Vihara Buddhagaya Watugong

vihara-buddhagaya-dhammapada-studi-akademik-semarang

Semarang- Senin (27/01) Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin Universitas Darussalam Gontor melaksakan Studi Akademik (SA) di Kota Semarang. Objek yang dituju pertama kali adalah Vihara Buddhagaya Watugong untuk mempelajari lebih lanjut tentang Buddhisme sekaligus kultur keagamaan di Vihara Buddhagaya Watugong.

Bapak Warto selaku petugas Vihara menyambut dan menyampaikan sejumlah pesan terkait tentang Buddhisme. Seperti contohnya tentang konsep alam. Konsep alam (kosmos) dalam Buddhisme dibagi menjadi 31 jenis, sementara manusia hanya berada di tingkatan ke lima di mana di tingkat paling atas adalah Nirvana.

Menurut pak Warto juga, agama Buddha tidak pernah memaksa siapapun untuk masuk agama Buddha atau menjadi seorang Buddhis. Hal ini dikarenakan dalam agama Buddha, setiap agama memiliki jalan kebenarannya sendiri-sendiri. “Inti ajaran Buddha adalah jangan berbuat jahat, namun kita juga dituntut untuk menambah kebaikan, bersihkan hati dan pikiran.” Demikian pak Warto menjelaskan.

Lihat Juga: Kunjungan Studi Akademik ke Vihara Dhammadipa Arama

Setelah berkeliling di lantai 1, rombongan naik ke lantai 2, di mana ruangan ini digunakan khusus untuk ritual peribadatan dan juga meditasi. Beliau menjelaskan tentang gambaran umum ibadah umat Buddha, diantaranya: 1) Dalam agama Buddha, terdapat dua waktu khusus dalam ritual kesehariannya, yaitu ketika bangun tidur dan sebelum tidur. 2) nama Buddha selalu ada dalam setiap tarikan nafas umat buddha. Artinya, di setiap detiknya, umat Buddhis selalu diharapkan mengingat Buddha dalam panduan berbuat kebajikan sehari-sehari. Meditasi, juga merupakan cara untuk berlepas dari dukka atau ikatan duniawi dalam pandangan Buddha.

Rombongan kemudian berangkat menuju Pagoda Avalokitesvara yang merupakan tempat peribadatan umat Buddha. Di dalam Pagoda, dapat kita dapati patung perwujudan Dewi Kwan In yang merupakan Dewi dalam kepercayaan Buddhisme.

Di akhir, Pak Warto menyampaikan pesan ” agama itu harusnya mempererat, bukan menyekat.” Acara ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari kedua belah pihak.(Thoriq/ Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *