Siti Hajar Modern

Siti Hajar Modern

Siti Hajar Modern

Jum’at, 10 Dzulhijjah 1441 H yang bertepatan dengan 31 Juli 2020. Seluruh umat Islam di berbagai belahan dunia menjalankan ibadah shalat Idul Adha dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban. Meskipun ditengah situasi pandemi covid- 19 dan pelaksanaan shalat Idul Adha dilaksanakan tidak seperti biasanya, namun mayoritas umat Islam tetap dapat melaksanakan ibadah kurban dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Berbicara mengenai Idul Adha dan kurban, perlu dikaji kembali hikmah dari dua peristiwa besar tersebut. Nabi Ibrahim selaku ayah dari Ismail sekaligus suami dari Siti Hajar telah mengukir sejarah, bagaimana perjalan panjangnya melewati ujian terberat dalam hidupnya. Ujian ini sekaligus menjadi pembelajaran bagi umat manusia seluruhnya hingga diabadikan dalam al-Qur’an sebagai nama salah satu Surah, yakni surah Ibrahim.

Ilustrasi

Melalui mimpi, Ibrahim diperintahkan untuk menempatkan istrinya, Siti Hajar dan anaknya, Ismail dilembah tandus yang tidak ada kehidupan sebelumnya. Tempat yang dimaksud adalah Makkah. Tujuan dipilihnya tempat tersebut adalah agar anak keturunan Nabi Ibrahim tidak ikut menyembah berhala seperti ditempat kediaman sebelumnya. Selain itu, juga karena Ibrahim ingin mendirikan rumah ibadah khusus untuk beribadah kepada Allah tanpa ada berhala yang mengotorinya.[1]Jelas, hal ini lantaran tempat tersebut tidak pernah dijamah manusia dizamannya.

Lihat juga: Gema Adzan dari Hagia Sophia

Hingga tiba waktunya, Ibrahim pun mengajak istri dan anaknya pergi ketempat yang dimaksud. Siti Hajar yang masih menggendong Ismail kecilnya hanya mengikuti langkah suaminya tersebut. Setelah sampai pada tujuannya, Nabi Ibrahim pun segera dan bergegas meninggalkan Siti Hajar dan Ismail.

Melihat hal ini, Siti Hajar yang masih terkejut, berlari mengejar Ibrahim dan berteriak dengan lantang, “wahai Nabi Allah, mengapa engkau tega meninggalkan kami ditempat yang tidak ada kehidupan sebelumnya?” Ibrahim tidak memperdulikan tangisan Siti Hajar dan tetap melangkah pergi menjauh. Hingga akhirnya, teriakan Siti Hajar mampu membuat alam tercengang, “Apakah Tuhanmu yang memerintahkan ini?”.

Teriakan tersebut mampu menggertarkan alam dan menghentikan langkah Ibrahim. Ibrahim berbalik sebentar dan dengan tegas mengatakan “Ya, ini adalah perintah Tuhan”. Dengan sabar, Siti Hajar pun menjawab, “pergilah, maka Tuhan tidak akan membiarkan kami”. Jawaban ini cukup membuat Ibrahim tenang dan pergi menjauh dari tempat tersebut.[2]

Cobaan selanjutnya, datang kepada Siti Hajar. Tatkala anaknya, Ismail menangis kehausan dan air susunya telah mengering, Siti Hajar bingung karena tidak ada makanan yang ia miliki untuk menghentikan tangis Ismail. Hajar pun berlari dari bukit satu ke bukit yang lain[3] demi mencari air. Ia berlari sambil menangis khawatir.

Peristiwa diatas diabadikan dalam surah al-Baqarah: 158 (Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi’ar (agama Allah), maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak dosa baginya mengerjakan sa’i antara keduanya. Dan barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka Allah Maha Mensyukuri Maha Mengetahui).

Lihat Juga: GONTOR SAMBUT HARI RAYA IDUL ADHA DENGAN MALAM PERINGATAN DAN TAKBIRAN

Siti Hajar yang sudah kelelahan, hanya bisa pasrah menanti pertolongan dari Allah. Maka tak lama setelah itu, datanglah pertolongan Allah dengan mengutus malaikat Jibril mengepakkan sayapnya disekitar kaki Ismail. Dari sanalah muncul mata air. Siti Hajar pun mengambil air tersebut dan meminumkannya kepada Ismail.[4]

Ilustrasi

Cerita ini menggambarkan bahwa usaha manusia pasti dilihat Allah. Kendati pengingkaran manusia sangatlah riskan, namun iman kepada Allah mengalahkan hal tersebut. Siti Hajar dengan perasaan gelisah dan dalam keadaan lemah tetap berusaha mencari air untuk anaknya, Ismail. Sosok perempuan kuat yang digambarkan Siti Hajar menjadi pelajaran bersama bagi muslimah modern saat ini. Maka, sangatlah tepat jika wanita modern memiliki tanggung jawab yang besar. Terlebih untuk menjadi Siti Hajar modern yang mampu mendidik generasi muda. Wallahua’lam bi shawab.

Penulis: Rachmah Intan Muslimah dan Nur Afifah Ramadhanty/ Editor: Azzamul Azhar


[1]Hamka, Tafsir Al-Azhar, Jilid 5, 111.

[2]Tidak lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkan istri dan anaknya, ia berdoa. Doanya telah diabadikan dalam al-Qur’an surah Ibrahim: 37.

[3]Berjalan dan berlari-lari kecil tujuh kali antara shafa dan marwah, yang sampai saat ini termasuk rukun haji ketika melakukan ibadah haji dan umrah.

[4]Republika, “Sejarah Makkah Berawal dari Perempuan ini, EdisiAgustus 2020,6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *