Praktek Toleransi Keagamaan di Puja Mandala Bali

puja-mandala-hinduisme-spl-studi-pengayaan-lapangan-ushuluddin-saa-kandangan-2

Kandangan- Senin(8/2), berlanjut sesi kedua dalam rangkaian acara Studi Pengayaan Lapangan (SPL) virtual Mahasiswi Semester 6 Program Studi Agama-agama (SAA) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor kampus Kandangan. Sesi Kedua ini menghadirkan Drs. I Wayan Solo, M.Si selaku ketua Paguyuban Antar Umat Beragama (PAUB) di Puja Mandala Nusa Dua Bali, yang menyampaikan tentang “Praktek Toleransi Keagamaan di Puja Mandala Bali”.

“Bukan hanya melihat konsep bangunan Puja Mandala yang terdiri dari 5 tempat ibadah, namun diharapkan mahasiswi juga dapat mengambil nilai dan penjelasan dari kelima tempat ibadah yang saling berdekatan di kompleks tersebut”, begitu sambutan yang disampaikan oleh Al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, S.Fil., M.A. selaku pembimbing Studi Pengayaan Lapangan.

Terkait Puja Mandala Baca Juga Narasi Perdamaian dan Toleransi

Bapak Drs. I Wayan Solo, M. Si, banyak menjelaskan tentang Komplek bangunan ini mulai dari sejarah berdirinya hingga praktik kerukunan dan toleransi yang sudah lama berlaku di sana. “Adanya Puja Mandala sebagai satu area atau lokasi yang difokuskan untuk pemujaan kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan  tempat-tempat ibadah dari 5 agama yang ada di Indonesia, antara lain: Masjid Agung Ibnu Battutah sebagai tempat ibadah umat Muslim terletak di pojok barat kawasan ini, berdiri di sebelah timur masjid, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa, di sebelah timurnya lagi terdapat Vihara Buddha Guna, setelahnya berdiri Gereja Protestan Bukit Do’a, dan di paling timur kawasan ini terdapat Pura Jagatnatha”. Papar Drs. I Wayan Solo, M.Si.

Dalam penjelasannya juga, Drs. I Wayan Solo, M.Si. menjelaskan bagaimana toleransi di Puja Mandala Nusa Dua Bali dapt terjalin begitu harmonis, aman dan tentram. Dengan rumusan, “disini kita berada, disini kita menyesuaikan diri, disini kita bersama, tidak mengeneralisasi tapi menyamaratakan dan membangun rasa”. Seperti konsep toleransi dalam agama Hindu yang beliau anut untuk ber-Tat Wam Asi yang maknanya ‘aku adalah kamu dan kamu adalah aku’. “Jika aku ingin dihargai kamu, maka aku harus menghargai kamu.” Demikian beliau menyampaikan.

Lihat Juga: Toleransi sebagai Barometer Kerukunan Umat Beragama di Indonesia

Sebagai penutup Al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana, S.Fil., M.A. menyimpulkan beberapa point penting yang dapat diambil dari penjelasan bapak I Wayan Solo yakni fenomena yang ada di Puja Mandala ini sulit untuk didapatkan di tempat lain yang tidak hanya terjaga namun juga berkonsisten untuk tetap memiliki rasa saling menghormati dan saling menyayangi sesama manusia.

Komplek Puja Mandala Nusa Dua Bali bukan sekedar kawasan dengan 5 tempat ibadah saja, tetapi makna yang dimunculkan oleh masyarakat-masyarakat yang ada di dalamnya hingga toleransi dan komunitas yang selama ini telah dapat menghiasi Puja Mandala dengan keharmonisan bukan kekerasan. (Reporter: Nur Afifah Maharani Al Fatihah/ Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)