You are currently viewing Ulama dan Rasa Takut kepada Allah

Ulama dan Rasa Takut kepada Allah

Ulama dan Rasa Takut kepada Allah

SIMAN- Sabtu (23/1), Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor melaksanakan kembali Pertemuan Dwipekanan bersama seluruh Dosen dan Tenaga Pendidikan UNIDA Gontor. Acara yang dilaksanakan di Hall Lantai 4 UNIDA Gontor ini dipimpin langsung oleh jajaran Rektorat UNIDA Gontor dan melalui protokol kesehatan ketat.

Acara dimulai dengan wejangan dari Rektor UNIDA Gontor, Al-Ustadz Assoc. Prof. Hamid Fahmy, Zarkasyi. Beliau menekankan sejumlah hal prinsipil terkait model Ulama yang tidak hanya Intelek sebagai ciri khas dosen UNIDA Gontor. Tidak kamagra 100 mg hanya itu, Ustadz Hamid juga menekankan wajibnya seluruh sivitas akademika UNIDA Gontor untuk tetap istiqamah dalam menjalankan amanah TRIMURTI.

“Kita jangan sampai melupakan ide besar mereka Trimurti, kita bahkan akan mendapatkan pahala yang sama dengan mereka kalau kita meneruskan cita-cita dengan apa yang kita kerjakan sekarang dengan rutinitas, kompleksitas, kerumitan yang ada.” Demikian Beliau menjelaskan.

Baca Juga Nasehat Assoc. Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi tentang Ulama

Petuah selanjutnya disampaikan oleh Bapak Warek I UNIDA Gontor, al-Ustadz Dr. Hafidz Zaid. Ahli bidang Bahasa Arab ini menyampaikan spesifikasi Ulama dalam tafsiran al-Qur’an Surat Fathir ayat 28 berdasarkan Hadith Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘alayhi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibn Mas’ud, kemudian ditambahkan keterangan dari Sufyan al-Thauri, Alim dari Khurasan yang wafat pada 778 M/ 161 H. Ayat itu berbunyi sebagai berikut:

﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ﴾ [فاطر:28].

Menurut Dr. Hafidz, ayat dari Surat Fathir tersebut menunjukkan bahwa memang identitas orang yang berilmu adalah memiliki rasa takut kepada Allah. “Ayat ini bermakna bahwa tidak ada yang takut kepada Allah kecuali Ulama. Ulama dalam Bahasa Arab bukan berarti Ulama fiddin (ilmu agama) saja, tapi ilmuwan, saintis, dan lain sebagainya.” Demikian beliau menjelaskan.

Baca Juga Sejarah Umat Muslim di Thailand

Sementara hadithnya riwayat Ibn Mas’ud yang dikutip adalah:

«ليس العلم عن كثرة الحديث، ولكن العلم عن كثرة الخشية»

Dr. Hafidz menyampaikan bahwa hadith ini berisi ajaran tentang orang yang berilmu itu bukan orang yang banyak menghapalkan hadith, menghafal al-Qur’an, atau menguasai suatu bidang keilmuan, namun yang paling takut kepada Allah azza wa jalla. “Semakin tidak takut, semakin tidak berilmu.” Demikian beliau menjelaskan.

Di akhir, beliau mengutip kalam Sufyan al-Thauri.

قال سفيان الثوري عن أبي حيان التيمي عن رجل قال: كان يقال العلماء ثلاثة : عالم بالله عالم بأمر الله ، وعالم بالله ليس بعالم بأمر الله ، وعالم بأمر الله ليس بعالم بالله . فالعالم بالله وبأمر الله : الذي يخشى الله تعالى ويعلم الحدود والفرائض ، والعالم بالله ليس بعالم بأمر الله : الذي يخشى الله ولا يعلم الحدود ولا الفرائض . والعالم بأمر الله ليس العالم بالله : الذي يعلم الحدود والفرائض ولا يخشى الله عز وجل ” انتهى من تفسير ابن كثير

Dalam penjelasan Dr. Hafidz, Orang yang Alim fi amriddin adalah orang yang tahu huddulLah (batas-batas yang diberikan Allah) wa FaraidhulLah (kewajiban yang ditetapkan Allah), tentang Islam. Sementara dua tingkatan yang lain adalah yang hanya memahami amrulLah (urusan Allah) saja, atau memahami Allah saja.

“Maka di sini, Asatidz dan Ustadzat sekalian, kita memang berbeda fakultas, berbeda prodi, namun tujuannya mestinya hanya satu, hanyalah al-‘ilm bilLah wa khasyatillah (memahami Allah dan takut kepada-Nya). Kata kuncinya adalah apakah saya semakin dekat kepada Allah? Jika semakin jauh, maka saya bukan tipe Ulama. Saya bukan tipe Ilmuwan. Karena tipikal Ulama adalah yang takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala.(Reporter: Asep Awaludin/ Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)