Metode Psikologi dalam Studi Agama

metode-psikologi-agama-saa-studi-agama-agama-ushuluddin-unida-gontor

Metode Psikologi Agama Oleh: Dimas Prihambodo, S.Ag/ Wisudawan Prodi  Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin UNIDA Gontor

Sebagai metode yang sistematis, psikologi mengkaji agama secara objektif dengan mengumpulkan data dan fakta, kemudian membentuk sebuah kesimpulan. Didalam agama terdapat dimensi metafisik yang tidak mungkin dikaji menggunakan metode yang sering dipakai oleh ilmu kealaman. Oleh karenanya metode psikologi dirasa penting dalam Ilmu Perbandingan Agama. Ada delapan hal yang perlu diperhatikan dalam studi agama dengan menggunakan metode psikologi, diataranya:

  • Memiliki kemampuan dalam meneliti kehidupan dan kesadaran batin manusia.
  • Memiliki keyakinan bahwa segala bentuk pengalaman dapat dibuktikan secara empiris
  • Dalam penelitian harus bersikap filosofis spiritualistis.
  • Tidak mencampuradukkan antara fakta dengan angan-angan atau perkiraan khayali
  • Mengenal dengan baik masalah-masalah psikologi dan metodenya
  • Memiliki konsep mengenai agama serta mengetahui metodologinya
  • Menyadari tentang adanya perbedaan antara ilmu dan agama
  • Mampu menggunakan alat-alat penelitian yang digunakan dalam penelitian ilmiah.

Dengan metode diatas diharapkan, peneliti dapat mengumpulkan data dan mengolah serta menganalisa dengan cermat sehingga pun hasilnya dapat objektif.[1] berikut akan dipaparkan metode-metode psikologi dalam studi agama:

Metode Dokumen Pribadi dan Metode Karakter Pengalaman Agama Primer

Metode ini digunakan untuk mempelajari tetang bagaimana pengalaman dan kehidupan batin seseorang dalam hubungannya dengan agama. Untuk memperoleh informasi mengenai hal dimaksud maka cara yang ditempuh adalah mengumpulkan dokumen pribadi seseorang. Dokumen tersebut mungkin berupa autobiografi, biografi, tulisan ataupun catatan-catatan yang dibuatnya. Hal tersebut didasarkan atas pertimbangan bahwa agama merupakan pengalaman individual yang hanya dirasakan oleh dirinya sendiri, maka dirasa penelitian berdasarkan metode psikologi agama dibangun berdasarkan penelusuran dokumen pribadi perlu untuk dilakukan.[2]

William James dalam bukunya The Varieties of Religious Experience, tampaknya menggunakan metode ini. Walaupun kendati masih sebatas pada ahli-ahli agama, namun hasilnya sudah mampu memberikan kontribusi yang cukup. Dalam buku tersebut, James mengemukakan sejumlah kasus pribadi tentang pengalaman agama yang dirasakan masing-masing individu.[3]

Dalam penerapannya terkait metode psikologi agama, metode dokumen pribadi ini dilakukan dengan berbagai cara dan teknik tertentu. Diantaranya yang banyak digunakan adalah[4]:

  • Teknik Nomotatik

Merupakan pendekatan psikologis yang digunakan untuk memahami tabiat atau sifat-sifat dasar manusia dengan cara mencoba menetapkan ketentuan umum dari hubungan antara sikap dan kondisi-kondisi yang dianggap sebagai penyebab terjadinya sikap tersebut. Sedangkan sikap yang terlihat sebagai kecenderungan sikap umum itu dinilai sebagai gabungan sikap yang terbentuk dari sikap-sikap individu yang ada didalamnya.

Pendekatan ini digunakan untuk mempelajari perbedaan-perbedaan individu. Dalam penerapannya nomotatik ini mengasumsikan bahwa pada diri manusia terdapat suatu lapisan dasar dalam struktur kepribadian manusia sebagai sifat yang merupakan ciri umum kepribadian manusia. Ternyata dalam kajian ini ditemukan bahwa individu memiliki sifat dasar yang secara umum sama, perbedaan masing-masing hanya dalam derajat atau tingkat-tingkatan saja.

Nomotatik yang digunakan dalam studi tentang kepribadian adalah mengukur perangkat sifat seperti kejujuran, ketekunan dan kepasrahan sejumlah individu dalam suatu kelompok. Ternyata ditemukan bahwa sifat-sifat itu ada pada setiap individu, namun jadi berbeda oleh hubungan antara sifat itu dengan sikap seseorang. Perbedaan tinggi dan rendahnya sifat umum tersebut sangat dipengaruhi oleh situasi yang ada.

  • Teknik Analisis Nilai

Teknik ini digunakan dengan dukungan analistis statistik. Data yang terkumpul diklarifikasikan menurut teknik statistik dan dianalisis untuk dijadikan penilaian terhadap individu yang diteliti. Teknik statistik digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa ada sejumlah pengalaman keagaman yang dapat dibahas dengan menggunakan pendekatan alam, terutama dalam mencari hubungan antara sejumlah variabel. Carlson misalnya menemukan dalam penelitiannya bahwa, terdapat hubungan antara kepercayaan dengan tingkat kecerdasan. Didapatnya korelasi antara kepercayaan dengan tingkat kecerdasan. Yang berarti bahwa anak-anak yang kurang cerdas cenderung berpegang erat kepada kepercayaan agama, sedangkan pada anak-anak yang cerdas kecenderungan itu lebih kecil.

  • Teknik Indiography

Teknik ini digunakan untuk menyelidiki sifat dasar manusia. Berbeda dengan nomotetik, maka indiografi lebih dipusatkan pada hubungan antara sifat-sifat dimaksud dengan keadaan tertentu dan aspek-aspek kepribadian yang menjadi ciri khas masing-masing individu dalam upaya memahami seseorang.

Pelopor dari penggunaan teknik indeografi dalam psikologi agama adalah Gordon Allaport. Menurut Allport untuk mempelajari kepribadian semestinya mencakup sifat-sifat dasar yang merupakan ciri khas yang ada hubungan antara seseorang dengan prespektif dirinya. Masing-masing sifat dasar yang dimiliki seseorang individu sebagai ciri khas terlihat dalam penampilan sikap seseorang secara umum.

  • Teknik Penilaian Terhadap Sikap

Teknik ini digunakan dalam penelitian terhadap biografi, tulisan, atau dokumen yang ada hubungannya dengan individu yang akan diteliti. Berdasarkan dokumen tersebut kemudian ditarik kesimpulan, bagaimana pendirian seseorang terhadap persoalan-persoalan yang dihadapinya dalam kaitan hubungannya dengan pengalaman dan kesadaran agama.

  1. Metode Kuesioner

Metode Kuesioner merupakan suatu metode dengan menggunakan daftar berisikan suatu rangkaian pertanyaan mengenai suatu hal atau dalam suatu bidang. Dengan demikian maka kuesioner dimaksudkan sebagai suatu daftar pertanyaan untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban dari para responden (orang-orang yang menjawab). Kuesioner memiliki perbedaan dengan metode wawancara atau interview, yaitu bila wawancara mengumpulkan data dengan dengan lansung memberikan pertanyaan kepada responden. Sedangkan kuesioner tidak secara lansung, cukup dengan menulis pertanyaan dan menyeberkannya.[5]

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dari metode ini. Kelebihannya yaitu perumusan pertanyaan yang akan diberikan dapat dilakukan dengan tenang dan santai di kantor. Sehingga pertanyaan yang pada nantinya akan disampaikan dapat lebih sistematis dan matang. Selain itu dalam proses penelitian dilapangan akan lebih mudah, karena dalam penyebaran angket pertanyaan dapat dibantu oleh 2 orang atau lebih. Apalagi penelitian ini lebih cocok terhadap peneliti yang hanya mempunyai waktu terbatas.

Adapun kekurangannya, penelitian ini bersifat kaku. Pasalnya, hasil yang akan didapat oleh peneliti dari responden hanya sebatas jawaban dari pertayaan yang telah terumuskan di dalam angket. Padahal, hasil diluar pertanyaan tidak dapat kita kesampingkan dan perlu didapatkan sebagai tambahan dari hasil penelitian. Selain itu pertanyaan yang telah terumuskan oleh peneliti belum tentu menggambarkan keseluruahan aspek dari objek yang diteliti. Selain itu, terdapat banyaknya kegagalan lain yang tidak dapat dikontrol oleh si peneliti. Contohnya, bisa saja para responden salah dalam memahami pertanyaan-pertanyaan akibat sulit pertanyaan peneliti untuk dipahami. Hal bisa saja dihindari bila adanya kontrol dari peneliti.[6]

Dr. Ulber Silalahi, M.A. menjelaskan dalam bukunya Metode Penelitian Sosial tentang langkah-langkah dalam pelaksanaan pengumpulan data dengan metode angket atau kuesioner[7], yaitu

  • Pernyataan masalah
  • Pilih subjek
  • Susun kuesioner: lebih atraktif dan singkat serta mudah dijawab
  • Validasi kuesioner
  • Siapkan surat pengantar
  • Uji coba kuesioner kepada sampel kecil dari subjek
  • Tindak lanjut kegiatan
  • Lakukan pengeditan kuesioner dan pengkodean terhadap tiap respons
  • Analisis data
  • Tulis satu laporan yang menyajikan temuan

Selanjutnya beliau menjelaskan, setidaknya ada 2 tipe metode kuesioner yang biasa digunakan, diantaranya[8]:

  • Pertanyaan dan Jawaban terbuka

Pertanyaan terbuka merupakan pertanyaan dengan kategori respon tidak dispesifikasikan. Pertanyaan terbuka menghendaki responden menjawab atau memberikan respon dalam cara yang mereka pilih. Dengan kata lain, kuesioner terbuka ditandai oleh sejumlah pertanyaan yang meminta responden menjawab pendek atau panjang. Responden menguraikan pendapat, persepsi, atau sikap mereka mengenai hal yang ditanyakan.

  • Pertanyaan dan Jawaban tertutup

Pertanyaan tertutup merupakan pertanyaan yang didalamnya responden memilih satu atau lebih dari kategori-kategori spesifik yang telah ditetapkan. Pertanyaan tertutup meminta responden membuat pilihan di antara satu set alternatif tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti. Sejumlah alternatif kategori respons yang pasti telah disusun secara lengkap dan terpisah sehingga responden hanya memilih salah satu atau lebih dari antara kategori respons tersebut. Misalkan setuju dan tidak setuju, atau ya dan tidak.

  1. Metode Interview

Interview atau wawancara adalah suatu metode pengumpulan data yang sering digunakan dalam metode penelitian survei yang digunakan untuk mendapatkan informasi tentang isu-isu yang menarik minat peneliti. Sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari kita beragam jenis wawancara, diantaranya: wawancara perkerjaan, wawancara media, wawancara kerja sosial dan wawancara polisi. Selain itu, dalam kegiatan penelitian metode ini sering digunakan, seperti dalam penelitian deskriptif, eksploratif, dan eksplanatif.[9]

Wawancara dapat dilakukan dengan individu tertentu untuk mengetahui akan hal lain. Individu dalam bentuk wawancara seperti ini biasa disebut informan. Selain itu wawancara bisa dilakukan terhadap individu tertentu untuk mendapatkan data tetang dirinya sendiri, seperti pendirian, pandangan, persepsi, sikap, atau perilaku. Individu dalam bentuk wawancara seperti ini biasa disebut responden. Dalam pelaksanaannya kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling dibutuhkan serta saling melengkapi.[10]

Secara historis teknik wawancara sudah digunakan pada zaman Mesir Kuno untuk keperluan sensus penduduk. Dalam ilmu pengetahuan modern Booth menggabungkan teknik wawancara tak terstruktur dengan survei dan observasi etnografi untuk meneliti kondisi sosial masyarakat London. Madzhab Chicago (1920-an) juga menggabungkan antara wawancara informal, observasi dan data personal. Dalam budaya populer wawancara justru menjadi komoditas seperti dilakukan terhadap wawancara para selebritis.[11]

Pada umumnya wawancara dibedakan menjadi 2 macam, yaitu: a) wawancara terstruktur, dan b) wawancara tak terstruktur. Wawancara terstruktur juga sering disebut sebagai wawancara baku, terarah dan terpimpin. Dimana dalam macam ini, susunan pertanyaan sudah tersusun sebelumnya. Sedangkan wawancara tak terstruktur biasa disebut sebagai wawancara mendalam, intensif dan terbuka. Data dalam wawancara terstruktur ditempatkan dalam konteks independen, lepas dari konteks, sedangkan dalam wawancara tak tersturkur data terkandung dalam dalam konteks sosial itu tersendiri. Artinya, informasi diperoleh dari kata-katanya sendiri yang merupakan sisi persepsi subjektifitas dari informan sendiri. Wawancara tersturktur lebih banyak menghasilkan jawaban rasional dibandingkan dengan emosianal. Wawancara terstruktur menyerupai daftar pertanyaan survei, oleh karena itulah wawancara dan survei jarang digunakan dalam penelitian kualitatif.[12]

Namun menurut Daymon dan Holloway, biasanya penggunaan survei dalam penelitian kualitatif didasarkan dua alasan, yaitu: A) untuk menghadirkan data sosiodemografis dan biografis, misalnya tentang usia, jenis perkerjaan, intensitas pengalaman, jumlah pembelian dan sebagainya. B) pada umumnya untuk memenuhi permintaan panitia penelitian dalam rangka mengetahui alur penelitian secara keseluruhan[13]

Baca Juga: Psikologi Agama Sejarah dan Definisi

  1. Metode Public Opinion Poll

Metode Public Opinion Poll merupakan gabuangan antara kuesioner dan wawancara. Cara mendapatkan data adalah melalui pengumpulan pendapat khalayak ramai. Data tersebut selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan klasifikasi yang sudah dibuat berdasarkan kepentingan penelitian. Teknik ini banyak digunakan oleh E.B. Taylor dalam penelitiannya.[14]

Menurut Eriyanto (1999), polling adalah suatu penelitian (survey) dengan menanyakan kepada masyarakat mengenai pendapat suatu isu atau masalah tertentu. Secara metodologis, polling adalah suatu teknik untuk menyelidiki apa yang dipikirkan orang terhadap isu atau masalah yang muncul. Jadi polling adalah metode untuk mengetahui pendapat umum (public opinion). Polling adalah cara sistematis, ilmiah, dan terpercaya mengumpulkan informasi dari sampel orang yang digunakan untuk menggeneralisasikan pada kelompok atau populasi yang lebih luas di mana sampel itu diambil. Setidaknya ada 4 tahapan polling, yaitu:[15]

  • Menentukan tujuan polling
  • Menetapkan populasi dan sampel
  • Menentukan tipe informasi dan menetapkan waktu
  • Metode pengumpulan dara polling
  1. Metode Skala

Teknik ini digunakan untuk memperoleh data tentang faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan khas dalam diri seseorang berdasarkan pengaruh tempat dan kelompok, misalnya dengan adanya penyebab yang khas ini peneliti dapat memahami latar bekang timbulnya perbedaan antar penganut suatu keyakinan agama. Misalnya sikap liberal lebih banyak dijumpai dikalangan penganut propestan, dan sikap konservatif lebih banyak dijumpai di kalangan penganut agama Katolik dan sebagainya.[16]

  1. Metode Tes

Yaitu melakukan percobaan kepada seseorang atau kelompok pada situasi yang telah diatur sedemikian rupa, sehingga dapat diketahui kejiwaan agama seseorang dalam keadaan tertentu.[17] Tes digunakan dalam upaya untuk mempelajari tingkah laku keagamaan seseorang dalam kondisi tertentu. Untuk memperoleh gambaran yang diinginkan, biasanya diperlukan bentuk tes yang sudah disusun secara sistematis.[18]  Misalnya melakukan tes kekuatan tidak mencuri walaupun dalam keadaan lapar serta ada peluang untuk melakukan itu. Begitu juga keluasaan dan kedalaman ilmu agama dapat diketahui dari ujian lisan maupun tulis. Juga lewat tes dapat dikatahui bagaimana sikap seseorang beragama sewaktu menghadapi orang lain.[19]

  1. Metode Eksperimental

Eksperimen adalah observasi dibawah kondisi buatan di mana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh si peneliti. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian seta adanya kontrol. Metode eksperimen sering sekali dilakukan dalam penelitian ilmu-ilmu alam. Walaupun demikian, penggunaan metode eksperimen di dalam ilmu-ilmu sosial, akhir ini makin banyak peminatnya.[20]

Tujuan dari penelian ini adalah untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab-akibat serta berapa besar hubungan sebab-akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimen dan menyediakan kontrol untuk perbandingan. Penelitian eksperimen dapat mengubah teori-teori yang telah usang. Percobaan-percobaan yang dilakukan untuk menguji hipotesis serta untuk menemukan hubungan-hubungan kausal yang baru.[21]

Menurut Moh. Nazir, Ph. D, setidaknya ada dua macam penelitian eksperimental, yaitu a) eksperimen sungguhan dan b) eksperimen semu. Metode eksperimen sungguhan adalah penelitian dengan desain percobaan yang dimana dapat dilakukan kontorl secara ketat dan validitas internal dan eksternal yang cukup utuh. Kemudian eksperimen semu adalah penelitian yang mendekati percobaan sungguhan di mana tidak mungkin mengadakan kontorl/ memanipulasikan semua variabel yang relevan. Harus ada dalam menentukan validitas internal dan eksternal sesuai dengan batasan-batasan yang ada.[22]

Referensi

  • Ramayulis “Psikologi Agama” Kalam Mulia, Jakarta: 2002.
  • Jalaluddin “Psikologi Agama” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1998.
  • Koentjaraningrat “Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Edisi Ketiga” Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1997.
  • Urber Silalahi “Metode Penelitian Sosial” Refika Aditama, Bandung, Cetakan ketiga: 2012.
  • Nyoman Kutha Ratna “Metodologi Penelitian, Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya” Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2018.
  • Moh Nazir, Ph.D “Metode Penelitian” Ghalia Indonesia, Bogor, Cetakan ke-8: 2013
  • http://repository.unimal.ac.id/2268/1/BEBERAPA%20METODE%20DALAM%20PENELITIAN%20KOMUNIKASI%20POLITIK.pdf Di download pada tanggal 5 Februari 18, Pukul: 21.11 WIB
  • Rusmin Tumanggor “Ilmu Jiwa, The Psychology of Relegion” Kencana, Jakarta, Cetakan ke-2: 2016.

[1] Ibid. Hal: 35

[2] Ramayulis “Psikologi Agama” Kalam Mulia, Jakarta: 2002. Hal: 19

[3] Ibid. Hal: 19

[4] Jalaluddin “Psikologi Agama” PT Raja Grafindo Persada, Jakarta: 1998. Hal: 36

[5] Koentjaraningrat “Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Edisi Ketiga” Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 1997. Hal: 173

[6] Ibid. Hal: 173-174

[7] Urber Silalahi “Metode Penelitian Sosial” Refika Aditama, Bandung, Cetakan ketiga: 2012, Hal: 296

[8] Ibid. Hal: 296-298

[9] Ibid. Hal: 312

[10] Ibid. Hal: 312

[11] Nyoman Kutha Ratna “Metodologi Penelitian, Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya” Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 2018. Hal:

[12] Ibid. Hal: 230

[13] Ibid. Hal: 230

[14] Jalaluddin “Psikologi Agama”…Hal: 40

[15] Kamarudiin Hasan “Beberapa Metode Penelitian Komunikasi Politik” http://repository.unimal.ac.id/2268/1/BEBERAPA%20METODE%20DALAM%20PENELITIAN%20KOMUNIKASI%20POLITIK. PDF Di download pada tanggal 5 Februari 18, Pukul: 21.11 WIB

[16] Jalaluddin “Psikologi Agama”…Hal: 40

[17] Rusmin Tumanggor “Ilmu Jiwa, The Psychology of Relegion” Kencana, Jakarta, Cetakan ke-2: 2016. Hal: 96

[18] Jalaluddin “Psikologi Agama”…Hal: 40

[19] Rusmin Tumanggor “Ilmu Jiwa, The Psychology of Relegion”…Hal: 96

[20] Moh Nazir, Ph.D “Metode Penelitian” Ghalia Indonesia, Bogor: 2013. Cetakan ke-8. Hal: 63

[21] Ibid. Hal: 64

[22] Ibid. Hal: 73

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *