Pasang Surut Hubungan Islam-Kristen di Indonesia

Pasang Surut Hubungan Islam-Kristen di Indonesia

Oleh: Yuangga Kurnia Yahya

Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan tak
semuanya diwarnai dengan konflik. Dimulai dari abad kolonial pada sekitar abad 18 M hingga
saat ini. Islam sendiri tetap menjadi mayoritas di Indonesia dengan prosentase sekitar 86,18%
dari keseluruhan penduduk Indonesia dan Kristen menempati urutan kedua dengan penganut
Protestan 6,96 % dan Katolik 2,9%. Adapun konflik antar keduanya yang cukup memanas
dalam beberapa dekade terakhir seperti di Poso, Sulawesi Tengah, Ambon, dan Sampit
merupakan sebuah fenomena baru dan merupakan puncak dari rentetan “gesekan” antara
keduanya. Bom di depan Gereja Oikumene, Samarinda dan pembakaran Masjid di Tolikara
pada 2 tahun terakhir juga semakin memperkeruh suasana toleransi yang telah terbangun sejak
dahulu.


Dua pakar agama ahli Indonesia, Karel A Steenbrink dan Robert W Hefner memandang
konflik ini merupakan suatu yang tak lazim terjadi di Indonesia. Mereka sepakat bahwa
pluralitas agama di Indonesia sudah menjadi hal yang lumrah dan interaksi antar pemeluk
agama merupakan sebuah keniscayaan. Penduduk mayoritas di Indonesia yang beragama
Islam juga terkenal tidak kaku dan cenderung fleksibel terhadap penganut agama lain.
Karenanya, mereka berkesimpulan bahwa konflik Kristen-Islam yang terjadi lebih dikarenakan
manuver para tokoh elit politik dalam pemerintahan Indonesia sejak zaman kolonial hingga saat
ini dibandingkan unsur teologis kedua agama. Meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa
faktor teologis kedua agama yang juga memiliki sejarah kelam dimana Kristen menganggap
Islam sebagai “bid’ah Kristen” dan meletuskan Perang Salib selama hampir 2 abad.

Dimulai dengan masuknya Islam ke Indonesia pada 13 M dan mulai berkembangnya
kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia pada abad 17 M setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit
yang menjadi penanda runtuhnya kekuasaan Hindu-Budha di Nusantara. Pada abad itu pula,
bangsa kolonial Portugis yang disusul Belanda mulai datang ke Indonesia. Dalam prakteknya,
mereka hanya berfokus pada perkembangan ekonomi dan bersikap netral terhadap gerakan
kristenisasi pribumi. Situasi seperti ini bertahan hingga pertengahan abad 19 M. Selepas
pertengahan abad 19 M, mereka mulai mendukung Kristenisasi terhadap pribumi sebagai
counter terhadap perjuangan para pahlawan pribumi yang berasaskan gerakan Islam seperti
Perang Diponegoro (1825) dan Perang Padri (1823). Di samping itu, para kolonial juga percaya
bahwa kaum pribumi yang menganut agama Kristen akan lebih koperatif terhadap Belanda
dibanding kaum Islam.

Pada awal abad ke 20 M, para ulama modernis mulai bermunculan seiring munculnya
gerakan Islam reformis Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Mereka mulai
mendirikan organisasi berasaskan Islam sebagai counter dari gerakan Kr istenisasi. Keadaan
yang demikian melahirkan stigma negatif bahwa pribumi yang menganut Kristen adalah
pendukung setia Belanda karena meskipun Belanda tidak terang-terangan mendukung Kristen,
namun seluruh kebijakan Belanda selalu merugikan kaum Islam pribumi. Berbanding terbalik
dengan Jepang yang mengumpulkan simpati dari berbagai organisasi Islam dan memberikan
mereka berbagai perlakuan khusus, sehingga timbul kecemburuan dari pihak Kristen.

Pasca merdekanya Indonesia, situasi semakin meruncing dengan lahirnya dua kubu
besar dalam politik Indonesia, kubu pertama adalah kubu nasionalis-sekular yang
menginginkan Indonesia menjadi negara secular dan kubu lainnya adalah kubu Islam-
konservatif yang menginginkan Indonesia menjadi Negara Islam dengan merumuskan Piagam
Jakarta sebagai asas negara. Namun, Soekarno dalam sidang PPKI memutuskan bahwa asas
negara ini adalah Pancasila dan UUD 1945 yang ditegaskan kembali dengan Dekrit Presiden 5
Juli 1959. Hal tersebut diperparah dengan pembubaran Masyumi oleh Soekarno dan
keikutsertaan partai Kristen dalam pemilu 1955. Inilah yang membuat kubu Islam-konservatif
sakit hati dan kecewa dengan kepemimpinan Soekarno. Kerukunan dan kebebasan umat
beragama sendiri amat terjamin di era ini, bahkan jumlah penganut Kristen di Jawa saja
meningkat drastis karena legalnya gerakan Kristenisasi.

Potret Kerukunan Antar Umat Beragama di Indonesia

Pada paruh pertama era Soeharto, kubu Islam-konservatif mulai menaruh harapan pada
Presiden baru yang sedang giat-giatnya memberantas antek-antek komunis di bumi pertiwi.
Para warga yang terlibat PKI kebanyakan konversi ke Kristen karena paham komunis dilarang
di Indonesia dan mereka tidak mungkin konversi ke Islam yang amat memusuhi komunisme.
Tercatat pada masa tersebut di Jawa saja sekitar 2 juta orang konversi ke Kristen sehingga
mereka dituduh memancing di air keruh. Ternyata Presiden Soeharto malah mengumumkan
bahwa Masyumi juga termasuk partai yang dilarang sehingga kembali mematahkan hati kubu
Islam-konservatif dan perlakuan presiden yang lebih condong ke Kristen menimbulkan berbagai
preseden buruk Islam terhadap Kristen.

Namun, keadaan yang demikian berubah 180 derajat pada 1980an hingga 1998.
Presiden Soeharto mulai mencari dukungan dari pihak Islam dan mulai melunak dalam
berbagai kebijakan. Terbukti dengan dikeluarkannya kebijakan terkait pembangunan rumah
ibadah dan larangan menarik penganut agama resmi ke agama lain yang amat menguntungkan
Islam dan di lain sisi merugikan Kristen. Soeharto juga mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim
Indonesia (ICMI) pada Desember 1990. Pada masa ini, tingkat pembakaran rumah ibadah dan
premanisme antar penganut agama meningkat drastis dan mulai melahirkan ketakutan pihak
Kristen akan upaya Islamisasi.

Setelah jatuhnya rezim Soeharto pada 1998, banyak golongan Islam-konservatif
(Wahhabi dan Salafi Jihadis) yang giat mengadakan Islamisasi dan berujung pada konflik
keagamaan di Maluku dan Poso. Permasalahan antar etnis di Sampit juga semakin keruh
dengan isu perbedaan agama antar dua kubu yang bertikai. Sepanjang rentetan sejarah ini,
ketakutan akan Kristenisasi dan Islamisasi seolah menghantui kedua agama tersebut, sehingga
kedua agama lebih bersikap eksklusif dan menutup diri dari agama lain. Padahal, tujuan utama
pihak Kristen adalah mendapatkan hak-hak mereka sebagai minoritas dan dapat hidup dengan
damai di negara mereka sendiri, terlepas dari tuduhan antek penjajah dan antek komunis.
Karenanya sedari dulu tokoh-tokoh Kristen selalu membuktikan berbagai kontribusi mereka
dalam Perang Kemerdekaan dan menjaga keutuhan NKRI.

Semua sejarah kelam di atas harus segera dihapuskan demi menjaga keutuhan NKRI,
salah satunya dengan duduk bersama dan mengadakan dialog antar kedua penganut, mulai
dari tataran pemuka hingga tataran akar rumput demi tercapainya nota kesepahaman antar

keduanya. Negara juga diharapkan dapat menjaga netralitasnya dan menghindari intervensi
dalam proses dialog tersebut. Pemerintah lebih dibutuhkan untuk memberantas paham
ekstrimis dari kedua pihak yang merongrong kedaulatan dan keutuhan NKRI.

 

Bahan bacaan:

Arifianto, Alexander R. 2009. Explaining the Cause of Muslim-Christian conflicts in Indonesia:
Tracing the Origins of Kristenisasi and Islamisasi. Islam and Christian Muslim Relation
Journal, Vol. 20, No. 1, 73-89, January 2009

Saidi, Anas. 2004. Menekuk Agama, Membangun Tahta: Kebijakan Agama Orde Baru.
Jakarta Selatan: Desantara Utama.

One Reply to “Pasang Surut Hubungan Islam-Kristen di Indonesia”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *