Sejarah Kata Hinduisme

sejarah-kata-hinduisme-saa-unida-gontor-ushuluddin

Sejarah Kata Hinduisme

Oleh: Abdullah Muslich Rizal Maulana, S.Fil.I., M.A/ Dosen Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor

                Kata Hinduisme (Hinduism), hari ini dimengerti sebagai terma umum digunakan untuk menyebut agama di India secara umum dari mulai masa lampau hingga sekarang. Vergilius Ferm, sebagaimana contoh, menuliskan bahwa, “… A broad term used by modern historians of religions to designate the traditional religion of India, past and present.” [1]. Menariknya, Sejarah kata Hinduisme atau ‘Hindu’ itu sendiri awalnya tidaklah terkait dengan konsep agama namun lebih merujuk kepada makna geografis.

                Secara etimologis, kata ‘Hindu’ berasal dari Bahasa Persia Hind, atau Bahasa Arab al-Hind  (الهند) yang merupakan daerah peradaban Lembah Sungai Indhus/ Indus (Indus Valley Civilization). Sebagai sebuah Peradaban, regional  ini telah bertahan selama lebih kurang semenjak tahun 3300 hingga 1900 Sebelum Masehi. [2] Oleh karena itulah, Lembah Sungai Indus, bersama Mesir Kuno dan Mesopotamia, tercatat merupakan 3 Peradaban Tertua yang pernah ada di dunia. Mengomentari ini, Wright mencatat: “The Indus civilisation is one of three in the ‘Ancient East’ that, along with Mesopotamia and Pharaonic Egypt, was a cradle of early civilisation in the Old World. Mesopotamia and Egypt were longer lived, but coexisted with Indus civilisation during its florescence between 2600 and 1900 B.C. Of the three, the Indus was the most expansive, extending from today’s northeast Afghanistan to Pakistan and India.”[3]Peradaban Lembah Sungai Indus, membentang dan menjadi sumber penghidupan yang kaya di setiap musim yang menghidupi daerah-daerah di sekelilingnya.[4]

Peradaban Lembah Sungai Indus. Sumber: Jane  McIntosh (2008). The Ancient Indus Valley:  New Perspectives

                Baru di sekitar abad ke 8 M, kata Hinduisme atau Hindu mulai mengandung maknanya sebagai agama. Joseph T. O’ Connell, dalam kajiannya atas 13 Teks Kuno yang ditulis dari mulai pertengahan abad ke- 16 hingga pertengahan abad ke-18; 3 teks tersebut berbahasakan Sansekerta, sementara 10 teks lainnya berbahasakan Bengali.  Dalam kajinnya O’ Connell  mendapati 48 kata ‘Hindu’ dalam teks-teks kuno tersebut, yang menunjukkan pemaknaan ‘Hindu’ sebagai identitas keagamaan, atau sebagai seseorang yang ‘beragama Hindu’. Identitas tersebut bermula ketika pertemuan Umat Islam dan Hindu berlangsung di abad ke 8; tepatnya ketika Islamisasi wilayah India tersebut berlangsung. Umat Islam, menurut pembacaan O’ Connell, disebut oleh masyarakat Lembah Sungai Indus sebagai ‘Muslim’ atau ‘Musulman’, juga sebagai ‘Yavana’ (Orang Asing) atau ‘Mlecca’ (Orang Barbar). [5] Gavin Flood, dalam analisanya lebih lanjut, mengafirmasi realitas bahwa menurut teks-teks tersebut, masyarakat  Sungai Indus memiliki sejumlah praktik komunal seperti kremasi orang mati, pemujaan Sapi, dan lain sebagainya yang tidak dilakukan oleh Umat Islam.[6] Praktik dan Ritual Keagamaan itulah, yang kemudian dalam perkembangannya menjadi Agama Hindu atau Hinduisme yang kita kenal belakangan ini.

Penelitian O’Connell dalam Journal of the American Society 93.3 (1973)

Terkait Kata Hinduisme: Seri Kajian Hinduisme

                Sejarah kata Hinduisme juga dianalisa oleh Wendy Doniger dalam On Hinduism, yang menyatakan bahwa ritual keagamaan Masyarakat Lembah Sungai Indus telah berlangsung sangat jauh sebelum mereka menyebut mereka sebagai seorang Hindu, hingga kemudian semakin menguat di era Kolonial Britania Raya di abad 18. Mari kita simak pernyataan Doniger sebagaimana berikut:

                “…And the people who share these texts –Ramayana, Mahabharata, did have ways of referring to themselves long before they called themselves ‘Hindu’. The term ‘Hindu’ was coined in opposition to other religions, but this self-definition through otherness began centuries before there was contact with Europeans (or, indeed, with Muslims) …” [7]

Baca Juga: Karmapala Sistem Takdir dalam Hinduisme

Ini artinya, umat yang membaca Kitab Suci Ramayana dan Mahabharata memiliki pandangan hidupnya sendiri bahkan sebelum mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai seorang ‘Hindu’. Pendapat Doniger juga sesuai dengan  penelitian O’Connell bahwa istilah Hindu tersebut muncul pertama kali sebagai bentuk respon atas pertemuan masyarakat Lembah Sungai Indus dengan Komunitas Agama lain, khususnya adalah Umat Islam dan Bangsa Eropa lainnya. Adapun untuk konteks pertemuan dengan Bangsa Eropa itu terlebih merujuk kepada penjajahan Kolonialis Britania Raya yang menyebut ‘orang-orang Hindustan’ sebagai masyarakat penduduk daerah tersebut. Masyarakat ini, lagi-lagi, memiliki variasi kepercayaan, praktik, sekte, dan tradisi yang luas jauh sebelum definisi ‘Hindu’ atau ‘Hinduism’ itu lahir.[8]

Adalah Raja Ram Mohan Roy (1772-1833), Pendiri dari Gerakan Brahmo Sabha yang merupakan gerakan pembaharuan keagamaan di India. Ram Mohan Roy mendapatkan gelar ‘Raja’ dari Akbar Shah II (1760-1837), Kaisar Mughal. Dalam konteks Bahasa Inggris, Raja Mohan Roy adalah yang menambahkan akhiran ‘ism’ pada Hindu’ pertama kali. Istilah ini kemudian diadaptasi secara luas selama abad ke-19 guna merealisasikan identitas kebangsaan guna melawan Kolonialisme dan pembentukan tradisi keagamaan yang mampu menyeimbangi Kristen sebagai basis agama Kolonial.[9] Upaya penguatan Identitas keagamaan Hindu sebagai basis perlawanan atas Pemerintah Kolonial juga dikerahkan oleh Dayananda Saraswati (1824-1883), Swami Vivekananda (1863-1902), dan Mohandas K. Gandhi (1869-1948).[10] Bersambung…


Referensi:

[1] Vergilius Ferm, ed., An Encyclopedia of Religion (New York: Philosophical Library, 1945), 336.

[2] Rita P. Wright, The Ancient Indus: Urbanism, Economy, and Society (Cambridge: Cambridge University Press, 2009), 1.

[3] P. Wright, 1.

[4] L. Giosan et al., “Fluvial Landscapes of the Harappan Civilization,” Proceedings of the National Academy of Sciences 109, no. 26 (June 26, 2012): E1688–94, https://doi.org/10.1073/pnas.1112743109.

[5] Joseph T. O’Connell, “The Word ‘Hindu’ in Gaudiya Vaisnava Texts,” Journal of the American Oriental Society 93, no. 3 (1973): 340–44.

[6] Gavin Flood, The Blackwell Companion to Hinduism (Oxford: Blackwell Publishing, 2003), 3.

[7] Wendy Doniger, On Hinduism (Oxford ; New York: Oxford University Press, 2014), 5.

[8] Upinder Singh, A History of Ancient and Early Medieval India: From the Stone Age to the 12th Century (New Delhi ; Upper Saddle River, NJ: Pearson Education, 2008), 433.

[9] Flood, The Blackwell Companion to Hinduism, 3.

[10] “… The same transformation can be seen in the Hindu context, where Orientalist presuppositions about the ‘spirituality’ of India, etc., were used by reformers such as Rammohun Roy, Dayananda Saraswati, Swami Vivekananda and Mohandas K. Gandhi in the development of an anti-colonial Hindu nationalism…”
Richard King, Orientalism and Religion: Postcolonial Theory, India and “the Mystic East” (London: Routledge, 2001), 86.

*Referensi bisa didownload di sini.