Sains Islam: Urgensi dan Praktik

sains-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

Sains Islam: Urgensi dan Praktik

oleh: Anugerah suciati,S.Farm / Sarjanawan Prodi Farmasi UNIDA Gontor

Sains tidak dapat eksis atau berdiri sendiri. Mari kita analogikan seperti gula dan rasa manis. Gula adalah substansi dan rasa manis adalah aksidensi. Ilmu selalu ada bersama ilmuwan. Jika tidak ada ilmuwan, maka tidak ada ilmu. Ilmu merupakan aksidensi yang tidak bisa berdiri sendiri tanpa substansinya yaitu ilmuwan.

Ada sejumlah penyataan terkait yang menihilkan eksistensi Sains Islam. Pertama, sains tidaklah netral. Kedua, sains telah disekularisasi. Oleh karena itu, sains tidak hanya berguna, tetapi juga merusak. Ketiga, sains telah banyak disalahgunakan.

Syed Muhammad Naquib al-Attas menyatakan bahwa masalah utama umat Islam terdapat pada ilmu pengetahuan. Tidaklah berarti Umat Islam bukannya tidak cerdas, melainkan ilmu pengetahuan yang didapatkan berasal dari barat dan memiliki konstruksi pandangan hidup Barat. Implikasinya, produk dan material yang didapatkan umat Islam sekarang pun banyak berasal dari Barat. Bukan tidak mungkin terdapat interest atau kepentingan Barat yang terbawa dalam produk dan pemikiran tersebut. Ilmu pengetahuan yang seyogyanya berasal dari Tuhan, tetapi ilmu pengetahuan manusia yang dihasilkan oleh manusia tidaklah netral dengan sendirinya. Ilmu tidaklah netral karena ia memiliki bangunan asumsi, paradigma, dan kerangka teorinya sendiri

Bagi seorang Feminis, sains modern itu gender-biased, prejudice, tidak adil. Kritik tersebut berangkat kepada mekanisme reproduksi yang terdapat dalam ilmu biologi. Sperma bergerak ke sel telur dianggap sebagai wujud bahwa pria menjadi subjek yang aktif sementara wanita menjadi subjek yang pasif.

Contoh dikotomi yang serupa juga terjadi pada Ilmu Farmasi. Dikotomi terjadi lebih kepada persatuan rumpun ilmu, apakah farmasi termasuk ke dalam Ilmu Pengetahuan Alam atau Ilmu Kesehatan. Lebih berat lagi pada prakteknya, farmasi kerap dihadapkan pada posisi yang tidak Islami. Hal ini dikarenakan Farmasi dikesankan hanya sebagai alat praktisi medis saja tanpa memiliki asumsi dasar akan nilai yang melatarbelakanginya.

Sains Islam dan Masalah Dikotomi Ilmu

Nampaknya kita perlu mengembalikan ilmu pada fitrahnya. Ikhtiyar ini bisa dibangun berawal dari refleksi atas surat Al-Baqarah ayat 26, yang menerangkan bahwa Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Orang-orang yang beriman percaya akan kebenaran yang berasal dari Allah, sedangkan orang-orang kafir cenderung mengingkari dan mempertanyakan untuk apa Allah menciptakan semua permisalan ini?

Jika kita beralih ke ilmu Islam dan ilmu Barat. Pondasi metafisika atau worldview merupakan identifikasi mendasar antara Ilmu Islam dan Ilmu Barat. Aspeknya sendiri ada di Maqashid Syariah. Sebagaimana bangunan, sains tidak akan bisa berdiri tanpa jika tidak ada pondasi. Pondasi mungkin tidak terlihat secara kasat mata, tetapi itulah yang membuat bangunan menjadi kuat. Pondasi ini berasal dari penelitian dengan prespektif keislaman yang tidak hanya mengetahui kebenaran keberadaan Tuhan, tetapi juga mengikuti aturan-aturan yang telah ditetapkan-Nya. Hal inilah yang tidak kita dapati dalam budaya keilmuan Barat.

Di Gontor kita telah diperkenalkan sejak awal bahwa pendidikan yang diterapkan terdiri dari 100% ilmu umum dan 100% ilmu agama. Implementasinya, dalam hal ini dapat kita sebut sebagai ilmu umum adalah bahwa kualifikasi bahwa lulusan UNIDA Gontor sama dengan universitas unggul lain.Harapannya, UNIDA Gontor dapat menghasilkan lulusan ulama yang intelek, dengan sinergi bersama 100% ilmu agama adalah bahwa lulusan UNIDA Gontor memiliki worldview Islam sebagai fondasi pada sains yang dilakukan.

Sains Islam dan Fakta Historis

Theodor W. Adorno mengatakan bahwa selama ribuan tahun, ilmuwan mencoba memahami alam untuk memanipulasi alam itu sendiri. Dari usaha untuk mendapatkan hikmah menjadi usaha untuk mendapatkan kekuatan. Sekarang ditambah dengan usaha mendapatkan keuntungan. Banyak terjadi kejahatan legal, kejahatan diperbolehkan namun justru memberikan hasil yang merugikan bagi alam.

Menurut pemahaman instrumentalis, sains adalah alat, yang bergantung pada bagaimana dan siapa yang menggunakannya. Selain eksploitasi alam, penyalahgunaan ilmu pengetahuan juga dapat berdampak pada krisis demografi dan kemanusiaan. Nyatanya memang teknologi yang merupakan produk sains manusia telah banyak mengikis alam. Maka dari itu para ilmuwan sekarang mengembangkan proyek baru, yaitu sustainability science. Usaha untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak merusak. Usaha untuk mewariskan bumi yang lebih baik pada generasi selanjutnya. Memanglah benar bahwa kita sepatutnya belajar untuk mengetahui apa-apa yang bermanfaat bagi manusia dan apa-apa yang membahayakannya. Wacana semacam suistanibility science atau green science tak jauh berbeda dengan upaya islamisasi ilmu, hanya berbeda dalam penggunaan istilah.

Ilmuwan dan Filsuf asal Turki, Prof. Alparslan Acikgence mengemukakan definisi sains Islam. Sains Islam disusun secara sistematik dengan mengacu pada prinsip Islam yang mepertemukan aspek metafisik (aqidah), epistemologi, dan hukum (maqashid syari’ah). Ketiga aspek tersebut kemudian akan memancarkan Islamic Worlview dengan AL-Qur’an dan Sunnah sebagai basic scientific.

Lihat Juga: Religiusitas Sains berdasarkan Tauhid

Prof. George Saliba dan Colombia University menyatakan bahwa Sains Islam yang dulu pernah ada, saat ini hilang bak barang purbakala yang berasal dari masa lampau. Barang ini hanya ada dahulu, di masa keemasan Islam. Sains Islam harusnya tidak hanya diartikan secara kronologis, namun juga linguistik.

Dr. Adi Setia dalam bukunya yang berjudul “Islamic Perspective on Science and Technology” menyatakan bahwa Sains Islam adalah program jangka panjang yang memerlukan gagasan-gagasan cemerlang berdasarkan upaya yang telah dilaksanakan oleh Ulama dan Ilmuwan Muslim zaman dahulu.

Pendekatan dan Model Sains dan Agama dalam Islam

Berbagai pendekatan pun dilakukan untuk mencapai Islamisasi Ilmu demi mewujudkan Sains Islam. Apologetik, Psikopikal, Historikal, Praktika, dan Edukasional. Semua pendekatan tersebut bukan hierarki, melinkan opsi. Apologetik merupakan pendekatan ayatisasi, rasionalisasi, dan saintifikasi agama. Dengan pendekatan ini, terkadang muncul pertentangan antara kebenaran agama dan kebenaran ilmiah. Apologetik dianggap naif. Pendekatan filosofis merupakan rekonstruksi landasan epistemologis. Pendekatan historis merupakan studi sejarah keilmuan, karya ilmiah, dan pengungkapan fakta kontribusi sainstis Muslim dalam keilmuan yang dianut di seluruh dunia. Pendekatan praktis merupakan rekayasa produk teknologi berbasis sains untuk memenuhi kebutuhan umat Islam. Islamic science berasal dari dan untuk umat Islam. Output yang diharapkan adalah terciptanya produk Islami, yang halal dan thayyib. Pendekatan edukatif adalah revisi kurikulum dan penulisan ulang buku atau referensi. Namun banyak orang yang tidak memiliki cukup waktu untuk menyusunnya.

Baca Juga: Tauhid dan Ilmu Relasi dan Implikasi

Berbagai model hubungan sains dan agama juga mulai diperkenalkan. Pertama, sains dan agama adalah netral dan universal. Model ini dikenalkan oleh kaum separatis. Mereka berpendapat bahwa agama dan sains keduanya tetap ada, namun baikknya tidak berdekatan karena rentan muncul gesekan. Kedua, sains adalah tidak kompatibel dengan dan berlawanan dengan agama. Pendapat ini disampaikan oleh kaum sekular. Ketiga, sains adalah berdasarkan bahkan merupakan bagian dari agama. Model ini disampaikan oleh kaum integrasi.

Ada juga yang membagi model hubungan sains dan agama menjadi konflik dan dialog. Model konflik beranggapan bahwa agama dan sains memiliki metode yang berbeda sehingga sering terjadi perang. Model dialog beranggapan bahwa agama dan sains dapat sama-sama eksis dan berbagi dalam beberapa pendapat yang berbeda. Bahkan Albert Einstein pun memberikan pernyataan: Science without religion is lame, religion without sains is blind.

Islamisasi secara istilah tidak ada preseden historikalnya, tetapi secara praktek sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Di negara Islam sendiri, dualisme masih langgeng karena sistem yang dipakai adalah sistem Western. Mayoritas tidak menerima Islamic Worldview karena tidak memahami Islam secara keseluruhan. Dahulu istilah Islamisasi tidak digunakan, yang kerap digunakan adalah Istilah dewesternisasi. Untuk mewujudkan Islamisasi dalam kasus ini, terdapat dua fase yang perlu ditempuh. Fase pertama adalah isolasi atau tahap pemisahan dan fase kedua adalah infasi atau tahap pemasukkan unsur-unsur Islam. Tentu unsur paling penting yang perlu dimasukkan adalah unsur intelektual karena perang yang dihadapi umat Islam saat ini adalah perang intelektual atau ghazwul fikr. Ilmu seyogyanya tidak hanya sekedar ilmu, namun juga guna membangun Iman kepada-Nya Yang Maha Tahu. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *