari berbagai pihak. Media yang merupakan salah satu keunggulan yang dikuasai oleh generasi millennial dijadikan salah satu sumber merebaknya berbagai paham dan ideologi, salah satunya adalah ideologi radikalisme. Para tamu undangan dari berbagai SMA dan MAN dimaksudkan untuk mengantisipasi paham-paham yang demikian. Hal tersebut mengingat usia SMA dan awal masuk kuliah adalah lahan subur di mana para anak akan mencari jati diri mereka. Para pihak yang tidak bertanggungjawab akan memanfaatkan masa-masa tersebut dengan mengisi kepala mereka dengan narasi-narasi dan wacana-wacana berhaluan tertentu.

Usaha ini merupakan sebuah narasi tandingan (counter-narrative) atau narasi alternatif (alternative narrative) dari pelbagai narasi dan wacana yang berseliweran. Dengan ini diharapkan mampu meluruskan wacana-wacana keagamaan di ruang publik atau minimal menetralkan berbagai ideologi radikal yang tidak lagi terkontrol di masyarakat. Proyek ini merupakan proyek lanjutan dari penerbitan komik bertema serupa di tahun 2016. Film ini dapat disaksikan di kanal CISForm UIN SUKA di YouTube dengan total 40 seri yang masing-masing berdurasi sekitar 1-2 menit. Tema yang diangkat juga beragam seperti hijrah, khilafah, jihad, dan berbagai isu keagamaan yang sering dihembuskan dalam pemahaman yang sempit dan keliru.

Menurut Prof. Dr. Djamhari Ma’ruf, animasi ini merupakan salah satu program menyuarakan Islam yang “ramah” dan menolak kekerasan. Tugas para praktisi pendidikan, akademisi, dan semua elemen masyarakat adalah “Bagaimana membangun Indonesia yang damai dan sejahtera”. Indonesia yang tengah menikmati bonus demografi di mana penduduknya didominasi oleh usia produktif harus dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebaik mungkin. Bila tidak, bonus demografi ini hanya akan menjadi bencana demografi. Bonus demografi ini juga menjadi sasaran utama para aktivis radikal dalam menambah pengaruh dan meluaskan sayapnya. Karenanya, perlu diadakan sebuah usaha preventif dalam menanggulanginya.

Mengapa program yang dipilih berupa animasi? Pertanyaan tersebut beliau jawab dengan membeberkan fakta yang dimiliki oleh generasi millennial. Anak-anak muda saat ini lebih banyak dan menyukai belajar ke media sosial dan internet saat ingin belajar berbagai ilmu, termasuk ilmu agama. Di dunia maya, mereka bebas memilih guru, ustadz, atau penceramah yang aktif di media, televisi, YouTube, dan sosial media lainnya. Hal tersebut terlihat dari munculnya beberapa penceramah yang memang sedang “naik daun” dan digandrungi para remaja. Selain itu, anak muda saat ini juga memiliki konsentrasi yang lemah dan cenderung menurun, sehingga diharapkan animasi yang berdurasi singkat ini dapat langsung menyampaikan pesan yang dimaksud tanpa bertele-tele.

Beliau menambahkan, menurut catatan BNPT, tiap harinya sekitar 10 situs berideologi radikal muncul di internet. Jumlah ini tentu saja tidak dibarengi dengan banyaknya situs atau konten yang menetralkan atau menghadirkan narasi tandingan. Karenanya, beliau menutup sambutannya dengan ajakan untuk lebih berfokus pada ilmu pengetahuan dan teknologi daripada harus melakukan kekerasan dalam menanggulangi berbagai isu radikalisme dan terorisme.

Sesi diskusi dimulai oleh Bapak Agus Purwanto dari Universitas AMIKOM Yogyakarta. Beliau mengatakan bahwa animasi yang digunakan dalam animasi religi ini adalah animasi yang paling sederhana dan dapat dipelajari oleh siapa pun. Namun kesederhanaan bentuk animasi ini tidak seketika mengeyampingkan berbagai asas dan prinsip tayangan animasi. Menurutnya, 12 prinsip animasi sudah terpenuhi dalam penyajian animasi religi ini. Salah satu prinsip yang penting adalah appeal atau penokohan/pengkarakteran. Prinsip ini akan memberikan pengaruh kuat pada aspek lainnya.

Beliau menjelaskan bahwa salah satu kekuatan animasi adalah kemampuannya memvisualisasikan hal-hal yang tidak didapat dengan live-shoot. Beliau memberikan apresiasi yang baik untuk kemunculan animasi ini, namun beliau memberikan beberapa saran. Salah satunya adalah alangkah baiknya bila dalam perkembangannya, animasi ini mengangkat isu dan topik yang sedang hangat diperbincangkan di masyarakat atau up to date.

Sebagai perwakilan dari praktisi pendidikan dan tokoh agama, al-Ustadz H. Saijan, S.Ag., M.Si. menutup sesi launching siang itu. Beliau mengapresiasi baik program animasi religi ini sebagai salah satu media menyampaikan kebaikan dengan menyejukkan dan mudah ditangkap. Bila pesan-pesan kebaikan diajarkan dengan baik, menyejukkan, dan mudah ditangkap maka akan cepat dipahami oleh pendengar dan dapat bertahan lebih lama. Karenanya beliau menekankan bahwa metode mengajar lebih penting dari materi yang diajarkan itu sendiri. Peluncuran animasi ini adalah salah satu metode pengajaran yang seiring dengan perkembangan zaman dan berisi materi yang mudah diterima.

Beliau juga menekankan bahwa efektivitas pesan dan kesan dalam animasi berdurasi singkat ini cukup efektif untuk diterima semua kalangan. Materi yang cukup “berat” dan sensitif dapat diterima dengan ringan dalam bentuk animasi ini. Kesan yang kuat juga didapatkan dari sebuah teladan yang konsisten dalam ucapannya, yang dalam animasi ini diperankan oleh sosok Ustadz Turmuzi yang bijak dan konsisten dengan perkataannya. Namun beliau menganjurkan untuk memperbanyak juga konten-konten serupa yang sasarannya adalah anak-anak kecil, karena animasi ini memang lebih mudah dipahami oleh para siswa SMA ke atas.

Animasi ini berbentuk simpel dan sederhana dengan graphic yang standar. Namun bukan hal itu yang menjadi fokus utamanya, akan tetapi lebih kepada isi pesan yang disampaikan. Pesan yang berkaitan dengan isu dan wacana yang banyak bermunculan akhir-akhir ini di Indonesia. Semua wacana yang dihadirkan disebutkan dengan ringkas, tepat sasaran, dan dengan mencantumkan sumber terpercaya dan shahih. Setting dan pembicaraan yang digunakan juga tidak jauh berbeda dengan kondisi keagamaan di Indonesia saat ini.

Yogyakarta, Feb 3, 2018/R. Akhir 17, 1439

 

Film Animasi dapat disaksikan di link berikut, jangan lupa untuk like, comment, dan subscribe untuk selalu update video terbaru

https://www.youtube.com/channel/UCLL5VsrBABdk98EYGj03K6A/featured

One Reply to “Menangkal Radikalisme Dengan Film Animasi”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *