Menyorot Hak Minoritas Kristen di Timur Tengah

Menyorot Hak Minoritas Kristen di Timur Tengah

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya

Agama Kristen merupakan agama dengan pemeluk terbesar di dunia. Situs thearda.com
menyatakan bahwa 32,8% persen dari penduduk dunia saat ini memeluk agama tersebut. Secara
etimologi dalam KBBI, Kristen berarti ‘pengikut Kristus’ atau ‘agama yang disampaikan oleh
Kristus/Yesus’. Yesus merupakan tokoh paling sentral dalam kepercayaan Kristen.

Palmer menegaskan bahwa Yesus diutus kepada kaum Yahudi untuk menyelamatkan mereka dari kesesatan
(Palmer, 2005: 12. Bahkan jauh sebelum Ia dilahirkan, kitab suci umat Yahudi telah memprediksi akan
kedatanganNya (Gunderson, 2004: 16). Ia adalah Anak Tuhan yang dilahirkan ke bumi melalui rahim
perawan Maria, hidup di antara manusia, mati demi menebus dosa turunan anak manusia, dan
kemudian dibangkitkan kembali (Palmer, 2005: 112). Karenanya, ia sering disebut sebagai “Yesus
Kristus” atau “Yesus Sang Juruselamat” (Gunderson, 2004: 16).

Timur Tengah merupakan kawasan yang mencakup Asia Barat dan Afrika Utara. Selain
identik dengan bangsa Arab dan bahasa Arab, kawasan ini juga lekat dengan agama Islam. Dari 1,4
miliar pemeluk Islam di seluruh dunia, 18% tinggal di negara-negara Arab dan 20% tinggal di Afrika.
Dominasi agama Islam yang besar pada agama lain yang menjadi minoritas secara jumlah membuat
beberapa kebijakan khusus bagi pemeluk agama lain di kawasan tersebut. Salah satunya adalah
kebijakan terkait rumah ibadah.

Meskipun agama ini memiliki pemeluk terbesar di dunia, namun dalam konteks kawasan
Timur Tengah agama tidak begitu populer. Prosentasenya berada di bawah agama mayoritas di
kawasan tersebut, Islam, yang akan dijelaskan lebih rinci pada pembahasan setelah ini. Namun
“ketidakpopuleran” Kristen dan jumlahnya yang minoritas tidak serta merta menafikan eksistensi
mereka di tanah Arab. Hal tersebut dikarenakan faktor historis di mana para Yesus lahir di Bethlehem
pada tahun 0 M, besar dan tumbuh di Nazaret hingga berumur 30 tahun dan meninggal kemudian
dibangkitkan kembali di Yerussalem (Michel, 2001: 51-52).

Semua kota tersebut terletak di kawasan Timur Tengah. Setelah wafatnya Yesus, para rasul
mewartakan Injil ke daerah Samaria, Caesarea, Damsyik (Damaskus), dan Antiokhia dengan
menggunakan bahasa Aram. Bahkan pada 179 M, Edessa yang berada di Mesopotamia resmi menjadi
negara Kristen pertama. Berawal dari tempat tersebut, Kristen disebarkan ke arah Timur dan
Tenggaranya (Fitriyana, 2016: 148; Trimingham, 1979: 31).

Yuangga Kurnia Yahya, salah seorang staff pengajar Prodi Studi Agama-Agama UNIDA
Gontor mencoba melihat kedudukan umat Kristiani selaku minoritas di Timur Tengah. Dengan
menggunakan teori minoritas dari Albert Hourani, ia meneliti status sosial dan kebijakan gereja yang
ada di Timur Tengah. Penelitian tersebut membahas penyebaran Kristen di Timur Tengah dan
perkembangannya dilihat dari jumlah gereja dan jemaat yang ada serta hak dan status sosial mereka
sebagai minoritas. Pembahasan akan berfokus pada gereja-gereja yang berada dalam Middle East
Council of Churches (MECC).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Status sosial pemeluk Kristen di Timur Tengah banyak
terpenuhi hak mereka. Di beberapa tempat, dengan masih berjalannya aturan terkait “dzimmy” secara
tidak langsung menjamin keberlangsungan pemeluk Kristen di negara tersebut. Di tempat lainnya,
seperti Lebanon, kaum Kristen justru memiliki hak yang setara dengan Islam Sunni dan Syi’ah.
Konflik sektarian dan isu terorisme di Timur Tengah nyatanya tidak hanya berdampak pada pemeluk
Kristen, namun kepada seluruh penduduk sipil tanpa memandang agama mereka.

Gereja memiliki posisi yang sentral dan penting dalam tataran teologis keimanan umat
Kristiani. Gereja yang mereka pahami dan diajarkan oleh Yesus melalui Simon Petrus tidaklah terbatas pada bangunan fisik gereja, namun lebih kepada persekutuan yang dibentuk oleh orang-orang yang “dipanggil” oleh Tuhan, sebagaimana asal kata gereja tersebut diambil. Karenanya, padanan kata gereja sebagai jaami’ atau masjid dirasa kurang tepat bagi sebagian orang. Adapun padanan kata yang dirasa cocok untuk menggambarkan gereja adalah jamaah atau umat. Selain itu, gereja sendiri dianggap sebagai tubuh Yesus di dunia dengan Tuhan sebagai kepalanya.

Karenanya, kedudukan mereka secara minoritas di Timur Tengah tidak menghalangi mereka untuk mendirikan gereja-gereja sebagai tempat peribadatan mereka. Gereja-gereja di atas merupakan sebagian kecil dari banyak gereja yang tersebar di Timur Tengah. Penulis mengambil beberapa contoh gereja-gereja besar yang memiliki banyak jemaat dan bertahan dalam waktu yang lama dan rezim pemerintahan yang berbeda. Pasang surut gelombang yang dihadapi umat Kristen di Timur Tengah tidak menyurutkan semangat umat Kristen bertahan di bawah dominasi agama Islam. Selain sebagai rumah ibadah, beberapa gereja di atas juga menjadi situs sejarah dan saksi bisu akan berbagai peradaban yang telah dilalui penduduk di kawasan Timur Tengah sebelum terkenal sebagai kawasan yang Islami seperti saat ini .

NB: Artikel lengkap dapat dibaca di Jurnal Religi: Jurnal Studi Agama-Agama UIN Sunan
Kalijaga Vol. 14, No.2, 2018, 243-267 http://ejournal.uin-suka.ac.id/ushuluddin/Religi/article/view/1402-05/0

Fitriyana, Nur. 2016. Sejarah Singkat Gereja Perdana. Jurnal Ilmu Agama 15.1. 147-192.

Gunderson, Cory Gideon. 2004. Religions of The Middle East. Minnesota: ABDO Publishing Company.

Michel, Thomas. 2001. Pokok-Pokok Iman Kristiani: Sharing Iman Seorang Kristiani dalam Dialog Antar Agama. Terj. Y.B. Adimassana dan F. Subroto Widjojo, S.J. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Palmer, Martin (Ed). 2005. World Religions. London: HarperCollins Publishers.

Trimingham, J. Spencer. 1979. Christianity Among the Arabs in Pre-Islamic Times. London: Longman Group Limited.

One Reply to “Menyorot Hak Minoritas Kristen di Timur Tengah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *