Pentakosta, Karunia Glossolalia dan Penyembuhan Ilahi

pentakosta-studi-agama-agama-unida-gontor-3

‘Pentakosta adalah Salah Sebuah Gerakan Gereja yang mengedapankan Glossolalia (Bahasa Lidah) dan Penyembuhan Ilahi

oleh: Nur Afifah Ramadhanty/ SAA 6

Pentakosta, Anglikan, dan Gerakan ‘Reformasi Gereja’

Perbedaan paham yang terjadi pada Gereja Protestan menyebakan munculnya berbagai macam aliran di kalangan Gereja itu sendiri. Menariknya, banyak diantara Gereja yang khususnya berada di Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak suka disebut sebagai bagian dari Gereja Protestan, hal ini dibuktikan dengan banyaknya acara pada mimbar Kristen yang menegaskan bahwa mereka tidak termasuk Gereja Protestan dan lain sebagainya[1].

Secara Historis, Penginjil dari Eropa dan Amerika Serikat berhasil membentuk prakarsa dalam menebarkan aliran-aliran tersebut ke Indonesia. Dengan kata lain, mereka berhasil membuka celah dalam membentuk organisasi-organisasi Kekristenan beserta wadah alirannya ke Indonesia dengan sejumlah modifikasi mengikuti kekhasan kultural Indonesia itu sendiri tanpa menghilangkan pijakan teologis Kekristenan. Tercatat bahwa beberapa dari sekian banyaknya aliran tersebut adalah sebagian kecil dari nama-nama yang mereka gunakan misalnya: Adventis, Anglikan, Baptis, Bethel, Kharismatik, Lutheran, Methodis, Pentakosta, Presbyterian, Reformed dan lain sebagainya adalah contoh dari masifnya aliran-aliran Kekristenan darimana sumber aliran dan gereja yang dianut.[2]

 John Wesley ( 1703 – 1791), misalnya, seorang Bangsa Kristen berkulit hitam dengan gerakan kudus yang menginisiasi gerakan Anglikan. Aliran ini mempercayai adanya perbedaan yang signifikan antara orang yang kepercayaannya biasa-biasa saja dengan orang yang dikuduskan melalui ‘pengalaman kedua’; Sedangkan mereka juga meyakini bahwa kuasa Roh Kudus tidak hanya diperlukan guna menenangkan jiwa namun juga dalam mengatasi dan memperbaiki masalah sosial, politik, dan ekonomi.[3]

Sementara Pentakosta, melaksanakan reformasinya tidak sepenuhnya murni sebagai gerakan reformasi pada umumnya. Reformasi Pentakosta menarik dengan karena dilakukan sebagai ‘reformasi sayap kiri’ yang bersifat radikal, yang dalam pandangan aliran lain adalah sebuah kelanjutan dari kaum Injili atau Evangelikan yang terkenal dengan teologinya yang fundamentalis. Andreas Sudjono, menyebut gerakan ini sebagai “Injil sepenuh” karena ada upaya-upaya ‘pemurnian’ yang dilaksanakan dalam upaya Penginjilan yang dilakukan Pentakosta.[4]

Topeka dan Peristiwa Pentakosta

Salah sebuah teks doa Sekte Pantekosta

Usaha mengembalikan ajaran Kristen yang menganut Alkitab seperti halnya yang dilakukan oleh gereja pada awal mulanya, melahirkan suatu gerakan yang disebut dengan aliran Geraja Pentakosta. Pentakosta sendiri muncul pada tahun 1900/1901[5]. Gerakan pada aliran mengaku atas satu peristiwa yang luar biasa dengan Charles F. Parham yang berlangsung di Topeka, negara bagian Kansas, Amerika Serikat pada awal januari 1901. Peristiwa tersebut merupakan keyakinan mereka terhadap peristiwa pencurahan Roh Kudus yang dikenal dengan “Baptisan Roh”.

Peristiwa Pentakosta 1906 di Black Mission, Azusa Street, Los Angeles. William J. Seymour dilatarbelakangi oleh Kekudusan dan teologi Arminian; ditandai dengan adanya karunia ‘berbahasa lidah’ (glossolalia).[6] yang sebelumnya telah banyak dituturkan oleh sebagian golongan Kharismatik.[7] Dalam rangka menyebarkan ideologinya ini, Parham mendirikan sebuah sekolah di Kansas yang bernama Bethel Bible of Topeka pada tahun 1900. Parham mendirikan sekolah ini untuk menyelidiki Alkitab guna menemukan bukti dan tanda dari seseorang yang dibaptis oleh Roh Kudus.[8]

Lihat Juga: Sejarah Kristen di Indonesia

Alkisah, Agnes N. Ozman, salah satu murid Parham dapat berbicara ‘bahasa lidah’ selama tiga hari lamanya. Pada mulanya, Agnes meminta Parham meletakkan tangannya diatas kepalanya dan berdoa agar memperoleh baptisan Roh disertai dengan bukti berbahasa lidah. Tiba-tiba ‘mukjizat’ pun terjadi. Hal ini dikarenakan tiba-tiba pada saat setelah itu, Agnes dapat berbahasa Tionghoa yang belum pernah ia pelajari sebelumnya[9]. Bahasa itu digunakan dalam pembacaan doa petang dan menyebabkan murid-murid Parham yang lain berbicara dalam bahasa-bahasa lain dan mengakui bahwa mereka telah mengalami baptisan Roh Kudus.

            Doktrin bahwa bahasa lidah ‘Glossolalia’ merupakan bukti pertama dari baptisan Roh Kudus. Dari sinilah bermula Parman menggunakan peristiwa tersebut sebagai inti dari khotbah dalam berbagai ibadah. William J. Seymour, mantan murid Parham yang lain kemudian mengembangkan sekte ini dengan lebih pesat. William J. Seymour berkhotbah tentang baptisan Roh Kudus, hingga banyak anggota jemaat yang berkata-kata dalam bahasa lidah, yang dikenal sebagai peristiwa awal kebangunan rohani, Azusa Street[10].

Pertentangan Bahasa Lidah sebagai ‘Berkat’ kedua

Anehnya, Gerakan pentakosta yang diteruskan oleh Seymour sebetulnya tidak segera menerima bahasa lidah sebagai berkat kedua. Akibat dari pertentangan itu, Seymour terusir dari kelompok dan beribadah seorang diri di sebuah gedung tua di Azusa. Dalam kesendiriannya itulah, ia memunculkan gerakan yang kemudian mendunia yang sebelumya pernah membangun rohani di Amerika Utara. Hasil dari gerakan tersebut adalah penyembuhan bagi orang-orang yang sakit, pengusiran setan dan roh jahat (exorcism), serta orang-orang yang mengalami pertobatan dan keselamatan yang dipulihkan melalui baptis dalam Roh Kudus[11].

Sempat diyakini bahwa Seymor yang menyendiri menegaskan bahwa semua orang yang tidak berbahasa asing berarti dia belum dibaptis oleh Roh Kudus. Setelah Seymour berkhotbah tiga hari berturut-turut, ia mengatakan  bahwa “Roh Kudus turun” terdengarlah bahasa lidah asing[12], tercatat selama tiga hari tiga malam itulah mereka berseru dengan memuji Tuhan.

“Bahasa Lidah”, hubungan antara Pentakosta dan Kharismatik dalam penyembuhan Ilahi di Indonesia

Lambang Gereja Pantekosta di Indonesia

Bahasa lidah juga merupakan bahasa yang kerap kali digunakan oleh golongan Kharismatik dan Pentakosta. Pada awalnya gerakan, Kharismatik mulai masuk ke NKRI pada paruh kedua tahun 1960-an yang tersebar melalui para penginjil Amerika Serikat dan Eropa. Kharismatik mulai berkembang di NKRI pada tahun 1965. Meskipun, sekte ini mengalami kesulitan untuk berkembang di sejumlah kota besar sebabkan pengontrolan politik serta pihak militer, sekaligus diikuti dengan ketegangan antar penganut agama yang berbeda khususnya Islam dan Kristen.[13]

Berdasarkan kasus tersebut, para penginjil dari kalangan Kharismatik mencoba untuk mempengaruhi orang yang mengalami kebingungan dan kekosongan rohani; seperti para pencari kepastian hidup dan lain sebagainya. Gerakan Kharismatik yang tampil sebagai kelompok doa mengisi kekosongan tersebut dengan mempromosikan kekristenan dalam bentuk pidato Geraja yang berapi-api; penyebaran tentang moral yang serius, persaudaraan yang hangat, dan berbagai ‘karunia’ yang nyata. Persekutuan Gereja Kharismatik ini menonjolkan penegasan Alkitab dengan mendalaminya namun terlepas dari kebenaran penafsiran; dengan cara mereka yang khas sehingga menyebarkan perkataan Kristen yang unik, nyanyi-nyanyian yang menggugah, berdoa atas kesalehan formal, serta beberapa praktek yang disebut dengan ‘Karunia-Karunia Roh’, khususnya  berbahasa lidah sebagai karunia penyembuhan ilahi.

Lihat Juga: Perkembangan Agama Yahudi di Indonesia

Cara beribadah mereka cukup dengan mengungkapkan luapan emosi mereka dengan tepuk tangan, berteriak, menari, dan lain sebagainya. Dengan kata lain, ibadah Gereja ala mereka dikemas sebagai sebuah paket hiburan. Dalam perjalanannya, Gerakan Pentakosta yang merupakan arus Kharismatik gelombang kedua tidak bisa melepaskan diri dari ‘Bahasa lidah’ yang juga merupakan sebuah kecirikhasan dari Aliran Gereja ini.

Perkembangan gerakan Pentakosta dalam Glossolaliamerupakan faktor yang sering diidentifikasi secara khas dalam membedakan dengan gerakan Kristen lainnya yang telah menjadi subjek ilmiah beserta prakteknya. Pentakosta dianggap memilki teologi yang berbeda dengan gerakan-gerakan sebelumnya karena ritualnya merupakan pengalaman adikodrati[14] termasuk Glossolalia yang berbicara dalam bahasa roh , penyembuhan, pembebasan setan, mukjizat, dan berbagai nubuat. ( Nur Afifah Ramadhanty )

Catatan Kaki


[1] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam dan Sekitar Gereja, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2016), hlm. 2-3.

[2] Ibid, hlm. 3

[3] Andreas Sudjono, Th.M, “Pentakostalisme” dalam Disertasinya di Sekolah Tinggi Baptis Indonesia, Semarang, hlm. 1.

[4] Andreas Sudjono, Th.M, “Pentakostalisme” ……hlm. 1.

[5] Jefri Hina Remi Katu, “Hermeneutika Teologi Pentakosta” dalam Jurnal Teologi Amreta, Vol. 1, No. 2, April 2018, hlm. 10.

[6] Bahasa lidah atau bahasa roh, suatu pengucapan yang jarang dalam bentuk tulisan dan tidak dapat dipahami secara langsung, bagian dari bahasa agamawi diungkapkan sebagai penyembahan religius.

[7] Gani Wiyono, Gereja Sidang-Sidang Jemaat Allah dalam Lintasan Sejarah 1936-2016 (Malang: Gandum Mas, 2016), hlm. 3.

[8] Daniel Sutoyo, “Analisis Historis terhadap Teologi Gerakan Pentakostalisme” dalam Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani, Vol. 2, No. 2, April 2018. Hlm. 170.

[9] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam …………..hlm. 216.

[10] Daniel Sutoyo, “Analisis Historis terhadap Teologi Gerakan Pentakostalisme”………… Hlm. 171.

[11] Sonny El Zaluchu, “Senjakala Teologi Pentakosta” dalam Jurnal Teologi, Oktober 2018. Hlm. 96-97.

[12] Andreas Sudjono, Th.M, “Pentakostalisme”……….. hlm. 2.

[13] Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran di Dalam …………..234.

[14] Daniel Sutoyo, “Analisis Historis terhadap Teologi Gerakan Pentakostalisme”………… hlm. 168.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *