Muslim ketika Menjadi Minoritas Selalu Tertindas, Benarkah Demikian?

Muslim ketika Menjadi Minoritas Selalu Tertindas, Benarkah Demikian?

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya

Isu intoleransi kembali menjangkiti NKRI. Negara kepulauan yang memiliki 300 lebih suku/etnik ini kembali diterpa isu mayoritas dan minoritas. Kaum muslim yang menjadi penduduk mayoritas seringkali melupakan hak-hak kelompok minoritas yang merupakan non-muslim. Banyak oknum kaum muslim Indonesia yang berdalih bahwa begitulah realitas yang perlu diterima ketika mereka menjadi minoritas. Mereka banyak mengambil contoh-contoh dari negara lain yang berpenduduk mayoritas non-muslim dan banyak melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) kepada kelompok muslim yang menjadi minoritas.


Anwarsyah Nur, salah seorang staf pengajar di IAIN Sumatera Utara misalnya, dalam artikelnya yang berjudul Perbandingan antara: Kelompok Minoritas Muslim di Negara-Negara Non Islam dengan kelompok Non-Muslim di Negara Mayoritas Islam” pada 15 Desember 2011 membenarkan statemen bahwa muslim selalu tertindas saat menjadi minoritas. Ia mengambil contoh ketika umat Islam diperlakukan berbeda di beberapa daerah seperti, India, Amerika Serikat, Inggris Raya, Perancis, Jerman, Rusia, suku Melayu Pattani di Thailand, suku Rohingya di Myanmar, bangsa Moro di Filipina Selatan dan suku Uighur dan Hui-Hui di China (Ahmed, 2001: 110-111). Akbar S Ahmed menyebut kelompok muslim yang hidup sebagai minoritas dan tinggal di tengah-tengah negara berpenduduk mayoritas non-muslim sebagai “Islam of the periphery” ‘Islam dari pinggiran’ (Ahmed, 2001: 107).

Artikel tersebut juga menegaskan bahwa ketika kelompok non-muslim berada di bawah negara berpenduduk mayoritas Islam mereka selalu terlindungi dan terpenuhi hak-haknya. Jikalau terjadi, dapat dipastikan bahwa hal tersebut bersifat kasuistik. Ia juga mengutip pendapat Akbar S. Ahmed dalam bukunya “Islam Today: A Short Introduction to the Muslim World” yang berbunyi “It is not difficult to see why Muslims who live as a minority in non-Muslim countries like India or Israel are seen by them as a problem. The reasons are relatively simple. Wherever Muslims live as minorities they increasingly face problems of discrimination” (Ahmed, 2001: 163-164). Akbar S Ahmed menambahkan pula bahwa sebagian besar negara yang berpenduduk mayoritas non-muslim mengaku sebagai negara yang plural, toleran, sekuler dan modern. Semua pandangan ini dianggap sangat bertentangan dengan image muslim yang mereka ketahui. Sehingga mau tidak mau, penduduk muslim sebagai minoritas harus ditekan dan diperkedil peran mereka di masyarakat (Ahmed, 2001: 164).


Akbar S. Ahmed mengambil contoh peristiwa kekejaman Yugoslavia dan Serbia kepada etnis Bosnia dan Kosovo, kekejaman Israel terhadap Arab-Palestina, berbagai intimidasi di negara-negara Eropa dan Amerika terhadap muslim dan suku-suku lain seperti telah disinggung di atas. Artikel Anwarsyah Nur tersebut juga menyinggung sejarah pembantaian yang dilakukan oleh tentara Perang Salib dan pengusiran besar-besaran umat muslim dari Andalusia dan Sisilia oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella (Supriyadi, 2016: 171). Peristiwa tersebut dijadikan salah satu saksi sejarah yang memperkuat pendapat bahwa muslim selalu mendapat intimidasi dan diskriminasi saat menjadi minoritas. Pernyataan senada juga muncul di laman resmi nahimunkar.org. Sebuah artikel yang dipublikasikan pada 21 Juni 2013 memunculkan daftar muslim minoritas di Asia yang teraniaya di negaranya sendiri. Daftar tersebut meliputi etnis Rohingya di Myanmar, etnis Xinjiang di Cina, etnis Pattani di Thailand, muslim Moro di Filipina dan muslim di Kamboja. Selain itu, pada artikel berjudul “Jika Non-Muslim Memimpin Dunia” pada tanggal 1 Oktober 2014 pada laman yang sama memaparkan bahwa kedudukan muslim mayoritas di suatu negara atau wilayah dapat terancam bila dipimpin oleh seorang non-muslim. Mereka mengambil contoh pemerintahan di Nigeria, konflik Syi’ah-Sunni di Irak pasca invasi Amerika, perampasan masjid di Bulgaria, pelarangan penyembelihan hewan qurban di Polandia, pelarangan pembangunan menara masjid di Swiss dan pelarangan pengenaan jilbab di sekolah di Rusia.

Berbagai pendapat di atas mengerucutkan satu kesimpulan: ketika muslim menjadi minoritas, kelompok mayoritas yang terdiri dari non-muslim akan berbuat intoleran. Pendapat tersebut merupakan kesimpulan yang terkesan merupakan generalisasi dari berbagai peristiwa di atas. Nyatanya, kekejaman dan penindasan yang banyak terjadi tidak murni dikarenakan perbedaan agama dan etnis, namun seringkali dimulai dari kepentingan politik oknum tertentu dan membumbuinya dengan berbagai isu SARA (suku, agama, ras dan antar golongan) yang tergolong ampuh dalam menarik simpati masyarakat tertentu (Yahya, 2017: 130). Kesimpulan tersebut dapat berdampak buruk bagi umat Islam sendiri. Sikap selalu “merasa” menjadi korban intimidasi dan diskriminasi tersebut menyebabkan banyak yang melegalkan berbagai aksi kekerasan “atas nama” pembelaan diri. Fenomena ini dikenal pula sebagai “victim playing” (Symington, 1993: 116) atau menurut Eric Berne “the Wooden Leg” dan “Look How Hard I’ve Tried” (Berne, 1973: 45;71). Sikap ini merupakan sikap “merasa” menjadi korban dari pihak lain, dalam konteks ini adalah non-muslim, baik dalam posisi minoritas terlebih ketika non-muslim menjadi mayoritas. Berbagai kebijakan yang “dirasa” memberatkan dan membuat mereka menjadi korban akan melegalkan berbagai bentuk protes hingga gelombang perlawanan dengan kekerasan. Fenomena inilah yang dikomentari Ade Armando dengan menyebutkan bahwa citra Islam yang terlanjur dikenal adalah “kalau minoritas beringas, kalau mayoritas menindas”.


Sejatinya, pembicaraan terkait mayoritas dan minoritas bukanlah hal sederhana. Keduanya tidak hanya terkait pada kuantitas, melainkan lebih kepada hegemoni. Ketika satu pihak menghegemoni pihak lain, maka pihak tersebut adalah mayoritas meski memiliki jumlah yang sedikit. Sebaliknya, pihak yang terhegemoni adalah minoritas. Untuk menjawab berbagai pendapat di atas, Yuangga Kurnia Yahya, salah satu staf pengajar di Prodi Studi Agama-Agama UNIDA Gontor melakukan sebuah penelitian. Penelitian yang dilakukan membahas tentang toleransi yang terbangun di desa Mamahak Teboq, Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, sebuah desa di pedalaman Kalimantan Timur. Wilayah ini menarik untuk diteliti mengingat hubungan agama Islam yang menjadi mayoritas dan non-muslim yang menjadi minoritas dalam hal kuantitas di Indonesia sudah jamak ditemukan. Dengan jumlah 87,18% dari 237.641.326 jiwa penduduk Indonesia, tidak sulit untuk menemukan pemeluk Islam di berbagai wilayah di Indonesia. Jumlah tersebut juga meniscayakan dominasi jumlah mereka di banyak tempat di Indonesia. Adapun desa ini berpenduduk mayoritas Dayak dan beragama Kristen Protestan dengan muslim menjadi
minoritasnya.

Dalam mengungkapkan penyebab terwujudnya toleransi atau intoleransi, penulis menggunakan pendekatan teori tentang tiga dimensi konflik dari Jayne Docherty (Ahnaf, 2016: 160) dan Lisa Schirch (Campbell, 2007: 5). Menurut keduanya, ketiga dimensi konflik tersebut adalah dimensi simbolik, dimensi relasional dan dimensi struktural. Ketiga dimensi tersebut memiliki hubungan yang erat dengan terciptanya konflik atau kerukunan di suatu wilayah. Dimensi simbolik berkaitan dengan nilai universal yang memungkinkan kelompok yang berbeda menemukan titik temu. Dimensi ini juga merupakan shared identity, baik yang telah ada dalam nilai masing-masing masyarakat (given) maupun nilai yang dibentuk oleh masyarakat yang ada
(constructed). Dimensi relasional berkaitan dengan hubungan sosial antar satu sama lain yang memungkinkan terjadinya interaksi antar agama dan antar etnis yang berbeda. Dalam istilah Ashutosh Varshney (Varshney , , 1997: 4), dimensi ini disebut civic engagement (pertunangan kemasyarakatan). Bentuk civic engagement ini dapat berupa formal seperti organisasi sosial, asosiasi perdagangan, koperasi dan klub olahraga dan minat bakat yang beranggotakan dari berbagai etnis dan kalangan, maupun informal seperti interaksi saling mengunjungi saat ada perayaan, perjumpaan di lingkungan sekitar, seperti pasar dan angkutan umum dan ruang-ruang publik lainnya.

Dimensi ini menuntut manusia kembali ke fitrah mereka sebagai makhluk sosial yang tidak mampu hidup seorang diri atau hanya berkutat pada kelompok mereka yang homogen, melainkan memerlukan bantuan pihak lain yang berbeda identitasnya. Terakhir adalah dimensi struktural yang berkaitan dengan institusi dan wadah sosial, baik ekonomi, politik maupun pendidikan. Dalam dimensi ini, prinsip keadilan dan kesetaraan menjadi kunci dari interaksi yang terjalin.Timbulnya perasaan terdholimi atau tidak adanya simbiosis mutualisme bagi seluruh anggota sering menjadi pemicu lahirnya konflik. Hasil penelitian ini diterbitkan oleh Jurnal PALITA: Journal of Social-Religion Research yang dikelola oleh LP2M IAIN Palopo Vol. 3 No. 2, Tahun 2018. Artikel yang berjudul “Toleransi Antar Agama dan Antar Etnis di Desa Mamahak Teboq, Kalimantan Timur” ini menemukan bahwa ruang perjumpaan di Mamahak Teboq juga tidak selalu bersifat formal, pengaruh terbesar justru muncul dari forum semi-formal dan informal antar masyarakat. Minimnya kesenjangan sosial yang muncul dari kedua belah pihak disinyalir menjadi perekat hubungan mereka. Menjadi penting adanya institusionalisasi nilai-nilai dengan aksi dan ritus, seperti perayaan adat bersama dan perayaan hari-hari besar keagamaan bersama dan tidak berhenti di ucapan dan keyakinan saja. Momen-momen inilah yang menjadi pengingat akan kerukunan yang telah tercipta dan berfungsi sebagai pupuk penyubur benih-benih toleransi yang telah tertanam sejak dahulu. Namun, keadaan toleransi dan intoleransi selalu dapat berubah seiring perkembangan zaman. Keadaan di Mamahak Teboq tetap memiliki potensi intoleransi. Karenanya, perlu ada upaya dalam menjaga kerukunan atau koesistensi yang telah terbangun.

Nb: Artikel lengkap dapat diunduh di
https://ejournal.iainpalopo.ac.id/index.php/palita/article/view/56

Daftar Pustaka
Ahmed, Akbar S. Discovering Islam: Making Sense of Muslim History and Society.

London: Routledge, 2001.

Ahnaf, M. Iqbal, dkk. Toleransi dan Intoleransi di Indonesia: Kajian Atas Kultur Toleransi
di Tengah Arus Perubahan Sosial di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur dalam
Studi Tentang Toleransi dan Radikalisme di Indonesia. Jakarta: INFID, 2016

Berne, Eric. Games People Play: The Psychology of Human Relationships. United
Kingdom: Penguin Books, Ltd, 1973

Campbell, Susanna. What Is Successful Peacebuilding? A Report prepared for Catholic
Relief Services 2007. Maryland: CRS, 2007

Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2016

Symington, Neville. Narcissism: A New Theory. London: Karnac Books. Ltd, 1993

Varshney, Ashutosh. Postmodernism, Civic Engagement and Ethnic Conflict: A Passage to India dalam jurnal Comparative Politics, Vol. 30, No.1, Oct. 1997.

New York: Political Science in City University of New York, 1997, 1 – 20.

Yahya, Yuangga Kurnia. Agama dan Masyarakat. Jakarta: Nulisbuku.com, 2017.

Sumber Internet
madinaonline.id artikel berjudul “Citra Islam: Kalau Minoritas Beringas, Kalau Mayoritas Menindas” oleh
Ade Armando pada 23 Juli 2016

Nahimunkar.com posted 21 Juni 2013 berjudul “Inilah Daftar Muslim Minoritas Asia yang Teraniaya di
Negaranya Sendiri”

Nahimunkar.com posted 1 Oktober 2014 berjudul “Jika Non-Muslim Memimpin Dunia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *