Tri Dharma Dalam Sejarah Indonesia

sinkretisme-tri-dharma-indonesia-kong-hu-chu-saa-unida-gontor-ushuluddin

Tri Dharma dalam Sejarah Indonesia oleh: Nur Sabila/ Mahasiswi Prodi SAA Semester III

Indonesia dengan keberagamannya memang patut diacungi jempol. Pasalnya, negara seribu pulau ini mempunyai lebih dari 740 suku dengan perbedaan adat-istiadat dan agamanya bisa hidup rukun satu sama lain. Bahkan, tidaklah jarang jika kita temukan dua tempat ibadah berada beriiringan dan bersampingan. Di antara keunikan itu adalah Tempat Ibadah yang merupakan persatuan 3 agama turunan dari China atau biasa di sebut Agama Tri Dharma atau Three Tree Hings.

Asal dan Perkembangan Tri Dharma

            Dilihat dari asal agama ini, memang tidak semuanya berasal dari China atau Tiong Hoa. Agama Buddha yang kita ketahui berasal dari india ini ternyata telah memasuki bagian Asia Tengah pada tahun 147 SM. Seorang Bhikku pada tahun itu menetap di daerah loyang pada dinasti Han yang menerjemahkan sastra-sastra agama buddha ke dalam bahasa China. Buddhisme yang awalnya dianggap mustahil perlahan mulai diterima oleh masyarakat Tiong Hoa. Ini tidak lain karena ajaran dalam Agama Buddha dirasa memiliki kesamaan budaya dengan agama Tiong Hoa yang lain (Taoisme dan Kong Hu Chu) yaitu bahwa agama ini mengajarkan bagaimana menjadi sebaik-baiknya manusia. Maka jadilah agama Buddha dianggap sebagai agama etnis Tiong Hoa.

            Persatuan Agama ini lahir karena melihat Misionaris Kristen yang ingin menjadikan umat Buddha keturunan Tiong Hoa berpindah agama. Di samping itu, Kwee Tek Hoay, seorang Kong Hu Chu Keturunan Tiong Hoa berpendapat bahwa yayasan Khong Kauw Hwee yang berdiri di solo pada tahun 1918 keluar dari orientasinya yaitu kesejahteraan masyarakat[1]. Sehingga, gelagat kristenisasi diyakini akan sangat mempengaruhi keberlanjutan 3 agama ini yaitu Taoisme, Buddha, dan Kong Hu Chu.

Terkait Tri Dharma Baca Juga Klenteng Ampenan Po Hwa Kong

Berbeda dengan Buddha, Taoisme dan Kong Hu Chu kala itu belum diakui oleh pemerintah Indonesia hingga akhirnya pembesar ketiga agama yang dipimpin oleh Kwee Tek Hoay mengadakan perkumpulan yang di kenal sebagai Majlis Tri Dharma untuk membahas kelanjutan 3 agama keturunan china ini dan terbentuklah Sam Kauw Hwee alias Perkumpulan 3 Agama pada tahun 1934. Seiring berkembangnya zaman, nama ini berubah menjadi Gabungan Sam Kauw Indonesia dan terakhir menjadi Gabungan Tridharma Indonesia(GTI) yang resmi berdiri pada tahun 1952 dan diresmikan oleh Mentri Kehakiman RI No. JA 5/31/13[2].

            Berdirinya Sam Kauw Hwee sendiri sangat berarti bagi penganut Taoisme dan Kong Hu Chu untuk keberadaannya di Indonesia. Pada masa orde baru 1998, presiden Soeharto melarang segala aktivitas kecina-an dalam bentuk apapun[3]. Klenteng-Klenteng pada saat itu dilarang, dan seluruh kebudayaan yang berasal dari china secara publik di hapuskan karena dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Namun, keberadaan agama Tri Dharma ini memang mengalami pasang surut. Ketika masa Gus Dur atau KH.Abdurrahman Wahid, agama dan kebudayaan China diperbolehkan kembali ada dan tersebar di Indonesia. Bahkan, Agama Kong Hu Chu pada tahun 2000 di akui oleh negara sebagai agama resmi di Indonesia[4]. Inilah yang menjadikan Gus Dur dihormati oleh kalangan China di Indonesia bahkan fotonya akan selalu kita lihat di klenteng-klenteng. Sehingga, saat ini agama yang belum resmi berdiri di Indonesia hanyalah Taoismedan ia masih menginduk pada agama Tridharma sebagai pelindungnya.

Baca Juga: Taoisme di Thailand

Konsep Keagamaan Tri Dharma

Seperti halnya agama kebanyakan, Tri Dharma juga memiliki konsep atau rumusan teologi yang mengatur konsep ketuhanan dan tata cara kehidupan. Buddha, Taoisme, dan Kong Hu Chu memiliki Tuhannya masing-masing. Jika dilihat dari sifat ketuhanan, maka sebenarnya tuhan ketiga agama ini memiliki konsep yang sama tetapi jelas ini tidak bisa disamakan atau sesuai dengan kepercayaannya masing-masing. Padanan yang lima adalah teori penyamaan antara tiga agama China yang karenanya dirasa memiliki kesamaan konsep teologi[5]:

Taoisme Konfusianisme Buddhisme
Five Phrases (Panca Bhuta/Lima Elemen/Ngo Heng) Five Virtues (Panca Utama/Lima Utama/Ngo Sang) Five Precepts (Panca Sila/Lima Sila/Ngo Kai)
Wood (Mu/Bok/Kayu) Benevolence (Ren/Jin/Cinta Kasih) No Killing (Tidak Membunuh)
Metal (Cin/Kim/Logam) Righteousness (I/Yi/Kebenaran) No Stealing (Tidak Mencuri)
Fire (Huo/Hwe/Api) Propriety (Li/Lee/Susila) No Sexual Misconduct (Tidak Berzinah)
Water (Sui/Cui/Air) Wisdom (Che/Ti/Kebijaksanaan) No Intoxicants (Tidak Mabuk-mabukan)
Earth (Tu/To/Tanah) Fidelity (Xin/Sin/Dapat Dipercaya) No False Speech (Tidak Berdusta)

            Dari berbagai penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa Tridharma jelas bukanlah suatu agama. Melainkan sebuah naungan dari 3 agama etnis China untuk melangsungkan keberadaannya di Indonesia. Sebuah usaha yang memang patut diakui karena kegigihan para pembesarnya terutama Bapak Tridharma Indonesia yaitu Kwee Tek Hoay. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)


Catatan Kaki:

[1]Sri Susanti, Teologi Buddha Tridharma, (Riau: Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, 2014), 22.

[2]Yayasan Dewi Sakti, Sejarah Tridharma, (Pekanbaru: Cetakan Pertama, 2013), 15.

[3]Tsuda Koji, Sistematika “Agama Tionghoa” Tantangan yang dihadapi oleh Organisasi-organisasi “Tiga-Ajaran” Kontemporer di Indonesia, Terj. Ratna Tri Lestari Tjondro, (Germany: DORISEA, 2015), 2.

[4]Ibad MN, Bapak Tionghoa Indonesia, (Yogyakarta: LkiS, 2012), 81-82.

[5]Tsuda Koji, op. cit, 7.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *