Ta’ayusy sebagai konsep Kerukunan dalam Worldview Islam: Sebuah Review

fadhillah-review-ta'ayusy-toleransi-worldview-islam

Ta’ayusy sebagai konsep Kerukunan dalam Worldview Islam: Sebuah Review

oleh: Akhmad Fadhillah Juliansyah, S.Ag (Wisudawan Prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir)

Artikel ini adalah sebuah catatan/ ringkasan atas artikel al-Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana yang diterbitkan di ISLAMIA Republika Edisi Kamis, 21 Maret 2019. Sebelum mengkaji lebih dalam tentang konsep islam dalam memandang kerukunan ummat, Al Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana mengajak kita untuk mengetahui bahwa kerukunan sering digunakan bergantian dengan kata toleransi . Dalam bahasa inggris tolerance berarti bertahan akan perbedaan atau kasih sayang. Sementara dalam tradisi bahasa arab, toleransi diartikan sebagai tasaamuh yang memiliki sinonim tasaahul . Samaahah berarti kebaikan dan kemuliaan. Beranjak dari sini konsep tasamuh kemudian diedarkan dan dipahami sebagai cinta kasih, keterbukaan dan keberlapangan dalam kehidupan antar agama.  Tercatat beberapa diskusi telah dilakukan dengan topik tasaamuh seperti yang dilakukan universitas damaskus dengan tema Mu’tamar al-Ta saamuh al-Diiny, fii al-Syarii’ah al-Is–laamiyyah, juga dalam beberapa kajian di indonesia dalam bentuk literasi yang kemudian dipublikasikan. Ta’ayusy memiliki kaitan erat dengan iisyah yang bermakna hidup, ini memberikan pandangan bahwa konsep Ta’ayusy memiliki konsep kehidupan yang tidak dimiliki oleh  konsep tasamuh . Istilah iisyah juga memiliki kaitan yang erta dengan kata ma`aasy yang berarti makanan dan minuman yang menyusun kehidupan. Kajian konsep Ta’ayusy harus diawali dari analisa ayat ayat al qur`an sebagai worldview. Juga Al Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana mengajak kita menyelami hakikat kedudukan worldview sebelum mengkaji konsep taasyusy lebih dalam.

            Konsep Ta’ayusy nampaknya masih belum dilirik untuk diperdalam kajiaanya, hal ini diantaranya karena beberapa sebab. Pertama, minimnya riset terkait dengan pengembangan konsep tersebut hanya sebatas analisis analisi deskriptif . Kedua, konsep taasyusy lebih sering dibandingkan dengan perdamaian (silmy) dibandingkan dengan konsep tasaamuh yang disandingkan dengan konsep agama (diiniy) hal ini tercermin dari riset riset seputar Ta’ayusy seperti dari eropa pada tahun 2016 oleh Mi`raj Ahmad  al-Tasaamuh al-Diiniy wa al-Ta’aayusy al-Silmiy fii Dhaw’i al-Qur’aan wa al-Sunnah yang menganalisa asaamuh dan ta’aayusy berdampingan sebagai ajaran yang hadir dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, kajian tentang konsep Ta’ayusy yang berdasar pada al–qur’an dan as-sunnah perlu untuk memperluas khazanah konsep ta’ayusy yang sebelumnya hanya berupa analisis deskriptif.

Terkait Ta’ayusy Lihat Juga: Toleransi sebagai Barometer Kerukunan di Indonesia

            Mengenai pembahasan yang mendetail mengenai konsep Ta’ayusy dalam al-Qu’an, Al Ustadz Abdullah Muslich Rizal Maulana lebih menitik beratkan kajiannya pada kajian semantik dengan membatasi ranah pembahasan seputar derivasi kata Ta’ayusy di dalam al-Qur`an dan kata-kata yang menyertai atau mendahuluinya. Term iisyah dalam al-Quran tercatat disebutkan dalam beberapa surat diantaranya surat al haqqah dan al qaari`ah menariknya kata ini selalu diikuti dengan kata raadhiyyah yang dapat ditarik garis besar dalam pemaknaanya berupa kehidupan yang diridhai, tiada lain kecuali syurga itu sendiri. Imam Al Qurthuby dalam tafsirnya Al-Jamii li Ahkaami al-Qur`an mengungkapkan bahwa kehidupan yang dimaksud bukan saja kehidupan yang diridhai di dunia semata akan tetapi juga di akhirat berupa syurga yang abadi. Iisyah juga dimaknai sebagai bentuk ataupun istilah untuk menggambarkan keseluruhan nikmat yang terdapat dalam syurga.

            Sementara itu, term ridha memiliki arti kelembutan dan ketaatan, juga bahwa nikmat syurgawi tidak dapat dicapai terkecuali dengan kelemah lembutan hati dan aturan – aturan yang telah diberikan oleh Allah SWT. Dalam hal ini para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur`an al-Azhim, Fakhruddin al- Razi dalam tafsir Mafatih al-Ghaib, imam al-Baidhawiy, juga tak luput imam al-Biqaa’iy, penulis Nuzhum Ad-Dhurar fi Tanasub Al-Ayaati wa As-Suwar. Kata iisyah memiliki keterkaitan dengan katta ma’aasy, dan ma’iisyah. Ma`assy dalam surat an- Naba menjelaskan waktu untuk mencari penghidupan berupa nafkah. Ma’iisyah memiliki pengertian sebagai sumber makanan dalam surat Thaha, Qashas, al- Zukhruf.

Baca Juga: Ilmu dan Toleransi

            Dalam konstruksi konsep Ta’aayusy dalam Worldview Islam dibutuhkan beberapa landasan landasan. Pertama, harus dilandaskan pada kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT . kehidupan yang berorientasi pada kehidupan ukhrawi yang abadi dan bukan kehidupan yang berorientasi pada kehidupan dunia yang fana. Hak untuk tinggal di syurga hanya untuk orang orang yang beribadah dan beramal shaleh begitulah Imam al-Qurthuby dalam tafsirnya yang bersepakat dengan imam Thabariy. Kedua, konsep Ta’ayusy harus memberikan jaminan hak hak manusiawi secara adil, tidak boloeh mengganggu kelangsungan hak hak orang lain, bahkan  terhadap orang kafir sekalipun tidak diperkenankan bagi seorang muslim mengganggu pendidikan, mata pencaharian maupun kegiatan peribadatannya. esensi dari keadilan dalam membangun konstruksi konsep Ta’ayusy dan menjaganya tetap berdiri tegak diantara umat umat beragama.

Lihat Juga: Pengantar Worldview Islam

            Dengan membaca tulisan ini, dapat disimpulkan bahwa ta’aayusy adalah konsep yang berasal dari Worldview Islam guna menjadi panduan solutif konseptual atas problematika kerukunan ummat beragama. Konsep Ta’ayusy menyatukan dasar dasar teologis dan sosiologis sekaligus mengakui dan menghargai hak hak yang menjadi fitrah manusia yang harus dihormati. Hakikat konsep Ta’ayusy adalah mencapai kehidupan yang abadi yaitu iisyah radhiyyah sebagai syurga Allah SWT dan satu satunya jalan mewujudkan konsep tersebut adalah dengan beriman kepada Allah SWT dan mengerjakan amalan amalan shalih.           

Kedudukan konsep Ta’ayusy menjadi lebih tinggi esensinya karena berorientasi tentang kehidupan yang kekal tidak hanya yang fana saja. Dengan landasan teologis yang kuat tanpa melupakan nilai nilai sosial yang luhur dalam implementasi konsep Ta’ayusy. Sehingga konsep yang dirumuskan di bawah naungan Worldview yang kokoh akan menjadi pondasi dalam kehidupan berosialisasi. Tanpa dihantui rasa takut terjebak dalam perbuatan yang diharamkan Islam berkat kekuatan landasan berupa worldview, juga tanpa dihantui rasa takiut disebut anti-social karena keenganan berinteraksi dengan lingkungan dengan alibi perbedaan keyakinan. Maka rumusan konsep Ta’ayusy menjadi oase ditengah gersangnya keyakinan meraih ridho-Nya di tengah kehidupan yang semakin heterogen dengan dinamika yang juga semakin meningkat. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana, MA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *