Worldview Islam: Sebuah Pengantar

worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor

Worldview Islam: Sebuah Pengantar (Catatan Perkuliahan Bersama Assoc Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi M. Ed, M. Phil)

Oleh: Alvin Qodri Lazuardy S.Ag Wisudawan Prodi Studi Agama Agama Tahun 2018

Sebelum memasuki pembahasan tentang worldview Islam, alangkah baiknya memulai pembahan ini dengan beberapa pertanyaan agar memberi kemudahan dan pembatasan dalam pembahasan kali ini. apa definisi worldview, bagaimana proses worldview itu lahir, apa definisi Islam, apa definisi worldview Islam dan bagaimana proses worldview Islam itu lahir. Dari beberapa pertanyaan diatas sudah memberikan sedikit gambaran apa yang akan dibahas berikut ini.

Dalam pembahasan penulis akan menguraikan satu  persatu disetiap variabel judul yaitu worldview dan Islam serta bagaimana kedua variabel itu lahir kemudian disatukan dalam satu kalimat worldview Islam.

Assoc-prof-hamid-fahmy-zarkasyi-worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor
Assoc. Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi

Worldview Sebagai Pandangan Hidup

Worldview dalam kata lain yaitu weltanschauung/weltanzincht (bahasa Jerman) yang berarti pandangan Hidup. Worldview dalam Islam memiliki dimensi makna sepadang dengan Al-mabda’ Al-Islamiy, atau at-tashawwur al-Islamiy, atau  ru’yatu-l-Islamiy, atau bahkan nazharaat al-Islamiyyah. Berdasarkan terminologi-terminologi tersebut, dapat kita pahami secara bahasa nampaknya Worldview merujuk kepada sebuah sistem pandangan hidup.

Menurut Ninian Smart, Worldview adalah kepercayaan, perasaan dan apa-apa yang terdapat dalam pikiran orang yang berfungsi sebagai motor bagi keberlangsungan dan perubahan sosial dan moral[1]. Worldview, jadinya adalah segala sesuatu di dalam diri manusia yang difungsikan sebagai penggerak atau pengendali dalam kehidupan mereka dalam berbagai aspeknya. Maka inti worldview, menurut Smart bertitik tumpu pada kekuatan manusia dalam merespon, menerima dan mengaplikasikan potensi dalam dirinya untuk difungsikan sebagai motor kehidupan. Dalam definisi yang dipaparkan Ninian Smart tidak menampakkan unsur metafisis dalam definisi Worldview tetapi lebih condong pada unsur humanis.

worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor-ninian-smart-worldviews

Baca Juga: Worldview Islam dalam Ekologi

Definsi yang hampir sama dikemukaan oleh Thomas F Wall. Menurutnya, Worldview adalah sistem kepercayaan dasar yang integral tentang diri kita, realitas, serta pengertian eksistensi[2]. Dari pengertian ini dapat dianalisa bahwa Worldview masih dalam spektrum manusia secara lahiriyah atau masih terbatas dalam skala empiris belum masuk dalam skala metafisis.

Menurut Ilmuwan Turki Prof. Alparslan Acikgenc definisi Islam adalah asas bagi setiap perilaku manusia, termasuk aktifitas-aktifitas ilmiah dan teknologi. Setiap aktifitas manusia, faktanya, dapat dilacak berasalkan pandangan hidupnya. Berdasarkan pendapat ini, Islam ialah asas dari setiap manusia yang terakumulasi dari kumpulan aktivitas-aktivitas saintifik yang kemudian direduksi menjadi suatu sistem pandangan hidup.[3]

Jika kita cermati lebih jauh, nampaknya Alparslan Acikgence menjelaskan definisi worldview lebih luas, berbeda dengan Thomas F. Wall dan Ninian Smart. Implikasi teori worldview dalam pandangan Alparslan adalah visi tentang realitas dan kebenaran sebagai kesatuan mental yang bersifat arsitektonik dan berperan sebagai asas yang tidak teramati bagi semua perilaku manusia.[5] Worldview yang dipaparkan oleh Alparslan ialah pengertian yang tepat karena ia memadukan antara realitas dan kebenaran; dimana jika kita cermati definisi-definisi sebelumnya tidak mencantumkan kebenaran kecuali potensi-potensi yang dirasakan manusia.

worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor-alparslan-acikgenk-photo
Prof. Dr. Alparslan Acikgenk

Mengenal Worldview Islam

            Setelah memaparkan beberapa definisi diatas, penulis akan sedikit mengupas asal mula Worldview ini lahir. Worldview dapat kita lihat berawal dari teory Descrates yaitu Extended Substance dan Rational Substance yang dari keduanya datang selanjutnya dua turunan yaitu Empirisme dari Extended Substance; dan Rasionalisme turunan dari Rational Substance. Dari Empirisme lahir kebenaran yang objektif dengan sesuai dengan objek riset di lapangan atau ‘kontekstual’; sementara Rasionalisme melahirkan kebenaran yang subjektif yang berdasarkan riset kepustakaan atau ‘tekstual’. Dari beberapa turunan diatas, ada dua riset yang berbeda yaitu riset lapangan dan riset kepustakaan yang jika digabungkan keduanya, lahirlah “Worldview”.

Lihat Artikel: Aplikasi Worldview Islam dalam Panca Jiwa Pondok Modern Gontor

Bagaimana Worldview dalam Islam? Definisi Worldview Islam dapat dirujuk dari definisi-definisi sejumlah tokoh. Di antaranya, adalah Al-Mawdudi. Al-Mawdudi mendefinisikan Islam sebagai sebuah sistem Pandangan hidup dimulai dari konsep keesaan Tuhan Asy-syahadah yang berimplikasi pada keseluruhan kegiatan kehidupan di dunia. Dari pendapat al-Maududi ini, dapat dijabarkan secara luas yaitu Islam berawal dari Syahadah persaksian dengan hati kemudian diikrarkan dengan lisan selanjutnya diaplikasikan dalam totalitas kehidupan seperti berdagang, hubungan sosial, menuntut Ilmu, mengerjakan rukun Islam, rukun Iman, bekerja, menikah dll, itu semua adalah aplikasi kehidupan beragam yang bermula dari satu konsep yaitu Asy-syahadah.

Menurut Atif al-Zayn pandangan hidup islam adalah Aqidah Fikriyyah. Aqidah Fikriyyah, artinya adalah kepercayaan yang berdasarkan pada akal, yang daripadanya lahir suatu sistem. Secara konseptual, Aqidah fikriyyah yang dimaksud disini adalah Iman Syahadah yang dibebankan kepada seorang muslim aqil-baligh kemudian dari Iman dan Syahadah tersebut setelah keluarlah sistem-sistem seperti; politik Islam, tradisi keilmuan dalam Islam, ekonomi Islam, tradisi filsafat Islam. Definisi worldview di sini adalah sebuah totalitas kehidupan yang melingkari aktifitas muslim.

Sayyid Qutb, di lain sisi mempunyai pandangan bahwa  Islam adalah akumulasi keyakinan asasi yang terbentuk dalam pikiran dan hati setiap Muslim yang memberi gambaran tentang wujud dan apa-apa dibalik itu.  Pendapat Sayyid Qutb diatas, jika diuraikan telah menggabungkan antara dimensi akal dan Iman; di mana keduanya berfungsi untuk membaca tentang realitas atau wujud yang tidak hanya merujuk kepada sesuatu yang tampak namun juga merujuk pada unsur yang bersifat metafisik atau yang tidak terlihat. Dalam praktiknya, seorang muslim ketika akan bekerja untuk mencari harta megawali aktifitas tersebut dengan doa kepada Allah dan menggantungkan seluruh hasilnya kepada Allah, dari contoh tersebut terjadi komunikasi antara jasad yang melakukan sesuatu yang bisa dilihat tetapi jasad tersebut diiringi dengan sesuatu yang metafisik yaitu doa dan penyerahan diri kepada Allah.

worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor-syed-muhammad-naquib-al-attas
Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas

Argumen Sayyid Qutb di atas juga telah ditegaskan oleh Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas bahwa  Islam adalah pandangan tentang realitas dan kebenaran yang menjelaskan tentang hakekat wujud. ” …is then the vision of reality and truth that appears before the mind’s eye revealing what existence is all about; for it is the world of experience in its totality that Islam is projecting. [6]

Argumentasi Syed Naquib al-Attas hampir sama seperti Said Qutb bahwa pandangan Islam itu ada dua dimensi, dimensi fisik dan metafisik. Diawali dengan realitas kemudian dilanjutkan dengan kebenaran untuk sampai pada makna hakekat wujud. Lalu apakah hakekat wujud itu?, hakekat wujud adalah sesuatu yang nampak dan sesuatu yang tidak nampak.

Dari sejumlah penjabaran diatas, Penulis mencoba mengkonklusikan definisi bahwa Worldview dalam Islam adalah berawal dari mabda’ asy-syahadah kemudian menjadi aqidah fikriyyah yang terpadu dalam Iman dan akal. Paduan ini kemudian diaplikasikan dalam sebuah totalitas kehidupan seorang muslim sebagai sebuah proyeksi atas realitas dan kebenaran.

Proses Lahirnya Worldview Islam

            Kelahiran worldview bukanlah secara tiba-tiba tetapi kelahirannya melewati proses yang panjang melalui beberapa aktifitas-aktifitas. Aktifitas tersebut diantaranya adalah aktifitas agama, budaya, kultur, tradisi, kepercayaan dll, ada juga yang terlahir melalui aktifitas Ilmiah. Dari aktifitas agama, budaya, kultur, tradisi, kepercyaan maka lahirlah Worldview Natural. Dari aktivitas ilmiah inilah lahir pandangan hidup saintifik yang diklaim sebagai Worldview Barat; yang dalam perkembagnanya menjadi quasi saintifik sebagai embrio utama yang akan menjadi worldview Islam. Dari hasil santifik dan quasi saintifik kedua hasil ini disebut worldview transparen.

            Setelah mengetahui proses terjadinya worldview transparen maka alangkah baiknya penulis membandingkan proses yang lebih detail antara Proses lahirnya Worldview Barat dan Worldview Islam. Worldview Islam diawali dari turunnya wahyu yang disampaikan kepada Nabi melalui perantara Malaikat, kemudian wahyu tersebut disebarkan kepada Manusia. Berdasarkan wahyu tersebut manusia membuat bangunan struktur Kelimuan dilanjutkanlah struktur tersebut dengan aktifitas ilmiah dan melahirkan ilmuwan, lalu ilmuwan tersebut memberikan mekanisme penyebaran ilmu dari ilmu-ilmu yang masih umum itu kemudian diklasifikasi menjadi beberapa disiplin ilmu dan konsep-konsep dasar maka tersebarlah Ilmu tersebut kemudian menyatu menjadi worldview Islam.

Baca: Worldview Islam dalam Studi Agama

worldview-islam-saa-studi-agama-agama-unida-gontor-prolegomena-to-the-metaphysics-of-islam

            Worldview barat berawal dari saintifik yang membentuk suatu komunitas keilmuan lalu terbangunlah struktur keilmuan kemudian terbentuk mekanisme keilmuan dari mekanisme tersebut tersebarlah beberapa ilmu-ilmu dasar kemudian diklasifikasi agar lebih mudah, dari beberapa rentetan tersebut maka lahirlah worldview barat.

            Jika melihat secara seksama dari kedua proses diatas dapat dianalisa bahwa asal mula kedua worldview diatas sudah berbeda secara asalnya; di mana worldview Barat berawal dari komunitas ilmuwan sementara worldview Islam berawal dari Wahyu atau pesan Tuhan maka hasilnya pun akan berbeda. Perbedaan yang sangat mencolok dari kedua proses tersebut adalah worldview barat bercorak santifik yang bersifat empiris, sementara worldview Islam bersifat empiris dan metafisis karena worldview Islam mencakup kedua unsur ketuhanan dan kemanusiaan sedangkan dalam Worldview Barat hanya mencakup unsur kemanusiaan tanpa ketuhanan.

Kesimpulan

 Worldview Islam adalah cara pandang seorang Muslim mencakup aspek batin dan aspek jasad secara menyeluruh atas realitas dan kebenaran. Ia melingkupi aspek yang terlihat (fisik) maupun tak terlihat (metafisik), sedangkan worldview barat hanya berkutat didalam sesuatu yang bersifat manusiawi dan materi (fisik) semata. (Editor: Abdullah Muslich Rizal Maulana)


Catatan Kaki

[1] Ninian Smart, Worldview, Crosscultural Explorations of Human Belief, Charles Sribner’s sons, New York, n.d. 1-2

[2] Thomas F Wall, Thinking Critically About Philosophical Problem,  A Modern Introduction, Wadsworth, Thomson Learning, Australia, 2001, 532.

[3] Alparslan Acikgence,  Islamic Science, Towards  Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996, 29.

[4] Alparslan Acikgence,  Islamic Science, Towards  Definition, Kuala Lumpur, ISTAC 1996, 29.

[5] Alparslan Acikgence, “The Framework for A history of Islamic Philosophy”, Al-Shajarah, Journal of The International Institute of Islamic Thought and Civlization, (ISTAC, 1996, vol.1. Nos. 1&2, 6.

[6] Syed Muhammad Naquib al-Attas, Prolegomena to the Metaphysics of Islam (Kuala Lumpur: ISTAC, 1995),1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *